Selasa, 18 Dec 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Features

Kisah Dua Pemuda yang Terpapar HIV: Semua Berawal dari Ajakan Makan

02 Desember 2018, 06: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

PENGAKUAN: Ciko saat berbincang dengan Jawa Pos Radar Banyuwangi di sebuah rumah makan

PENGAKUAN: Ciko saat berbincang dengan Jawa Pos Radar Banyuwangi di sebuah rumah makan (Shulhan Hadi/RaBa)

Penularan HIV/AIDS di Banyuwangi tergolong tinggi. Sebarannya meliputi kalangan tua hingga yang muda. Bagaimana mereka menyikapi hidup dengan kondisi ini? Berikut testimoni dua pemuda yang terjangkit HIV.

SHULHAN HADI, Banyuwangi

Benang merah penularan HIV/AIDS tampaknya sudah dipicu ketika seseorang masih duduk di bangku sekolah atau bahkan lebih dini lagi. Rata-rata mereka tertular HIV dari aktivitas hubungan seksual yang dilakukan sejak dini.

Jawa Pos Radar Banyuwangi kemarin mendengarkan testimoni dengan dua Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Usia keduanya masih relatif muda. Saya janjian di pusat layanan kesehatan di Banyuwangi. Pertemuan kami bersamaan dengan lalu-lalang warga yang hendak pergi salat Jumat. Saya ditemani seorang relawan HIV/AIDS bersepakat melanjut obrolan setelah menunaikan salat Jumat.

Siang itu, obrolan kami benar-benar bebas dan akrab, namun penuh dengan aturan. Dua pemuda ODHA kemarin terpaut usia enam tahun. Cebi (nama samaran, Red) berusia 17 tahun dan hanya menamatkan pendidikan sampai SMP. ODHA berikutnya Ciko, berusia 23 tahun dan sempat menamatkan sekolah hingga SMA/SMK.

Keduanya sudah memiliki pekerjaan untuk memenuhi penghasilan setiap hari. Namun, tentunya bukan hal mudah bagi mereka yang terindikasi sebagai pengidap HIV. Bisa dibilang, mereka merasa lebih beruntung setelah ”ditemukan” LSM KKBS yang juga volunteer KPA Komisi Penanggulangan AIDS (KPA).

Seperti yang dialami Cebi. Setelah perkenalannya dengan pendamping ODHA dan mengetahui seluk beluk HIV, dia memberanikan diri melakukan tes VCT. Saat tes pertama, statusnya masih non-reaktif (NR). Baru setelah enam bulan berikutnya, pada tes kedua dia terindikasi positif HIV. ”Ya sempat depresi  mengetahui HIV, tapi tidak lama,” ucapnya.

Dia mengungkapkan, penularan penyakit tersebut terjadi karena aktivitas seksual yang dia lakukan. Perkenalannya dengan aktivitas biologis itu diawali dengan pengalaman yang tidak menyenangkan. Cebi merupakan salah satu korban pelecehan dan kekerasan seksual. Ironisnya, hal itu dilakukan oleh orang dekatnya. Saat itu dia dibujuk dengan berbagai cara hingga akhirnya terjadi hubungan badan itu terjadi. ”Saya diajak makan, lalu kok berakhir di kamar,” ucapnya.

Meski demikian, semangat hidupnya tak kunjung padam walaupun mengetahui dirinya merupakan ODHA. Cebi tetap menjalankan aktivitas seperti biasa, tidak terkecuali statusnya sebagai ”pria panggilan”. Hanya saja, saat ini dia lebih menjaga agar HIV yang ada pada dirinya tidak menular.

Di samping itu, untuk menunjang stamina dan kesehatan tubuhnya, dia tidak pernah telat meminum obat Antiretroviral (ARV) –obat yang bekerja menghilangkan unsur yang dibutuhkan virus HIV–  yang disediakan secara gratis. ”Tiap pagi, saya minum tiga pil,” ujarnya.

Serupa tapi tidak sama, Ciko, remaja yang tinggal di Kawasan Genteng mengaku jika dirinya memang memiliki kecenderungan gay sejak kecil. Ketika memasuki masa pubertas, dia mengaku lebih tertarik dengan laki-laki daripada  perempuan. Selepas tamat di bangku sekolah, rasa penasarannya pun semakin tinggi. ”Saya pertama kali melakukan seks setelah tamat SMA,” ucapnya.

Ciko bisa dibilang lumayan terbuka. Secara blak-blakan dia juga mengaku sampai saat ini masih sering melakukan seks. Namun, dia memastikan tidak ngawur setiap kali melampiaskan gejolak birahi itu. Unsur keamanan selalu dia utamakan, termasuk wajib memakai kondom setiap kali showtime. ”Ya hampir setiap hari, kadang bottom kadang top,” kata Ciko sembari terbahak-bahak.

Bukan tanpa alasan, sejak 2015 lalu, dia sudah mengetahui virus HIV menempel pada dirinya. Sejak saat itu pula dia memiliki kewajiban menjaga agar orang lain tidak tertular virus yang ada pada dirinya. ”Aku punya pikiran agar tidak menular ke orang lain,” tukasnya.

Setiap hari dia tidak lupa menjaga kondisi tubuhnya dengan mengonsumsi ARV. Tetapi jenis yang dia konsumsi berbeda dengan yang dimiliki Cebi. ”Saya setiap hari minum Nevirapine dan Dovudine,” ucapnya sembari menunjukkan dua botol warna putih berisi pil.

Dia menganggap kondisi yang terjadi pada dirinya merupakan takdir. Meski memiliki asa yang cukup kuat ditambah penyediaan ARV yang cukup mudah, bukan berarti urusan kesehatan ODHA berhenti. Menurutnya, kasus orang yang alergi ARV hingga kondisinya drop juga masih ada, meski jumlahnya sangat kecil.

Biasanya selama dua bulan pertama, gejala mual-mual dan perubahan warna terjadi akibat efek ARV. Bahkan, jika memang tidak cocok, kondisi hemoglobin ODHA bisa menurun drastis. ”Dua bulan pertama itu biasanya nggak enak,” kata Ciko.

Apa yang harus dilakukan semua pihak agar persebaran HIV bisa semakin dikendalikan. Pemuda yang saat ini merintis karir wirausaha itu mengungkapkan, sejak duduk di bangku sekolah perlu diajarkan pendidikan seks yang benar dan terarah. Mulai dari sisi kesehatan, norma, dan aturan.    

Yang paling penting adalah perhatian orang tua serta komunikasi yang dibangun di dalam keluarga. ”Ya kalau biar aman pakai kondom atau perlu ada sex education,” pungkasnya.

(bw/sli/aif/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia