Selasa, 10 Dec 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Banyuwangi
Bus Bali Radiance vs Tiara Mas di Ketapang

Sopir Ugal-ugalan di Watudodol Tewaskan Tiga Penumpang

Kedua Bus Terguling, 17 Orang Luka-Luka

28 Desember 2018, 17: 25: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

RINGSEK: Bodi depan dan samping bus Bali Radiance (kiri) maupun  Tiara Mas rusak parah. Kedua bus sarat muatan tersebut terlibat adu jangkrik  di sebelah selatan Hotel Baru Dua Beach pukul 23.45, Rabu (16/12).

RINGSEK: Bodi depan dan samping bus Bali Radiance (kiri) maupun Tiara Mas rusak parah. Kedua bus sarat muatan tersebut terlibat adu jangkrik di sebelah selatan Hotel Baru Dua Beach pukul 23.45, Rabu (16/12). (Ramada Kusuma/RaBa)

Share this          

KALIPURO – Jeritan tangis dan teriakan histeris terdengar pada Rabu malam kemarin (26/12). Bus Bali Radiance terlibat tabrakan dengan bus Tiara Mas di KM 13 arah Surabaya di Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro. Tiga penumpang bus meninggal dalam kecelakaan maut pukul 23.45 tersebut. Sementara, 17 penumpang mengalami luka-luka.

Kondisi kedua bus hancur. Bagian depan bus Bali Radiance nyaris tak berbentuk lagi. Kedua bus sempat terguling di jalan raya hingga memacetkan arus lalu lintas untuk beberapa jam. Serpihan kaca dan barang bawaan penumpang berserakan di jalan raya. 

Fatalnya lagi, ketika terguling, bus Bali Radiance langsung menghantam telak pohon besar yang berdiri di sebelah barat jalan. Sementara bus Tiara Mas, terguling di sebelah timur dengan kondisi yang sama-sama rusak berat. Praktis bagian sisi kanan tak berbentuk lagi. Kaca jendela pecah, bodinya penyok. Dua penumpang pun tergencet bodi bus hingga tewas.

Kecelakaan maut tersebut diduga akibat kecerobohan sopir bus Bali Radiance, Galih Sumantri, 37. Sejak keluar dari terminal Bungurasih, bus bernopol DK 9238 FC jurusan Surabaya-Denpasar melaju kencang. ”Sopirnya ugal-ugalan. Sering diingatkan penumpang, tetap melaju kencang,” ujar Mulyadi, 67, salah seorang penumpang bus Bali Radiance.

Pria asal Surabaya itu adalah satu dari 60 lebih penumpang bus Bali Radiance. Mulyadi yang bekerja sebagai tukang bangunan di Bali itu selamat karena duduk di bangku nomor 8 dari depan. Ketika bus dalam posisi terguling, Mulyadi sudah mengeluarkan palu dari tasnya. Palu tersebut tadinya hendak dihantamkan ke kaca supaya bisa keluar dari bus. ”Akhirnya saya bisa keluar lewat depan, tanpa harus memecah kaca jendela bus,” tuturnya.

Tanda-tanda bus hendak kecelakaan sudah dirasakan banyak penumpang. Ketika melewati jalan tol, bus melaju zig-zag. Bahkan, ketika sampai Pasuruan, bus yang disopiri warga Mergosono, Kecamatan Kedungkandang, Malang itu nyaris menyenggol mobil lain. ”Di Probolinggo ketika palang pintu kereta api baru saja dibuka, bus buru-buru masuk duluan. Padahal jalannya padat,” kata Mulyadi.

Penuturan serupa diungkapkan Rai Pastika, 66. Penumpang bus asal Badung, Bali itu merasa waswas selama naik bus. Pastika yang duduk nomor tiga dari depan itu mengaku tak bisa menikmati perjalanan dari Surabaya ke Denpasar karena sopirnya ugal-ugalan. ”Semua penumpang merasakan hal yang sama. Tak peduli di depan padat kendaraan, bus tetap saja melaju kencang,” kata pria yang mengaku pulang ke Badung setelah mengantarkan anaknya di Gresik.

Perasaan waswas penumpang akhirnya jadi kenyataan. Ketika melintas di sebelah selatan Hotel Baru Dua Beach, bus sarat muatan tersebut terlibat tabrakan dengan bus Tiara Mas nopol DK 9238 FC jurusan Surabaya-Denpasar.

Kecelakaan maut dua bus yang terjadi pukul 23.45 itu mengakibatkan 3 orang tewas dan belasan korban luka-luka. Tiga korban meninggal dunia terdiri dua laki-laki dan satu perempuan. Ketiga korban meninggal dunia yakni The Phik Hie, 70, warga Desa Padang Sampeyan, Denpasar Barat; Marwi, 41, warga Dusun Dowo, Desa Bareng, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, dan Ahmad Nizar Zulmi, 23, warga Dusun Ngingi, Desa Bareng, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro.

Galih Sumantri, sopir bus Bali Radiance mengaku jika dia mengemudi dengan kecepatan sedang. Saat itu dia hendak mendahului truk Fuso di depannya. Karena kondisi jalan raya sepi dia langsung ambil lajur kanan dan berhasil mendahului dengan kecepatan tinggi.

Sesampainya di lokasi kejadian tiba-tiba dari arah berlawanan melaju bus Tiara Mas. Karena jarak yang sudah terlalu dekat, dia tidak bisa menghindar dan memutuskan banting setir ke kanan hingga menabrak ban bagian belakang bus Tiara Mas dan terhenti setelah menabrak pohon yang berada di tepi jalan raya. ”Karena mendahului dan kosong pasti kecepatan ditambah,” ujar Galih Sumantri dengan tenangnya. 

Dia bahkan mengaku, saat melintas di jalan raya tol Surabaya dia mengemudi dengan kecepatan 100 kilometer per jam. ”Kalau di jalan raya umum tidak bisa, jalan rapet muatan berat pasti di bawah 100 kilometer per jam,”  terang Galih Sumantri yang sudah empat tahun menjadi sopir bus.

Yasin, 45, warga Tangerang salah seorang penumpang bus Tiara Mas mengaku, saat itu bus yang dinaikinya baru saja keluar dari pelabuhan ASDP Ketapang. Saat itu, dia sedang mendengarkan musik dari ponsel miliknya. Laju kendaraan juga dengan kecepatan pelan.

Sesampainya di lokasi kejadian, tepatnya di Selatan Hotel Baru Dua Beach Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro tiba-tiba dari arah berlawanan meluncur dengan kencang Bus Bali Radiance yang berada di lajur jalan sebelah kanan. Melihat kondisi tersebut, sopir bus Tiara Mas akhirnya langsung banting setir ke arah kanan. ”Saya lihat ada bus tiba-tiba muncul dari arah berlawanan sangat kencang berada di jalur jalan bus kami,” ungkap Yasin.

Begitu melihat ada bus dari arah berlawanan, sopir bus Tiara Mas langsung spontan banting setir ke kanan menghindari bus dari arah berlawanan. ”Allahuakbar... Allahuakbar... Saya pegangan kuat dan bus yang saya tumpangi miring dan langsung jatuh terguling,” kenang Yasin.

Saat bus miring dan terguling itu, Yasin mengaku masih dalam kondisi sadar dan tetap berdiri meski bus sudah dalam posisi  terguling. Namun demikian, pelipis kepalanya juga sempat terluka akibat terkena benturan dan serpihan benda tajam. Karena berlumuran darah itu, dia juga mendapat pertolongan dan dilarikan ke RSUD Blambangan. ”Jumlah penumpang ada sekitar 50-an orang, semua kursi penuh terisi,” imbuh Yasin.

Nuralim, 27, warga Bojonegoro salah seorang penumpang bus Tiara Mas juga mengungkapkan jika bus Bali Radiance mendadak muncul dari arah utara dengan kecepatan tinggi. Karena saling berhadap-hadapan, sopir bus yang ia tumpangi banting setir ke kanan karena bus di depannya mengambil jalur yang bukan jalurnya.

Karena jarak sudah dekat, bagian belakang bus yang ditumpangi ditabrak oleh bus Bali Radiance tersebut dan dia merasakan guncangan yang cukup keras hingga bus yang dia tumpangi terguling di tengah jalan. ”Teman saya (Marwi)  berada di dekat pintu belakang dekat toilet, kemungkinan dia terpental keluar dari dalam bus kemudian tergencet bus saat terguling,” jelasnya.

Dia bersama rombongan 12 orang yang semuanya berasal dari Desa Bareng, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro hendak pulang merayakan libur tahun baru di kampung halamannya setelah bekerja sebagai buruh bangunan proyek di salah satu hotel di Bali. ”Kami baru bekerja 10 hari di Bali dan pulang untuk tahun baruan di kampung,” katanya.

Nahas, saat perjalanan pulang itu dua orang teman sekampungnya Marwi, 41, dan Ahmad Nizar Zulmi, 23, justru menjadi korban kecelakaan maut dan meninggal dunia di lokasi kejadian. ”Kami tidak tahu harus bagaimana lagi,” ujarnya saat ditemui Jawa Pos Radar Banyuwangi di RSUD Blambangan.

Kapolres Banyuwangi AKBP Taufik Herdiansyah Zeinardi juga langsung turun ke lokasi kejadian dengan didampingi Kasatlantas AKP Prianggo Malau Parlindungan dan Kanitlaka Ipda Ardhi Bita Kumala. Menurut Kapolres, usai terjadi kecelakaan dia langsung berkoordinasi dengan pihak dan instansi terkait untuk segera melakukan evakuasi kedua bus yang terlibat kecelakaan.

Pasalnya, kedua bus melintang dan menutup akses jalan raya Situbondo-Banyuwangi. Belum lagi, ada dua korban meninggal dunia yang terjepit bodi bus Tiara Mas. ”Kita evakuasi orangnya dulu baru kemudian kita angkat bodi bus ke pinggir agar kendaraan arus lalu lintas bisa kembali dilewati. Karena kendaraan dari arah Situbondo yang akan ke Banyuwangi cukup padat,” ungkapnya.

Proses evakuasi bangkai bus yang terlibat kecelakaan membutuhkan waktu cukup lama. Pasalnya, untuk membuka akses jalur jalan raya petugas lebih dulu mengangkat bangkai bus dengan menggunakan alat berat crane. Petugas gabungan dari kepolisian dan Basarnas membutuhkan waktu sekitar 4,5 jam untuk mengevakuasi korban yang terjepit serta menarik bodi bus yang melintang di tengah jalan raya tersebut.

RINGSEK: Bodi depan dan samping bus Bali Radiance (kiri) maupun  Tiara Mas rusak parah. Kedua bus sarat muatan tersebut terlibat adu jangkrik  di sebelah selatan Hotel Baru Dua Beach pukul 23.45, Rabu

RINGSEK: Bodi depan dan samping bus Bali Radiance (kiri) maupun Tiara Mas rusak parah. Kedua bus sarat muatan tersebut terlibat adu jangkrik di sebelah selatan Hotel Baru Dua Beach pukul 23.45, Rabu (Ramada Kusuma/RaBa)

(bw/ddy/aif/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia