Senin, 27 May 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Genteng

Begini Modus Karyawan SPBU Muncar Jual Premium Jeriken

04 Desember 2018, 06: 05: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

WAJIB LAPOR: Dua karyawan SPBU bersama jeriken berisi premium yang hendak dijual kepada warga.

WAJIB LAPOR: Dua karyawan SPBU bersama jeriken berisi premium yang hendak dijual kepada warga. (Dedy Jumhardiyanto/RaBa)

MUNCAR  – Lima oknum karyawan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Muncar diciduk anggota Satreskrim Polres Banyuwangi. Mereka berurusan dengan polisi lantaran ulah ”nakalnya” yang memperjualbelikan premium bersubsidi.

Kelima oknum karyawan SPBU itu adalah Endik, 42, Supriyanto, 63, Tri Lestari, 33, dan Nizar, 43. Keempatnya warga Desa Kedungringin, Kecamatan Muncar. Satu oknum karyawan SPBU lainnya yakni Edi Susanto, 35 warga Dusun Sidomulyo, Desa Sumberberas Kecamatan Muncar. Sementara satu pelaku lainnya adalah Sugiyono, 35 warga Dusun Kalimati, Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar.

Pengungkapan kasus penyalahgunaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi itu bermula dari laporan warga. Untuk mengungkap kasus itulah, anggo Resmobi melakukan penyelidikan.

Pada Jumat (30/11) pukul 21.00, Resmob  mendapati salah seorang pelaku yang juga oknum karyawan SPBU, Endik sedang mengangkut tiga buah jeriken berisi 30 liter keluar dari SPBU Desa Kedungringin dengan mengendarai motor Honda Vario.

Anggota polisi langsung membuntuti Endik dari belakang hingga berhenti di suatu tempat di Dusun/Desa Kedungringin untuk menjumpai temannya, Ismail, yang juga membawa tiga jeriken dengan kapasitas isi 30liter. ”Setelah berhenti anggota kemudian memeriksa isi jeriken tersebut ternyata berisi BBM jenis premium,” ungkap Kasat Reskrim  AKP Panji Pratistha Wijaya.

Dari keduanya polisi mendapati ada enam jeriken masing-masing kapasitas isi 30 liter. Dari situlah, polisi kemudian melakukan pengembangan dengan menginterogasi Endi dan Ismail. Pengakuan keduanya menyebut sejumlah nama yang juga melakukan kegiatan serupa. Mereka adalah Supriyanto, Teri Lestari, Nizar, Edi Susanto, dan Sugiyono.

Dari terlapor Supriyanto diamankan 16 jeriken berisi 30 liter premium dari Tri Lestari juga diamankan BBM jenis premium sebanyak 3 jeriken isi 30 liter, 3 jeriken berisi 20 liter dan 1 jeriken berisi 25 liter. Sementara dari Nizar diamankan BBM jenis premium sebanyak 2 jeriken berisi 30 liter, Edi Susanto diamankan 5 jeriken kapasitas 30 liter berisi premium, dan dari Sugiyono 60 liter premium yang diwadahi 2 jeriken.

Berdasarkan keterangan dari para terlapor, mereka mengambil BBM tersebut dengan mengisikan BBM premium bersubsidi pada saat jam kerja. ”Jadi ketika SPBU sedang sepi pembeli dan pada waktu malam setelah SPBU tutup mereka ini mengisikan BBM jenis premium bersubdisi ke dalam jeriken. Kemudian disembunyikan di area sekitar SPBU dan baru dibawa pulang pada saat situasi SPBU sepi,” jelas Panji.

Para terlapor tersebut membeli BBM premium bersubsidi tersebut seharga Rp 7.000 per liter. Kemudian mereka menjual kembali seharga Rp 7.800 per liter. Satu jeriken isi 30 liter, mereka bisa meraup keuntungan hingga Rp. 20 ribu.  “Mereka menjual lagi kepada pedagang eceran. Jadi sistem pembayarannya, jika pengambilan BBM pada pagi hari maka langsung dibayar tunai saat itu juga, Tapi jika pengambilannya pada malam hari setelah SPBU tutup, maka pembayaran baru dilakukan keesokan harinya,” cetus Panji.

Para pelaku akan dijerat tentang penyalahgunaan BBM bersubsisi sebagaimana dimaksud dalam pasal 53 huruf b, c, dan d Undang-Undang No 22 tahun 2001 tentang minyak dan gas bumi, dan atau pasal 106 No 7 tahun 2014 tentang perdagangan. ”Sementara para terlapor masih kami kenakan wajib lapor. Kami juga tengah mendalami, kemungkinan adanya penjualan BBM bersubsidi ini untuk kepentingan industri atau yang lain,” tandasnya.

(bw/ddy/aif/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia