Selasa, 18 Jun 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Features

Warga Bimorejo Manfaatkan Aliran Waduk Bajulmati Jadi Ladang Kangkung

10 Januari 2019, 07: 10: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

PANEN GRATIS: Beberapa warga memanen kangkung yang tumbuh subur di sungai yang ada di Dusun Bimo, Desa Bimorejo, Kecamatan Wongsorejo.

PANEN GRATIS: Beberapa warga memanen kangkung yang tumbuh subur di sungai yang ada di Dusun Bimo, Desa Bimorejo, Kecamatan Wongsorejo. (Fredy Rizki/RaBa)

Sungai besar yang berada di Dusun Bimo, Desa Bimorejo, Kecamatan Wongsorejo, tampak dipenuhi tanaman kangkung. Rupanya tanaman ini sengaja ditanam dan hasilnya dimanfaatkan warga untuk dijual kembali.

FREDY RIZKI, Wongsorejo

HAMPARAN tanaman berwarna hijau terlihat menyesaki sungai yang berada di Dusun Bimo, Desa Bimorejo, Kecamatan Wongsorejo, siang itu. Sungai yang menjadi lanjutan aliran dari Waduk Bajulmati tersebut, sekilas seperti tengah dikepung tanaman enceng gondok.

Akan tetapi saat dilihat lebih saksama, rupanya tanaman yang tumbuh subur tersebut adalah kangkung. Tanaman bernama Latin Ipomoea aquatica Forsk itu memenuhi sekitar 30 meter dari panjang sungai yang ada. Beberapa orang terlihat turun ke tengah sungai untuk memilih dan memetik kangkung yang masih segar. Dengan menggunakan sabit kecil, mereka memisahkan kangkung dari akar yang menggenggam erat dasar sungai.

Kondisi sungai yang dangkal membuat para pencari kangkung terlihat mudah memilih bagian-bagian kangkung yang dianggap paling segar. Mereka bisa berpindah dari satu titik ke titik lain dengan mudah tanpa takut tenggelam. Kangkung yang sudah dipetik kemudian dikumpulkan di pinggir sungai sebelum kemudian dibawa ke atas sepeda motor.

Kangkung yang sudah dipetik ini rupanya tak hanya menjadi bahan konsumsi bagi warga, tapi juga menjadi barang dagangan. Karena itu, terlihat banyak yang mengambil kangkung dalam jumlah besar.

Arsati, 65, salah seorang warga Dusun Bimo, Desa Bimorejo mengatakan, kangkung yang ditanam ini awalnya hanya untuk konsumsi pribadi saja. Sebab, kebetulan rumahnya berada tak jauh dari sungai. Namun, setelah sekitar dua bulan ditanam, jumlah kangkung yang ada di sungai semakin merajalela. Hingga tanaman kangkung tampak memenuhi seluruh bagian sungai. ”Ya, saya yang menanam. Awalnya saya beli cuma Rp 2.500 satu ikat. Bagian-bagian yang masih muda dan ada akarnya, saya sebar ke sungai dan jadi banyak,” ujarnya.

Melihat semakin banyak kangkung yang tumbuh, beberapa tetangga Arsati dan warga lainnya kemudian ikut mengambil sayur yang tumbuh banyak tersebut. Arsati pun membiarkan mereka ikut mengambil karena memang tanaman kangkung sudah tumbuh cukup banyak. Selain dikonsumsi sendiri, setiap hari nenek enam cucu itu juga menjual beberapa ikat kangkung. ”Kalau saya mengambil sekuatnya saja. Kadang ditolong anak untuk membawa kangkung. Satu ikat saya jual Rp 700. Sehari paling banyak ya jual 20 sampai 25 ikat. Sekuatnya saja,” ujarnya.

Arsati menambahkan, saat panen memang terlihat ada banyak warga yang mengambil kangkung. Sebab, warga harus kejar-mengejar dengan banjir. Jika sudah terjadi banjir, seluruh tanaman kangkung yang ada akan habis terbawa air. Maka dari itu, ketika masih belum banjir warga terlihat begitu bersemangat memanen kangkung. ”Ini kalau belum banjir saja, bisa dipanen. Kalau sudah banjir pasti habis. Jadi tidak ada lagi yang bisa diambil,” ungkap wanita bertubuh kecil itu.

Asiyah, 45, salah seorang warga lainnya yang mencari kangkung menambahkan, keberadaan kangkung yang tumbuh subur ini menjadi tambahan pemasukan bagi dirinya. Biasanya kangkung yang didapatnya dijual di Pasar Bajulmati. ”Kadang ada yang mengambil ke rumah, orang Peracangan. Ya lumayan buat tambah bumbu dapur,” tandasnya.

(bw/fre/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia