Minggu, 16 Jun 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Kolom

Memahami Bahasa Alam

Oleh: KH Toha Muntoha

28 Desember 2018, 17: 45: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Memahami Bahasa Alam

Momentum Baiat Aqobah kedua dijadikan starting point oleh kaum muslimin untuk berbondong-bondong hijrah ke Madinah hingga tinggal tersisa Nabi SAW, Abu Bakar, Ali, dan beberapa sahabat lainnya di Makkah.

Gelombang besar hijrah ini dicium oleh kafir Quraisy sebagai ancaman masa datang karena bisa jadi kaum muslimin akan menjadikan Yatsrib yang kemudian berganti nama menjadi Madinah digunakan sebagai pusat kekuatan yang mengganggu otoritas mereka.

Atas pertimbangan inilah parlemen Quraisy (Darun Nadwa) memutuskan untuk melenyapkan Muhammad SAW dengan memobilisasi pemuda dari masing-masing kabilah untuk mengepung dan mengeksekusi Muhammad di malam hari. Pada saat yang sama Allah menurunkan wahyu yang mengizinkan Nabi SAW hijrah ke Madinah dengan memerintahkan Ali bin Abi Thalib RA untuk menjadi ”stuntman” dengan tidur di ranjangnya, lalu keluar menuju rumah Abu Bakar yang akan menemani untuk hijrah.

Bertepatan dengan tanggal 12 Desember 622 Masehi, Nabi SAW menuju tempat transit dan tinggal selama tiga hari di sebuah gua di Gunung Tsur yang setelah Nabi SAW berada di dalamnya pepohonan di mulut bagian atas gua membengkokkan dirinya untuk menutupi lubang gua.

Dari arah mulut gua bagian depan tiba-tiba pula sudah ada burung-burung merpati bertelur dan pura-pura mengerami. Pada saat bersamaan laba-laba sibuk bergotong-royong menganyam sarangnya menutupi pintu masuk gua sehingga strategi kamuflase dari langit ini menghilangkan kecurigaan musuh yang mengejar Nabi SAW.

Rangkaian keterlibatan alam pepohanan, burung, dan laba-laba dalam membantu menyelamatkan Nabi SAW adalah bukti bahwa alam beserta masing-masing penghuninya memiliki kemampuan berkomunikasi dengan bahasa khasnya. Fakta yang demikian terekam dalam QS Al Isra 44: ”Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah dan tidak suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka”.

Dalam suatu riwayat dari Abu Dzar RA, Nabi SAW duduk bersama Abu Bakar, Umar, dan Ustman. ”Ketika Nabi SAW mengambil kerikil sebanyak tujuh butir maka kerikil-kerikil itu bertasbih. Saya mendengar suaranya merintih lembut bagaikan suara lebah. Setelah diletakkan kembali maka kerikil-kerikil itu diam seperti semula, kemudian Nabi SAW meletakkan kerikil-kerikil itu ke tangan Abu Bakar maka kerikil- kerikil itu kembali bertasbih. Begitupun saat diletakkan di tangan Ustman” (HR al Haitsami).

Merespons keberadaan bahasa alam, sejumlah universitas di luar negeri membuka program studi ekolinguistik yang bersumber dari tulisan ”New Ways of Meaning A Challenge to Applied Linguistics” karya Michael Halliday yang menggunakan pendekatan analisis wacana ekokritis dan ekologi linguistik.

Fenomena tsunami Banten yang tidak didahului dengan gempa hingga wisatawan tetap asyik mengikuti gathering dengan hiburan band papan atas menjadi korban gulungan ombak adalah bukti pentingnya peningkatan pemahaman ekolinguistik bagi semua pihak.

Ikhtiar cerdas untuk bisa memahami bahasa alam bagi orang beriman adalah pendekatan maksimal kepada Sang Pencipta. ”Barang siapa yang mampu mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah SWT, maka ia dapat menggunakan mata Tuhan untuk melihat, telinga Tuhan untuk mendengar, dan mulut Tuhan untuk berbicara”.

Allahu a’lam. (*)

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia