Sabtu, 23 Mar 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Politik & Pemerintahan

Angkutan Umum Bandara Banyuwangi Mengenaskan

08 Januari 2019, 12: 00: 59 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

ANTAR JEMPUT: Kendaraan pribadi keluar dari Bandara Banyuwangi sore kemarin.

ANTAR JEMPUT: Kendaraan pribadi keluar dari Bandara Banyuwangi sore kemarin. (SHULHAN HADI/JAWAPOS.COM)

BLIMBINGSARI – Setelah kabar pemberhentian sementara jadwal penerbangan Batik Air, kondisi angkutan umum di Bandara Banyuwangi juga kurang baik. Damri yang melayani angkutan umum dari Bandara Banyuwangi kondisinya kembang kempis.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi, armada bus Damri siang kemarin tidak beroperasi di bandara karena minim penumpang. Namun, informasi yang dihimpun dari petugas Dinas Perhubungan Banyuwangi, Ribut –yang bertugas di Bandara Banyuwangi– mengungkapkan, peminat bus Damri memang masih sangat minim. Bahkan, beberapa hari lalu penumpang hanya terisi satu orang.   

Dengan kondisi seperti ini Damri tetap melayani untuk mengantar ke tujuan. Jika dihitung untung rugi, tentu penumpang yang kurang memenuhi kuota tidak mendatangkan untung tetapi justru menyebabkan pengeluaran BBM. ”Kemarin satu orang, ya dilayani,” ujarnya.

Ribut menuturkan, pengguna jasa penerbangan di Bandara Banyuwangi sebagian besar dijemput dan diantar mobil pribadi. Jika tidak demikian, kebanyakan dari mereka menggunakan kendaraan dari agen perjalanan. ”Kalau gak dijemput ya diantar,” terangnya.

Menurutnya, sebenarnya armada Damri ini banyak memiliki kelebihan. Salah satunya harga tiket yang cukup murah. Tidak hanya itu, untuk rombongan  penggunaan armada Damri sangat bisa untuk menekan pengeluaran. ”Kalau rombongan ini ya murah,” tegasnya.

Hal tersebut dibenarkan pengemudi awak Bus Damri. Hermanto, pengemudi bus mengungkapkan, penumpang Damri masih minim. Beberapa kali hanya berisi satu penumpang. Padahal, jika dihitung dari biaya operasional setiap kali perjalanan dari bandara menuju tujuan memerlukan BBM senilai Rp 100 ribu. Dengan demikian, jika harga tiket Rp 25 ribu, setidaknya harus ada empat penumpang. ”Satu rate itu kita kesulitan penumpang,” ucapnya.

Sementara itu, di kalangan pengemudi sopir taksi, keberadaan penumpang pesawat memang tidak serta-merta meningkatkan penumpang taksi. Irwan Dwi, Ketua Pengemudi Taksi Online yang beroperasi di area luar bandara mengungkapkan, penumpang pesawat sebenarnya stabil. Namun, untuk keluar dari bandara sebagian besar memang dijemput keluarga. ”Mereka bawa mobil pribadi dan Hiace,” terangnya.

Sedangkan untuk pihaknya saat ini belum bisa standby di dalam area bandara. Sehingga, penumpang yang masuk ke mobil mereka merupakan sisa dari penumpang taksi di bandara. Sementara itu, untuk jumlah taksi saja saat ini ada empat wadah, mulai dari Ramayana, Bosowa, Bumdes Blimbingsari, dan Primkop TNI AL. Sehingga peluang menggaet penumpang cukup ketat. ”Taksi masing-masing wadah ada 10 armada, ya banyak,” ungkapnya. (*)

(bw/sli/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia