Minggu, 16 Jun 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Travelling

Air Tak Pernah Kering, Warga Menolak Banyu Kanjeng Dijadikan Wisata

26 November 2018, 17: 25: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

JERNIH: Seorang bocah mandi di kolam Banyu Kanjeng, Desa Kedayunan, Kabat.

JERNIH: Seorang bocah mandi di kolam Banyu Kanjeng, Desa Kedayunan, Kabat. (Shulhan Hadi/RaBa)

KABAT - Sebuah kolam pemandian umum dengan air cukup jernih berada di belakang kantor Desa Kedayunan, Kecamatan Kabat. Sehari-hari warga sekitar memanfaatkan lokasi tersebut untuk mandi. Saat musim kemarau panjang, airnya tetap mengalir dan tidak kering.

Tiga kolam berukuran seluas lapangan bulu tangkis terhampar di belakang kantor Desa Kedayunan. Antara kolam dan kantor desa terdapat rerimbunan tumbuhan. Mulai dari bambu, bendo, dan semak belukar. Dari bawah pepohonan inilah, air yang memenuhi kolam tersebut berasal. Aliran air tersebut cukup besar. Airnya pun cukup bersih. Bias tubuh warga yang berada di dalam air pun terlihat jelas. Warga mengenal kolam ini dengan sebutan Banyu Kanjeng.

Saat ini, kolam di Banyu Kanjeng terdapat tiga bagian. Masing-masing kolam di ujung diperuntukkan bagi laki-laki. Sedangkan yang tengah menjadi tempat pemandian perempuan. ”Tempat laki-laki dan perempuan dipisah. Perempuan di kolam tengah,” ucap Rubaiyah, 39, salah satu warga Kedayunan.

Hingga saat ini, keberadaan sumber tersebut masih relatif sama. Hanya pembangunan tembok pembatas saja yang berbeda. Masyarakat juga kompak menjaga lokasi sumber mata air berada. Mereka membiarkan tempat tersebut dan tidak mengurangi tanaman yang ada. ”Tidak pernah diapa-apakan itu,” terangnya.

Mata air yang cukup besar dan air yang jernih ternyata sempat mengundang minat orang untuk mengembangkan tempat itu. Namun, wacana yang muncul sekitar tahun 1990-an itu tidak mendapat persetujuan warga. Saat itu, warga beranggapan jika tempat itu menjadi objek wisata, maka warga sekitar akan kesulitan mengakses pemandian. ”Dulu, mau dibuat wisata, warga sekitar menolak,” terang Rubaiyah.

Sebenarnya, lokasi ini cukup menarik jika menjadi tempat wisata. Tidak jauh dari lokasi juga terdapat makam Dayun, yang dipercaya merupakan abdi Minak Jinggo. Konon, Dayun ini pula yang menjadi cikal bakal nama Kedayunan. Di samping itu juga terdapat makam Dipo, sesepuh yang dulu membuka wilayah tersebut. ”Di sini ini ada dua makam tua. Tidak jauh dari sini,” ucapnya.

Lain warga, lain dengan pemerintah. Pihak desa melalui Sekretaris Desa Kedayunan Sunarko menyebutkan, pembangunan lokasi ini sebenarnya tinggal menunggu investor. Wacana yang dulu sempat muncul terkait pengembangan pemandian ini menjadi objek wisata belum terwujud. Sunarko mengungkapkan saat itu gagal karena sejumlah hal. Di antaranya warga yang masih belum terbuka dengan keberadaan kolam. ”Dulu warga masih fanatik,” ungkapnya.

Apalagi, saat ini warga yang menggunakan fasilitas umum tersebut tidak lagi sebanyak dulu. Sebagian besar warga sudah memiliki perlengkapan MCK di rumah masing-masing. ”Sekarang warga yang ke sana tidak banyak lagi,” ucapnya.

Saat ini, imbuh Sunarko, jika ada yang mau mengembangkan tempat tersebut juga bagus. Apabila ada yang mau menanamkan modalnya di sini, tentu pemandian itu akan lebih baik. Namun, hingga saat ini belum ada. ”Barang kali ada yang mau mengemas lebih bagus, itu bisa,” harapnya.

(bw/sli/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia