Rabu, 26 Jun 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Features

Amir Zharif, Guide Malaysia Ini Nenek Moyangnya dari Banyuwangi

28 Desember 2018, 07: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

AKRAB: Amir saat memandu rombongan tim penggerak PKK Banyuwangi beberapa waktu lalu.

AKRAB: Amir saat memandu rombongan tim penggerak PKK Banyuwangi beberapa waktu lalu. (AMIR ZHARIF for RABA)

Share this          

Dibukanya rute penerbangan langsung Banyuwangi-Kuala Lumpur mendapat sambutan baik dari banyak pihak. Berkunjung ke negara persemakmuran Inggris tersebut pun semakin mudah. Salah satu yang kecipratan berkah adalah Amir Zharif. Pemuda itu menjadi guide langganan orang Banyuwangi yang berlibur di Malaysia.

SHULHAN HADI, Kuala Lumpur

Nama Amir Zharif bin Mohd Zainal Abidin mungkin tidak asing lagi bagi warga Banyuwangi yang berkunjung ke Malaysia, baik untuk tujuan studi banding maupun wisata. Semua itu tidak lain karena Amir sering menjadi langganan untuk memandu perjalanan orang Banyuwangi ke Malaysia.

Lebih diuntungkan lagi, sejumlah pejabat Banyuwangi juga sering menggunakan jasanya. Mulai dari jajaran bupati hingga kepala sekolah dan mahasiswa yang hendak praktik. Keterlibatannya di dalam dunia pramuwisata ini bukan hal baru.

Sepak terjangnya dimulai sejak dirinya masih duduk di bangku SMA atau sekitar sepuluh tahun lalu.  Berawal ketika sang ayah memintanya membantu keluarga dari Banyuwangi yang sedang memiliki keperluan di Malaysia. Keluarga yang dimaksud sebenarnya juga bukan keluarga hubungan darah, melainkan warga Banyuwangi pada umumnya.

Semua warga Banyuwangi selalu disampaikan sebagai keluarga. Usut punya usut, hal ini karena buyut Amir ternyata memang masih keturunan orang Banyuwangi. ”Saya ini punya datuk di Banyuwangi,” terangnya.

Namun, komunikasi dengan keluarga di Banyuwangi ini kurang jelas. Maklum baik Amir maupun ayahnya lahir di Malaysia. Perpindahan dari Indonesia ke Malaysia terjadi saat masa perang dunia kedua. Proses pencarian pun pernah dia lakukan. Pada 2015 lalu, dia berkunjung ke Indonesia dengan tujuan mencari saudara yang terpisah puluhan tahun tersebut.

Dari hasil penelusuran, diperkirakan keluarga itu saat ini tinggal di daerah Blimbingsari, tepatnya di Sukojati. Namun, proses itu menemui jalan buntu. ”Daerahnya banyak pohon kelapanya,” ucapnya.

Belakangan, setelah dia bertemu dengan KH Hisyam Syafaat saat memandu bersama rombongan mantan pejabat asal Banyuwangi, diketahui keluarga nenek moyang Amir ini masih memiliki ikatan pernikahan dengan kerabat Kiai Hisyam Syafaat. Dari obrolan itu pula, muncul harapan baru keberadaan kakek moyangnya ini. ”Kiai Hisyam mau bantu cari lagi,” ujar Amir.

Dari situ, ikatan emosi Amir dengan orang Indonesia, khususnya Banyuwangi sangat erat. Dari sini pula, para wisatawan dengan berbagai latar belakang pernah dia tangani. Menjadi guide tentu berkaitan erat dengan pelayanan kepada seseorang. Baik pejabat maupun mahasiswa. Latar  belakang tamu tersebut menuntut model pelayanan berbeda pula. ”Kalau pejabat lebih protokoler,” ujarnya.

Mengawal perjalanan tamu tentu menjadi kepuasannya manakala di akhir perjalanan wisatawan mengaku puas dan nyaman. Pengalaman menarik pernah dialami saat memandu salah satu kepala dinas asal Indonesia.

Saat itu, dirinya baru menjemput rombongan di bandara. Seperti biasa terlebih dahulu mereka diajak untuk makan. Tak berselang lama, belum sampai sempat melihat sudut kota, pejabat tersebut sudah harus kembali ke Indonesia. Menurut Amir, kejadian itu sangat menarik baginya, bagaimana seorang pejabat harus mengutamakan tanggung jawab terhadap atasan. ”Baru sampai, dia dapat telepon atasan mau berjumpa sorenya,” ucapnya.

Dari pengalaman ini pula, Amir diam-diam menaruh perhatian terhadap Banyuwangi baik kepada karakter orangnya maupun budaya dan kemajuannya. ”Saya sangat terkesan kepada Pak Bupati Anas, dia sangat baik memimpin daerah,” tegasnya.

(bw/sli/aif/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia