Jumat, 22 Nov 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Sembako

Harga Gabah Stabil, Stok Beras di Banyuwangi Aman

27 November 2018, 12: 05: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

TITIAN: Seorang kuli mengangkut gabah dari sawah di Desa Rogojampi menuju jalan raya melewati jembatan bambu, Sabtu sore (24/11).

TITIAN: Seorang kuli mengangkut gabah dari sawah di Desa Rogojampi menuju jalan raya melewati jembatan bambu, Sabtu sore (24/11). (Shulhan Hadi/RaBa)

Share this          

ROGOJAMPI – Musim panen di sejumlah persawahan masih tampak di beberapa tempat. Salah satunya di Rogojampi. Hasil panen kali ini relatif dalam kondisi bagus. Harga jual gabah juga berada pada angka yang stabil.

Seperti diungkapkan Mardi, 56, penebas gabah dari Desa/Kecamatan Rogojampi. Saat ini harga beli gabah rata-rata Rp 5.152 per kilogram. Harga ini di kalangan petani maupun pembeli merupakan harga yang cukup bagus. ”Harga sekarang baik, tidak terlalu mahal,” ucapnya.

Para pedagang biasanya membeli gabah dengan sistem borongan atau tebasan. Dia mencontohkan, untuk tebasan lahan seluas 1,5 bau, dia harus membayar sebesar Rp 26 juta. Sementara padi yang dihasilkan per bau rata-rata antara empat hingga lima ton. ”Untungnya tipis, kadang juga rugi,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bulog Sub Divre V Banyuwangi David Susanto mengungkapkan, kondisi pertanian di Banyuwangi hampir setiap tahun cukup bagus. Bahkan, gabah yang dihasilkan sebagian juga terserap ke luar daerah terutama Bali. ”Kebutuhan beras Banyuwangi aman, Banyuwangi kan sampai suplai ke Bali,” ucapnya.

Saat ini, persediaan gabah yang dimiliki Bulog sebanyak 1.400 ton. Sementara untuk beras medium sebanyak 12.450 ton dan beras premium 1.800 ton. Semuanya sudah mencukupi untuk persediaan dan cadangan bantuan kondisi darurat. ”Pengadaan beras dan gabah kita aman,” tegasnya.

Sedangkan untuk harga beli dari Bulog terhadap gabah petani, saat ini Harga Pokok Penjualan (HPP) pemerintah senilai Rp 3.700. Sedangkan harga di pasaran saat ini jauh di atas milik pemerintah. Menyikapi ini, David menegaskan ketika harga di pasaran lebih mahal dari pemerintah, petani bisa dengan leluasa menjual ke sana. Begitu juga sebaliknya, ketika harga beli pemerintah lebih tinggi, petani dipersilakan untuk menjual kepada Bulog. ”Di lapangan sepanjang tahun harga di atas HPP, silakan dijual ke sana,” terangnya.

(bw/sli/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia