Selasa, 10 Dec 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Features

Dibangun Zaman Belanda, Jembatan Penyebab Banjir Itu Masih Tetap Kukuh

29 November 2018, 14: 10: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

BERSEJARAH: Jembatan Garit di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh ini dibangun sejak zaman penjajahan Belanda.

BERSEJARAH: Jembatan Garit di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh ini dibangun sejak zaman penjajahan Belanda. (Bagus Rio/RaBa)

Share this          

Jembatan Garit kembali menjadi perhatian publik. Apalagi kalau bukan masalah banjir. Ya, untuk kali kesekian, jembatan yang terletak di Desa Alasmalang itu menjadi sorotan karena sebagai biang pemicu banjir bandang.  

BAGUS RIO, Singojuruh

Jembatan Garit di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh berada di tengah empat dusun yang ada di desa itu, yakni Dusun Karangasem dan Wonorokso yang berada di utara jembatan, serta Dusun Garit dan Bangunrejo di selatan jembatan.

Lalu-lalang kendaraan hampir tak pernah sepi di Jembatan Garit. Jalan di jembatan itu, termasuk jalur alternatif jurusan Banyuwangi-Jember. Kendaraan yang melintas tidak hanya mobil pribadi. Tapi juga mobil besar seperti truk dan bus.

Bila akan ke Banyuwangi atau Jember, melalui jalan ini lebih cepat dibanding melewati jalur utama dengan melintasi Kecamatan Srono, Cluring, dan Gambiran. Dan itulah yang membuat jalan ini setiap hari tidak pernah sepi.

Jembatan Garit di atas aliran Sungai Badeng yang membelah Desa Alasmalang itu dibangun pada masa penjajahan Belanda. Konstruksi jembatan yang di tengah ada penyangga cukup besar itu, hingga kini masih berdiri kukuh. Warga sekitar menyebut jembatan itu mengandung mistis. ”Jembatan itu sudah lama, sebelum saya lahir sudah ada,” ujar Nur Hadi, 50, warga Dusun Garit, Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh.

Jembatan dengan lebar sekitar lima meter dan panjang tujuh meter itu memiliki konstruksi yang berbeda. Nama Garit pada jembatan diambilkan dari nama salah satu dusun yang ada di desa itu. ”Warga yang menamai Garit,” katanya.

Dari cerita mulut ke mulut, Garit berasal dari kata Arit. Itu maksudnya warga di Desa Alasmalang itu, dulunya sebagian besar pengelola hutan dan bekerja membawa arit (celurit). ”Dulu di Desa Alasmalang ini hutan belantara, warga banyak yang sering membawa arit,” ungkapnya.

Jembatan itu dibangun semasa penjajahan Belanda. Hanya saja, yang mengerjakan pembangunan adalah warga pribumi dengan arsitek orang Belanda.

Dalam pembangunannya, untuk saluran air di bawah jembatan berupa dua bundaran besar yang dibatasi tiang besar. ”Kita tidak tahu kenapa dibuat seperti itu, yang jelas itu membuat warga Desa Alasmalang susah,” ulasnya.

Sejak dibangun hingga saat ini, jembatan itu belum pernah ada perubahan. Jembatan itu konstruksinya juga kuat hingga tahan dari banjir. ”Jembatan buatan Belanda itu memang sangat kuat, sudah sering dihantam banjir tetap tidak roboh,” katanya.

Sejak tahun 1955, Desa Alasmalang sering dilanda banjir bandang. Penyebabnya, bangunan jembatan itu. Banyak batang kayu yang terbawa aliran sungai menyangkut di jembatan tersebut. ”Banjir sering terjadi sejak dulu, penyebabnya ya jembatan itu,” ungkapnya.

Warga lainnya Hariyadi menyampaikan jembatan itu mengandung cerita mistis. Dari cerita orang tuanya, banjir bandang di Desa Alasmalang itu sudah berulang kali terjadi sejak tahun 1980-an. ”Tahun 1980, 1982, 1985 juga banjir, tahun 2018 ini banjir dua kali,” kata lelaki 43 tahun itu.

Banjir yang terjadi itu memang faktor alam. Selain curah hujan yang tinggi dan banyak material yang menumpuk di sepanjang aliran Sungai Badeng. ”Jembatan kuno itu ciri khasnya ada penyangga cor di tengah jembatan,” ungkapnya.

Masyarakat Desa Alasmalang memang banyak yang ingin jembatan itu segera dibenahi. Sehingga, tidak ada penyangga atau konstruksi tengah yang ada di jembatan itu. Tapi, itu tidak bisa dihilangkan karena bisa meninggalkan sejarah. ”Kalau masyarakat di sini (Alasmalang), ingin jembatan dibongkar dan diubah, agar masyarakat bisa tidur nyenyak,” pungkasnya. (abi)

(bw/rio/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia