Rabu, 22 May 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Features

Ini Kisah Perjuangan Dua Ibu Muda Meraih Kursi PNS Banyuwangi

19 Desember 2018, 06: 05: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

LEWAT JALUR CUMLAUDE: Ramadani menghadapi soal SKB di dalam mobil ambulans yang standby di halaman kantor BKD.

LEWAT JALUR CUMLAUDE: Ramadani menghadapi soal SKB di dalam mobil ambulans yang standby di halaman kantor BKD. (Sigit Hariyadi/RaBa)

Ini tentang ikhtiar. Tentang perjuangan anak manusia meraih kursi pegawai negeri sipil (PNS). Tak mudah, memang. Namun bagi Ramadani Fitria dan Yonika, layar telah berkembang, pantang diturunkan.

SIGIT HARIYADI, Banyuwangi

MOBIL ambulans parkir di halaman belakang kantor Badan Kepegawaian dan Diklat (BKD) Banyuwangi Selasa pagi (11/12). Agak ganjil. Ada kabel yang menjuntai keluar dari mobil layanan masyarakat milik Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyuwangi tersebut.

Pintu tengah samping kiri ambulans tersebut terbuka. Di dalamnya ada satu perempuan berbaju putih dan bawahan warna hitam tengah mengutak-atik laptop. Tak jauh dari pintu mobil ambulans yang terbuka terdapat dua laki-laki duduk di kursi lipat warna hitam. Dua laki-laki itu adalah petugas BKD Banyuwangi dan anggota tim asal Badan Kepegawaian Nasional (BKN) Kantor Regional (Kanreg) Surabaya.

Ya, kala itu perempuan yang belakangan diketahui bernama Ramadani Fitria, 29, tersebut tengah berjuang menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di lingkungan Pemkab Banyuwangi. Setelah berhasil lolos seleksi administrasi dan seleksi kompetensi dasar (SKD), dia menjalani seleksi babak akhir, yakni seleksi kompetensi bidang (SKB) yang digelar pada sesi pertama hari ketiga SKB pada Selasa pagi.

Perjuangan Ramadani menggapai kursi calon abdi negara, tepatnya pada formasi Auditor Ahli Pertama pada Inspektorat Pemkab Banyuwangi lewat jalur cumlaude tak bisa dibilang mudah. Betapa tidak, perempuan asal Jalan Argopuro Nomor 1, Kecamatan Ketapang, Kota Probolinggo, itu harus berkompetisi dengan puluhan peserta lain yang mendaftar pada formasi yang sama dalam kondisi yang tidak seratus persen fit.

Ya, Ramadani harus menjalani SKB hanya berselang dua hari pasca melahirkan dengan cara operasi caesar. Operasi tersebut dijalani di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Blambangan bertepatan dengan jadwal SKB yang harus dia jalani, yakni pada pukul 09.00 Minggu (9/12).

Awalnya Ramadani berangkat bersama sang suami, yakni Dany Dwi Kurniawan, 32, menaiki mobil pribadi dari pada Sabtu malam (8/12). Namun, begitu tiba di wilayah Banyuwangi Minggu dini hari, putri kedua dari tiga bersaudara anak pasangan Maksum dan Parsiniwati, itu mengalami kontraksi. Ketubannya pecah.

Karena itu, Dany langsung membawa sang istri ke RSUD Blambangan. Tindakan medis pun dilakukan. Ramadani menjalani operasi caesar. Hasilnya, anak keduanya lahir dengan selamat. ”Anak pertama kami juga lahir dengan cara operasi caesar,” ujar Dany saat menemani sang istri menjalani SKB di kantor BKD Banyuwangi.

Dikatakan, dokter sebenarnya memprediksi anak kedua Ramadani lahir pada 12 Desember. Namun, mungkin karena terlalu lelah, dia mengalami kontraksi sehingga operasi dilakukan pada Minggu lalu. ”Sebenarnya istri saya dijadwalkan menjalani SKB pada Minggu. Namun karena menjalani operasi, dia baru menjalani ujian hari ini (Selasa),” kata Dany.

Dany berharap, perjuangan sang istri mengikuti seleksi CPNS Pemkab Banyuwangi tahun ini berbuah manis. Namun demikian, kalau pun gagal, dia sangat menghargai jerih payah istri tercintanya itu. ”Yang penting sudah berjuang sebaik-baiknya. Tidak menyerah sebelum bertanding. Hasilnya kami serahkan pada Allah,” ungkapnya.

Usut punya usut, Ramadani datang ke kantor BKD dengan menumpang mobil ambulans tersebut. Mobil ambulans milik Pemkab Banyuwangi itu menjemputnya ke RSUD Blambangan. Begitu Ramadani selesai mengerjakan soal ujian, mobil tersebut langsung mengantarkan kembali perempuan tersebut ke RSUD untuk menjalani pemulihan pascaoperasi.

Sementara itu, perjuangan tidak jauh berbeda dijalani Yonika, 25, warga Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo. Dia mengikuti SKB yang digelar pada sesi pertama Selasa itu hanya selang tiga hari pasca melahirkan anak pertamanya secara normal.

Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai tenaga sukwan di SDN Sumber Asri 1, Kecamatan Purwoharjo, itu mendaftar CPNS formasi guru kelas ahli pertama SDN Ketapang 5, Kecamatan Kalipuro.

Berbeda dengan Ramadani yang menjalani ujian di dalam mobil ambulans, Yonika mengerjakan soal di ruang computer assisted test (CAT) kantor BKD Banyuwangi. Untuk menuju ruang ujian yang berlokasi di lantai dua kantor BKD, Jalan Agus Salim, Banyuwangi, itu Yonika dibantu sejumlah orang peserta lain.

Bahkan, setelah ujian sesi pertama berakhir, Kepala BKD Banyuwangi Nafiul Huda turun tangan langsung membantu Yonika menuruni anak tangga. ”Terima kasih, Pak,” ujar Yonika sembari tersenyum.

Sejurus kemudian, Yonika dibantu suaminya, yakni Bayu Prasetiyo menuju kursi yang berada di bawah pohon mangga di halaman belakang kantor BKD. ”Masih sakit, Mas. Saya istirahat dulu ya,” kata dia kepada sang suami.

Kepada wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi, Yonika mengaku optimistis bisa lolos sebagai PNS. Sebab, dia adalah satu-satunya pelamar pada formasi guru di SDN Ketapang 5 yang lolos SKD dan berhak menjalani seleksi tahap SKB. ”Mudah-mudahan ini rezeki anak saya, Aifazeella,” kata dia menyebut nama bayi perempuan yang dia lahirkan tiga hari sebelum mengikuti SKB.

(bw/sgt/aif/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia