Sabtu, 25 May 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Features

Si Lumpang dan Pelangi: Durian Berumur Ratusan Tahun Ada di Songgon

22 November 2018, 16: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

PAKAR DURIAN: Solikin (tiga dari kanan) bersama Bupati Anas memamerkan durian di Pondok Durian Songgon.

PAKAR DURIAN: Solikin (tiga dari kanan) bersama Bupati Anas memamerkan durian di Pondok Durian Songgon. (Dedy Jumhardiyanto/RaBa)

Songgon dikenal sebagai sentra buah durian. Aneka jenis durian tumbuh subur di tempat tersebut. Yang belum banyak diketahui publik, cikal bakal durian merah, si Kesumbo dan si Gandrung, juga berasal dari Songgon. Begitu juga dengan durian si Lumpang dan Pelangi.   

Musim durian paling ditunggu bagi para penikmat buah yang kulitnya berduri tersebut. Salah satu daerah penghasil durian ternama dan terbesar di Banyuwangi adalah Songgon. Hampir setiap musim panen tiba, durian Songgon selalu paling dinanti.

Sensasi yang kini tengah diburu sejumlah wisatawan adalah menyantap buah durian langsung di bawah pohonnya. Salah satu tempat yang kini ramai diburu wisatawan adalah Likin Durian Garden yang berada di Dusun Pakis, Desa/Kecamatan Songgon. Lokasinya sudah sangat terkenal, berada di tengah perkebunan durian dan manggis.

Untuk sampai ke tempat tersebut, wisatawan harus berjalan kaki dari tepi jalan raya sejauh 200 meter. Mobil diparkir di tepi jalan raya depan makam.

Awalnya di tempat ini hanya ada Likin Durian Garden. Seiring ramainya para wisatawan yang berkunjung di tempat tersebut, para pemilik kebun durian di sekitar Likin Durian Garden ikut membuka dagangan yang menyediakan pondok-pondok kecil dengan suasana alami.

Meski ada tiga tempat yang nyaris menyamai Likin Durian Garden, pengunjung dan pelanggan masih mencari meski harus berjalan kaki di tengah kebun. Suasana yang ditawarkan memang cukup sederhana. Di tengah perkebunan yang sejuk nan rindang ditambah gemericik air yang bening keluar dari sumbernya.

Belum lagi kicau burung yang saling bersahutan, kian menambah suasana berada di tengah hutan. Para penikmat durian bisa langsung menikmati durian di bawah pohonnya. Ada gubuk-gubuk kecil yang ditata di antara sela pohon.

Agar tidak menimpa pengunjung yang datang, buah durian yang berada di ketinggian diikat menggunakan tali. Solihin mengaku tempatnya tersebut sudah ramai dan jadi jujugan warga sejak dulu. Tempat tersebut awalnya disebut ”seladaan”. Ini karena di sekitar gubuknya dikelilingi pepohonan. Di bawahnya mengalir air bening dan dimanfaatkan menanam sayur selada.

Bapak dua anak ini sudah lebih 26 tahun mempelajari seluk-beluk durian. Dia mendalami durian dari cerita orang tua terdahulu. Bahkan, sejak remaja Likin banyak menghabiskan waktunya untuk meneliti durian dengan cara berkeliling di seluruh Indonesia. ”Hanya Papua saja yang belum pernah saya kunjungi,” kata pria yang akrab disapa Likin tersebut.

Saking giatnya menekuni durian, dia pernah mengikuti event besar di Jakarta bersama pengepul buah besar penghasil durian dari seluruh Indonesia. Pesertanya mulai dari Jember, Trenggalek, Bogor, Sumatera, dan Kalimantan.

Saat itu Likin mewakili petani durian Banyuwangi. Tidak banyak orang tahu karena memang dilakukan secara diam-diam. Saat masih remaja, Likin meyakini buah durian adalah buah yang memiliki potensi membawa peluang besar.  ”Durian itu rajanya buah yang mampu mengalahkan cita rasa buah lainnya,” terang pria berusia 47 tahun tersebut.

Meski bukan lulusan sarjana, hasil penelitiannya yang dilakukan kecil-kecilan itu justru bermuara kembali di Songgon. Betapa tidak, di Kecamatan Songgon banyak ditemukan durian yang sudah berusia ratusan tahun dengan jenis dan kualitas buah berbeda-beda mulai warna dan cita rasa.

Dari cerita orang tua terdahulu di Songgon ada nama buah durian yang cukup fenomenal, yakni si Gandrung dan si Kesumbo. Keduanya adalah cikal bakal durian merah di Banyuwangi yang sangat melegenda. Bisa jadi durian tertua berada di Songgon. Jika diamati secara kasat mata, penghasil tanaman buah durian ini berada di sekitar pegunungan mulai dari Kalibaru, Glenmore, Kalipuro, Segobang, dan Songgon

”Belanda pasti mengetahui potensi itu sejak awal. Ternyata buah durian yang bagus itu ditanam di ketinggian 450 hingga 650 meter dari permukaan air laut. Lokasinya terletak di Songgon,” jelasnya.

Durian Songgon memiliki cita rasa yang paling lengkap mulai durian pelangi, durian merah, durian oranye, durian mentega, durian kasur, durian boneng, durian jenewer, dan masih banyak jenis durian lainnya.

Dari sejumlah pohon durian itu yang masih hidup adalah durian si Lumpang dan Durian Pelangi. Dua buah durian jenis itu diyakini tertua di Banyuwangi yang berusia ratusan tahun. Hingga kini si Lumpang dan Pelangi masih normal dan tetap berbuah lebat. Rasanya sangat lezat. Aroma durian ini sangat menyengat begitu kulitnya dibuka.

Likin tak mau disebut sebagai pedagang durian. Dia hanyalah petani dan pencinta tanaman durian sejak dulu. Karena kecintaannya pada durian, pada tahun 1992 Likin pernah didatangi warga Malaysia. Likin dipanggil untuk menanam dan merawat durian. Kesempatan itu ditolak dengan alasan dia ingin mengembangkan durian di dalam negeri, khususnya di Banyuwangi.

Saking pahamnya memahami pohon durian, sejak delapan tahun silam, Likin telah membuktikan dapat mencangkok buah durian. Padahal buah jenis tersebut cukup sulit untuk dicangkok. ”Pada dasarnya pohon durian itu sama seperti manusia. Kita harus bisa memahami karakternya. Untuk memahami agar bisa berbicara dengan pohon itu juga tidaklah mudah,” terang Likin.

Atas jerih payahnya mengembangkan spot wisata durian, sejumlah tempat penghasil durian  berlomba-lomba berbenah dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Likin.

Tak sekadar menyajikan buah durian, melainkan menyuguhkan masakan khas Banyuwangi ala pedesaan seperti lauk pepes oling atau sidat, nasi tempong, wader, dan gimbal jagung.

(bw/ddy/aif/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia