Rabu, 27 Mar 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Features
Kisah Korban Tsunami Pancer 1994

Dalang Wayang Selamat Setelah Memanjat Pohon Kelapa

07 Januari 2019, 08: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Simulasi tsunami di Pantai Pancer, Banyuwangi, justru membuat warga setempat tak kuasa menahan tangis mengenang peristiwa yang mereka alami pada 1994 silam.

Simulasi tsunami di Pantai Pancer, Banyuwangi, justru membuat warga setempat tak kuasa menahan tangis mengenang peristiwa yang mereka alami pada 1994 silam. (DEDY JUMHARDIYANTO/RABA)

Peringatan tsunami akibat gempa Chile Rabu malam lalu (2/4) menyebabkan warga pesisir Pulau Merah dan Pantai Pancer panik. Mereka panik karena teringat bencana tsunami yang pernah terjadi 2 Juni 1994 silam. Apalagi, bencana 20 tahun lalu dan prediksi tsunami kemarin sama-sama terjadi pada malam Jumat Pon.

SHULHAN HADI, Pesanggaran

PERINGATAN siaga dampak gempa Chili direspons biasa saja oleh warga Bumi Blambangan umumnya. Namun, tidak demikian bagi warga pantai Pulau Merah dan Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi.

Meski sudah dijelaskan pemerintah setempat bahwa tsunami diprediksi itu hanya setinggi 0,5 meter, tapi warga Pancer masih trauma. Ingatan mereka langsung tertuju pada tsunami yang terjadi 29 tahun silam. Kenangan buruk bencana itu masih membekas di  ingatan warga Dusun Pancer dan sekitarnya.

Meski berbeda bulan, tapi weton atau hari pasaran kejadian dua dasawarsa silam itu sama dengan dampak gempa Chili, yakni malam Jumat Pon.

Rangga, warga Dusun Pancer mengakui, imbauan yang dikeluarkan pemerintah Rabu malam itu membuatnya panik. Dengan sigap, dia membawa seluruh anggota keluarganya mengungsi. Dia masih ingat kejadian yang dialaminya saat masih menjadi ibu dua anak.

Apalagi, suasana sore itu hampir menyamai suasana malam sebelum kejadian yang memilukan itu terjadi di tahun 1994 silam. Suasana sepi dan senyap terasa sejak sore menjelang malam. “Kemarin suasananya terasa agak sintru (angker),” ujarnya.

Seraya memohon keselamatan kepada sang pencipta dia bergegas menuju Balai Desa Sumberagung bersama warga lain. Dengan tergopoh-gopoh dia optimistis tsunami tidak akan melanda kampung halamannya malam itu. “Saya hanya berpikir, masak akan dikasih dua kali,” tuturnya.

Hingga kini setiap kali ada mobil yang mengangkut es untuk ikan, Rangga sering teringat kejadian memilukan 20 tahun silam. Menurutnya, suara gemuruh ombak gelombang tsunami menghajar Pantai Pancer 20 tahun silam itu mirip suara mobil pengangkut es ikan. “Setiap ada mobil saya sering teringat,” katanya.

Tsunami 1994 itu memang menyisakan duka bagi semua warga pesisir Pancer. Yuli, misalnya. Saat itu dia harus merelakan neneknya pergi untuk selamanya. Dia masih mengingat kejadian yang dialami saat masih duduk di bangku SMP itu. “Kejadiannya sangat cepat, saat warga banyak yang terlelap tidur,” tuturnya.

Saking dahsyatnya gempuran ombak malam itu, selain kerugian material, korban jiwa akibat kejadian itu cukup banyak, yakni 299 jiwa.

Kendati demikian, tidak semua korban tsunami 1994 mengalami trauma yang sama. Harsono, misalnya. Pria yang kini sudah menjadi ayah satu anak itu justru tidak mengungsi saat pemerintah memerintahkan warga siaga.

Harsono tidak mengungsi karena dia tinggal di dataran yang agak tinggi. Posisi rumahnya di sebelah Masjid Baitul Falah yang cukup tinggi. “Kalau saya yakin tidak sampai ke rumah. Saya yakin selamat,” ujarnya.

Harsono bukan tidak menjadi korban tragedi 1994. Saat itu Harsono masih tinggal di pesisir Pulau Merah, tepatnya di sebelah Batu Moro Seneng. Batu Moro Seneng merupakan batu laut yang terempas ke daratan saat tsunami 1994 silam. Dia juga merasakan betapa dahsyatnya gelombang itu menghantam dan menghancurkan rumahnya. “Saat itu ada gemuruh. Tak lama berselang, gelombang menghantam,” kenangnya.

Sementara itu, Sumiyatun, warga Dusun Pancer, saat terjadi tsunami 20 tahun silam tidak mengungsi. Namun, saat ada peringatan waspada Rabu malam lalu dia malah mengungsi. Sumiyatun merupakan istri Iriyanto alias Bagong, warga Pulau Merah. Saat bencana terjadi 20 tahun silam, Bagong menganggap wayang kulit menjadi penyebabnya. Wayang kulit yang menjadi buah bibir banyak orang.

Konon, banyak orang mengaitkan tsunami itu dengan lakon wayang yang ditanggap Bagong. Ditemui di rumahnya, cerita sebenarnya pun terungkap. Menurut pengakuan Bagong, dirinya menanggap wayang kulit dengan dalang Ki Subari dalam rangka khitanan cucunya. Saat itu, cerita yang dilakonkan adalah “Bangun Bale Pangrawit”.

Saat tsunami terjadi, Bagong sedang menghitung uang bersama istrinya. Saat air pasang itu datang, dirinya tidak tahu. Dia mengira orang di luar rumah tengah tawuran. Dia hanya kaget saat lantai rumahnya menyemburkan air. “Saya tidak tahu. Saya cuma kaget air muncul tiba-tiba dari lantai,” kenangnya.

Kemudian, dia melihat keadaan di luar. Dia ingat, ketinggian air saat itu sekitar satu meter. Akibat panik, dalang menyelamatkan diri dengan cara memanjat pohon kelapa. “Saat itu ki dalang memanjat pohon kelapa,” ungkap Bagong.

Saat imbauan peringatan potensi tsunami kemarin disiarkan, Bagong tidak mengungsi. Dia beralasan, di sekitar Pantai Pancer dan Pantai Pulau Merah kini ada alat pengirim sinyal peringatan dini bahaya tsunami. “Saya telepon kantor (tambang emas BSI). Penjelasan mereka, saya paham potensi tsunami yang akan datang,” tuturnya.

Atas kejadian kemarin, dia berharap kewaspadaan masyarakat semakin tinggi. Selain itu, dia berharap masyarakat paham apa yang harus dilakukan saat menghadapi bencana.

TUGU: Prasasti bencana gelombang tsunami 1994 di dekat Pantai Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi.

TUGU: Prasasti bencana gelombang tsunami 1994 di dekat Pantai Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi. (DEDY JUMHARDIYANTO/RABA)

(bw/sli/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia