Rabu, 19 Dec 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Features

Dulu Identik Kampung Perokok, Lingkungan Kempon Kini Jadi Taman Mini

04 Desember 2018, 09: 05: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

BIKIN KERASAN:  Anggota Karang Taruna Gagak Rimang berpose di sekitar lukisan yang memenuhi dinding permukiman warga RT 1 dan RT 2/ RW 1, Lingkungan Kempon, Kelurahan Panderejo.

BIKIN KERASAN: Anggota Karang Taruna Gagak Rimang berpose di sekitar lukisan yang memenuhi dinding permukiman warga RT 1 dan RT 2/ RW 1, Lingkungan Kempon, Kelurahan Panderejo. (Fredy Rizki/RaBa)

Predikat kampung rokok itu hilang dengan hadirnya lusikan-lukisan menarik di dinding tembok. Warga tak mau lagi membuang sampah sembarangan. Mereka kini hidup bersih. Dengan inovasi pemuda-pemuda setempat, predikat kampung rokok pun  hilang dengan sendirinya.  

FREDY RIZKI, Banyuwangi

LUKISAN kepala barong di sebuah gang kecil yang di Lingkungan Kempon, Kelurahan Panderejo seolah menyambut semua tamu yang datang. Gang yang mengarah turun sebelum memasuki permukiman itu semakin meriah dengan aneka lukisan yang menghiasi dinding rumah warga.

Ada yang bertemakan suasana hutan, hewan-hewan dan ada juga potongan dari lokasi eksotis yang ada di Indonesia. Tak hanya dipenuhi lukisan, permukiman yang terbilang padat itu juga tergolong rapi. Susunan tanaman dan kolam ikan berukuran mini seakan menjadi pelengkap keindahan lukisan yang digambarkan di rumah setiap penduduk.

Sesekali tampak satu dua orang wisatawan lokal berfoto di spot-spot lukisan yang terlihat menarik. Seperti gambar pria mirip Tarzan dan gambar tiga dimensi berupa telapak tangan raksasa yang seolah tengah menggerakkan boneka tali.

Ahmad Faruk, 50, ketua RT 1, RW 1, Lingkungan Kempon, Kelurahan Panderejo mengatakan, wajah kampung tersebut memang dirubah sedemikian rupa. Awalnya, gagasan untuk merubah wajah kampung itu diawali dari kondisi kampung yang dianggap kumuh.

Pada tahun 2015, kampungnya mendapatkan predikat kampung perokok dari Puskesmas Kertosari. Kemudian tahun 2016 kampungnya kembali lagi mendapat predikat sebagai kampung kumuh karena banyaknya sampah yang dibuang sembarangan.

Tak betah dengan predikat tersebut, Faruk pun mencoba meminta bantuan warga untuk membersihkan tempat tinggal mereka. Setiap ada rapat dan pengajian, dia selalu menitipkan pesan agar warga mau melakukan bersih-bersih. Tapi ternyata langkah tersebut tidak efektif. Sampai kemudian pada November tahun lalu, terbentuk Karang Taruna Lingkungan Kempon yang diberi nama Gagak Rimang.

Nah, lewat Karang Taruna inilah Faruk  mencoba meminta solusi untuk mengatasi masalah lingkungan yang terjadi ditempat tinggalnya tersebut. “Karang Taruna di sini sempat berulang kali pasang surut, yang kali ini kita lihat lebih solid. Anggotanya mulai anak SD sampai dewasa, karena melihat mereka solid saya pun meminta kepada mereka untuk ikut membantu lingkungan,” jelas  pria yang berprofesi sebagai security itu.

Mulai saat itulah, gerakan untuk merubah Lingkungan Kempon dijalankan oleh para pemuda dan anggota karang taruna. Diawali dari gerakan untuk membersihkan lingkungan dari sampah. Kemudian melakukan manajemen pembuangan sampah sehingga warga tidak perlu membuang sampah ke sungai atau tanah kosong lagi.

“Sistemnya kita minta iuran, kemudian nanti ada tukang sampah yang mengambil. Warga juga mulai ikut bersih-bersih karena anak-anak mereka juga kerja bakti,” terang Faruk.

Sekretaris Karang Taruna Gagak Rimang Kaempuan, Suryanto, 23 menambahkan, tidak mudah mengajak masyarakat untuk mengubah  kebiasaan mereka. Di awal perjalananya, dia kerap menghadapi penolakan. Masyarakat sangat pesimistis bisa mengubah kampung menjadi bersih karena telanjur mendapat stigma kampung kotor.

“Namanya juga babat alas pasti susah, apalagi ada golongan yang pro dan kontra.  Tapi kita tetap berusaha memberikan contoh. Kita awali dari anggota sendiri, kemudian banyak warga yang ikut-ikutan,” kata Suryanto.

Sebelum merambah ke lukisan, Suryanto bersama teman-teman Karang Taruna mengarahkan untuk membersihkan lingkungan lalu menghiasi dengan taman sesederhana apapun. Di tengah program itu, ada salah satu warga, Andreas Ragil yang mencoba membuat inovasi dengan membuat lukisan 3D berupa lubang di tengah gang.

Ada juga juga warga lainya yang bernama Osok membuat lukisan warna-warni di paving yang ada di salah satu gang. Melihat hasilnya yang bagus, Karang Taruna kemudian meminta para seniman itu untuk melukis beberapa dinding rumah dan dinding tak terpakai yang ada di permukiman.

Awalnya sama seperti gerakan bersih-bersih, banyak warga yang mencibir keberadaan gambar- gambar tersebut. Sampai kemudian banyak wisatawan yang datang, bahkan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas ikut mengambil foto, barulah warga menjadi melek.

Warga yang semula menolak akhirnya meminta agar rumah mereka juga dicat dan dilukis. “Kita mulai program ini sejak Februari 2018, mulai dari bersih-bersih sekitar tiga bulanan sampai kemudian membuat lukisan-lukisan di dinding warga. Alhamdulillah sekarang semuanya mendukung. Bahkan semua cat dan hiasan ini swadaya warga,” ungkap alumni Untag 1945 Banyuwangi itu.

Inovasi Karang Taruna yang menggunakan nama senjata Prabu Tawangalun itu tak berhenti di situ. Bersama warga mereka kemudian membuat sebuah kegiatan bazar. Bazar yang digelar setiap hari Minggu mulai pukul 15.00 sampai 21,00 itu menyajikan jajanan khas Banyuwangi dan karya lukis dari para warga.

Suryanto menjelaskan, Bazar itu digelar untuk ikut memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat. Selama ini wisatawan yang datang hanya berfoto saja tanpa memberikan dampak ekonomi. Dengan adanya bazar itu, warga semakin bersemangat.

Awalnya ada sekitar 17 pedagang saja yang berpartisipasi. Saat ini ada sekitar 44 orang dan seluruhnya adalah warga Lingkungan Kempon. “Kalau bazar buka, permukiman kita sterilkan. Tidak ada kendaraan, semua di parkir di luar. Jadi pembeli juga nyaman. Pembeli juga kita beri peta, jadi mereka tahu dimana lokasi penjual makanan ini dan itu,” terangnya.

Ketika bazar mulai ramai, warga semakin bersemangat membersihkan tempat tinggalnya. Bahkan,  ada tiga kandang ayam milik warga yang dulunya diletakkan sembarangan kini sudah disulap menjadi taman mini atau taman kecil yang dihiasi tanaman dan lukisan. “Kita juga mengadakan lomba kemarin, untuk taman terbaik. Masyarakat tetap semangat menjaga kebersihan. Tapi masih ada memang satu dua yang diam-diam masih membuang sampah ke sungai,” paparnya

Agus Turmudi, salah seorang warga Panderejo yang juga menjadi kreator dari lukisan-lukisan yang ada di kampung itu mengatakan, konsep aliran lukis yang digagas adalah impresif dan semi realis. Namun, karena ada banyak pelukis yang ikut membantu, akhirnya gambar yang ada terlihat menyesuaikan dengan lokasi yang ada.

Turmusi menambahkan,  setelah Kampung Lukis Kaempuan ramai didatangi orang, ada saja orang yang meminta untuk dilukiskan. Tak hanya dari lokal Indonesia, beberapa turis dari Amerika juga sempat minta dilukiskan. “Kalau Amerika saya tidak berani, tidak bisa ngomongnya. Mungkin kalau Asia saja mau. Tapi sementara saya fokus di sini, kemarin Desa Bareng, Kabat juga minta dilukiskan,” jelasnya.

Sekretaris Karang Taruna Suryanto menambahkan, dia berharap konsep kampung lukis bisa dikembangkan lebih luas. Tak hanya sebagai lokasi yang menyajikan lukisan saja, tapi bisa  menyediakan produk-produk lain dari lukisan yang bisa ditemukan orang di bekas kampung kumuh itu. “Visi kita awalnya hanya bersih saja, tapi untuk ke depan kita akan mengalir menyesuaikan diri dengan perkembangan. Yang penting terus ada program,” kata Suryanto.

Faruk, Ketua RT 1 menginginkan kampung padat penduduk itu bisa terus hidup dengan berbagai kegiatan. “Nanti mungkin kita akan buat vertical garden, kemudian memaksimalkan bazar. Kalau ada kegiatan terus, kita harap kebersihan tempat ini terus terjaga, tidak ada lagi predikat kampung kumuh,” tandasnya.

(bw/fre/aif/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia