Selasa, 10 Dec 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Features

Untung Jutaan, Begini Suka-Duka Pedagang Durian Musiman

24 November 2018, 13: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

BERKAH DURIAN JATUH: Buyamin mengepakkan uang pecahan Rp 50 ribu setelah durian dagangannya laku terjual

BERKAH DURIAN JATUH: Buyamin mengepakkan uang pecahan Rp 50 ribu setelah durian dagangannya laku terjual (Dedy Jumhardiyanto/RaBa)

Share this          

Musim durian membawa berkah bagi sejumlah pedagang durian di sepanjang jalan raya Diponegoro, Desa/Kecamatan Rogojampi. Ruas jalan protokol itu tak pernah sepi dari aktivitas para pedagang durian.

DEDY JUMHARDIYANTO, Rogojampi

Cuaca siang itu cukup menyengat kulit. Lalu-lalang kendaraan bermotor di sepanjang ruas jalan raya protokol Rogojampi cukup padat. Debu bercampur dengan pekatnya asap kendaraan bermotor menyesakkan dada.

Di tengah kepadatan arus lalu lintas dan cuaca yang terik itu, Buyamin baru saja sampai di depan Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Rogojampi dengan membawa gerobak dagangannya. Pria asal Dusun Sempu desa Gombolirang Kecamatan Kabat itu lantas mengeluarkan buah durian dari dalam gerobak anyaman bambu (tobos) miliknya.

Satu per satu buah durian di tata rapi dan dikelompokkan sesuai besar kecilnya. Dia telah menyiapkan meja dagangan yang terbuat dari bambu. Setelah beberapa buah durian ditata, sebuah payung berukuran cukup besar mulai dikembangkan.

Payung itu menutupi sebagian buah durian dagangannya. Selembar terpal plastik dibeber tak jauh dari tempat dagangannya. Terpal plastik itu ia gunakan untuk duduk santai. Tak lupa sebuah timba berisi air bersih dan tumpukan tisu diletakkan di atas terpal.

Tempat itu sengaja disediakan untuk melayani para pembeli yang ingin menyantap langsung buah durian. Tumpukan kulit buah durian juga ditata rapi tak jauh di tempat dagangannya. Agar tidak terlihat kumuh, kulit buah itu juga sebagian telah dimasukkan ke dalam kantong plastik.

Aktivitas itu sudah dilakoni Buyamin sejak tiga tahun silam. Menjadi pedagang buah durian musiman itu awalnya juga dilakukan tanpa sengaja. Maklum, sehari-hari di luar musim buah durian dia hanya bekerja sebagai tukang batu. ”Saya jualan hanya waktu musim buah durian saja, selebihnya saya tukang batu,” ungkap pria berusia 42 tahun ini.

Sebelum berjualan durian, Buyamin mengaku jika dia tertarik pada buah yang selalu diburu para penikmatnya. Karena banyaknya peminat buah durian itulah, dia lantas mencoba terjun dengan menebas pohon buah durian langsung kepada petani durian yang berada di Kecamatan Glagah, Licin, dan Kabat.

Susah-susah gampang mencari petani durian. Karena harus keluar masuk kampung dan bertanya satu per satu petani durian. Setelah bertemu dengan petani durian, dia lantas melihat langsung kondisi buah pada pohon durian yang tengah berbuah.

Untuk melihat buah yang masih berada di pohon itu dia juga harus melihat langsung dan berjalan kaki ke tengah kebun durian. Letaknya juga cukup jauh dari perkampungan. Pohon yang tengah berbuah itu lantas dihitung jumlah buahnya dengan sistem perkiraan.

Setelah ketemu estimasi jumlahnya, barulah kemudian dikalikan dengan harga per buahnya. Dalam sistem tebasan, tidak dikenal besar dan kecil buah. Semuanya dipukul rata dengan harga yang sama. ”Saya pernah membeli tebasan buah durian lima pohon sampai Rp 15 juta,” katanya.

Menjadi penebas durian harus mempunyai keberanian, ketepatan hitungan, dan juga ketelatenan. Betapa tidak, durian yang telah dibeli harus ditunggu setiap waktu. Maklum, durian yang masak pohon harus menunggu hingga buah durian benar-benar jatuh dari pohonnya.

Selama dalam waktu lima bulan, dia bersama keluarga dan orang kepercayaannya menunggu durian jatuh di kebun. Agar bisa memantau durian yang jatuh, dia juga harus tinggal di tengah kebun dengan cara mendirikan gubuk kecil yang dilengkapi dengan fasilitas layaknya rumah seperti alat masak, kasur, dan perlengkapan rumah tangga lainnya.

Durian yang telah jatuh dikumpulkan dan para pedagang biasanya akan membeli langsung kepadanya dengan harga yang telah ditentukan.  ”Dulu saya beli pohon, sekarang sudah jarang orang mau ditebas pohonnya,” jelas Buyamin.

Saat ini sebagian besar pedagang buah durian yang berada di ruas jalan raya Rogojampi mendapatkan langsung dari para pengepul dan petani yang berada di Desa Segobang, Desa Pakel, Kecamatan Licin.

Para pedagang justru kesulitan mendapatkan barang langsung dari petani yang berada di Kecamatan Songgon. Maklum, para petani sebagian besar justru menjual dagangannya sendiri. ”Kalau pun ada pedagang dari luar daerah cari durian Songgon diberikan harga seperti menjual ke konsumen langsung. Jadi kami tidak bisa mendapatkan hasil,” terang bapak dua anak ini.

Hal senada juga dirasakan Soleh, 30, pedagang durian yang mangkal di depan Kantor Kecamatan Rogojampi. Menurutnya, para pedagang rata-rata mendapatkan durian dari Licin, Glagah, dan Kalipuro. Sangat jarang pedagang durian dari Songgon berjualan di Rogojampi.

Rata-rata durian Songgon banyak dijual di daerah asalnya sendiri. ”Kalau kami terus terang, jika ada pembeli yang tanya kami jawab asal durian dari Pakel dan Segobang. Bukan durian Songgon,” ujarnya.

Yang selalu ditanyakan pembeli memang durian Songgon. Namun, ada juga pembeli yang menganggap durian sama saja cita rasanya. Agar pembeli tidak kecewa, langsung minta dicarikan buah yang masak di pohon yang buahnya tebal. Setiap pedagang durian dituntut bisa mengenali cita rasa dan isi dalam buah durian.

Jika salah sedikit saja maka akan menurunkan reputasi sang pedagang sendiri. ”Pedagang tidak hanya sekadar jualan pulang bawa uang, tapi juga harus paham dengan kualitas barang yang dagangannya,” bebernya.

Musim buah durian jatuh juga dirasakan Asikin. Selama musim durian, bapak dua anak ini mampu meraup keuntungan bersih setiap harinya hingga Rp 300 ribu. Untuk bisa berjualan, dia menarget harus membawa antara 150 hingga 200 buah durian ke dalam gerobak dagangannya untuk dijual di Rogojampi. Dari 200 butir buah durian itulah dia meraup keuntungan.

”Bagi saya hasil sedikit yang penting cepat. Untung Rp 2 ribu per biji saja sudah langsung saya jual. Yang penting sudah balik modal dan dapat untung. Habis dagangan cepat pulang dan ketemu keluarga di rumah,” tandas pedagang asal Kabat itu.

(bw/ddy/aif/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia