Minggu, 16 Dec 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Features

Derita Fatimah, Wanita Asal Pesucen yang Lumpuh sejak Bayi

01 Desember 2018, 06: 05: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

HANYA BERBARING: Istianah mendampingi Fatimah, cucunya yang menderita kelainan sejak bayi.

HANYA BERBARING: Istianah mendampingi Fatimah, cucunya yang menderita kelainan sejak bayi. (Fredy Rizki/RaBa)

Di Dusun Padang Baru, Desa Pesucen, Kecamatan Kalipuro ada seorang wanita yang mengalami lumpuh sejak bayi. Aktivitasnya hanya sebatas berbaring di kasur. Berkat kasih sayang sang nenek dan ibunya, wanita tersebut masih tetap ceria.

FREDY RIZKI, Kalipuro

Fatimah hanya bisa tertidur lemah di atas dipan rumahnya. Entah penyakit apa yang menyerangnya, sejak berusia sembilan bulan. Wanita yang kini berusia 35 tahun tersebut tak bisa berjalan dan hanya bisa berbaring.

Kaki dan tangan Fatimah terlihat lebih kurus dari ukuran normal. Kepalanya terlihat lebih besar. Tidak ada banyak hal yang bisa dilakukan wanita tersebut. Kosakatanya pun terbatas. Saat Jawa Pos Radar Banyuwangi mengajaknya berkomunikasi, Fatimah hanya bisa tertawa dan sesekali menggumam.

Tangannya yang kurus dan sedikit melengkung digerak-gerakannya seolah ingin mengisyaratkan sesuatu kepada saya. Tak lama Istianah, 67, nenek dari Fatimah mendekat dan mengusap kepala cucu pertamanya itu. Diperbaikinya pakaian cucunya yang sedikit tersingkap karena menggerakkan beberapa bagian tubuhnya.

Istianah mengatakan bahwa cucunya tersebut tampak tidak normal sejak usia sembilan bulan. Cucunya tidak seperti anak bayi umumnya yang seharusnya sudah bisa tengkurap atau merangkak. Fatimah kecil hanya bisa memiringkan badannya saja, bahkan terlihat kesulitan bergerak. ”Dulu pernah dibawa ke Puskesmas, tapi tidak jelas penyakitnya apa,” ujar Istianah.

Sejak saat itulah dirinya bersama putri sulungnya yang sekaligus ibu dari Fatimah, Nikmah, 55, terus merawat Fatimah. Setiap hari cucunya tersebut harus dibantu, mulai dari keperluan makan, minum, hingga mandi dan lainnya.

Kalau hendak makan, Fatimah hanya bisa  memanggil dengan satu dua kata yang sudah dipahaminya. Atau, biasanya dirinya dan ibu kandung Fatimah akan memperkirakan waktu-waktunya. ”Cuma setelah ibunya menikah lagi yang mengurus saya, paling kalau saya tinggal ke sawah dia saya suapi dulu baru ditinggal,” kata nenek sepuluh cucu itu.

Istianah harus menyediakan popok untuk cucunya tersebut minimal dua buah dalam sehari. Terkadang, dia juga sesekali membawa cucunya keluar rumah menggunakan kursi roda agar mendapat udara segar. ”Dia punya bapak tapi sudah meninggal sekitar sepuluh tahun lalu, bapaknya juga tidak terlalu peduli, jadi memang sejak kecil saya yang merawatnya. Setiap hari ya seperti itu aktivitasnya,” ungkap wanita yang berprofesi sebagai buruh tani itu.

Zainudin, 70, ayah tiri Fatimah mengatakan, dirinya tengah berupaya agar putri pertama dari istrinya itu bisa mendapatkan perawatan dengan baik. Dia sendiri baru menikahi Nikmah sejak tiga bulan silam. ”Waktu saya lihat kondisinya saya langsung berpikir jika anak ini seharusnya dirawat lebih baik. Saat ini kan teknologi sudah maju, masa tidak ada yang bisa mengobati,” ujarnya

Zainudin juga tengah mengupayakan agar Fatimah bisa memiliki KTP. Karena setelah berusia 30 tahun lebih, Fatimah masih belum tercatat sebagai penduduk. ”Kalau kami berharap ada dermawan yang bisa membantu,” pungkas Zainudin.

(bw/fre/aif/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia