Selasa, 15 Oct 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Lifestyle

Unik, Meras Gandrung Hasil Kolaborasi Banyuwangi Jogjakarta

19 November 2018, 11: 10: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

REGENERASI: Suasana Meras Gandrung di kawasan Gandrung Terakota, Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Banyuwangi, Sabtu (17/11).

REGENERASI: Suasana Meras Gandrung di kawasan Gandrung Terakota, Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Banyuwangi, Sabtu (17/11). (Shulhan Hadi/RaBa)

Share this          

LICIN - Sayup-sayup tembang Kembang Pepe terdengar dari belakang tribun penonton. Sejurus kemudian barisan anak-anak, tua-muda, laki-laki, dan perempuan berderap berjalan perlahan menuju lokasi pentas.

Suasana yang cukup apik ini diperkuat properti yang dibawa masing-masing orang. Tepat di belakang anak-anak yang berada paling depan. Gandrung Temu membawa bokor yang mengepulkan asap dari dupa. Barisan berikutnya para gadis Oseng berjalan dengan menutup wajahnya menggunakan bilah daun pisang. Selanjutnya para lelaki pembawa memungkasi deretan.

Pergelaran sendratari Meras Gandrung ini memang sedikit lebih nendang. Sentuhan kreativitas dari Padepokan Bagong Kussudiardja menambah kesan nyeni makin kentara. Sementara sajian musik Banyuwangi ditampilkan lebih atraktif.

Hangga Uka, koreografer dari Padepokan Bagong mengungkapkan, racikan seni ini mereka masukkan untuk memperkuat citra visual sendratari. Dia menyebutkan, properti kain digunakan untuk menyampaikan pesan ada tri warna yang sangat menonjol dalam kehidupan masyarakat. ”Kain itu identik dengan tiga warna Banyuwangi, hitam, merah, dan putih,” terangnya.

Sedangkan wayang dengan karakter Belanda untuk menyesuaikan dengan penampilan Gandrung Lanang di awal pementasan. ”Dulu saat zaman kolonial kan Gandrungnya Lanang," ucapnya.

Meski banyak yang baru, tak berarti gandrung kehilangan rohnya. Bahkan Mbok Temu terbawa emosi saat melantunkan Layar Kumendung. Air matanya jatuh berlinang. Semua itu sangat terlihat jelas. Penampilan seni sore itu, membuat semua mata tak melepaskan pandangannya detik per detik. Tak terkecuali Bupati Abdullah Azwar dan sejumlah SKPD yang hadir, semua dibuat terkesima.

Bahkan, Bupati Anas menyatakan pertunjukan ini sangat luar biasa. Bagi Anas, ini merupakan sajian lama yang dikemas dalam balutan baru. ”Pak Sigit menunjukkan koreografi baru. Bagi saya luar biasa,” pujinya.

Sejumlah kalangan seniman seperti Hasnan Singodimayan yang hadir bersama jajaran Dewan Kesenian Blambangan (DKB) juga mengacungkan jempol usai menyaksikan pergelaran ini. ”Saya ndak percaya, begitu hebat,” terang Hasnan.

Sementara itu, pengelola Taman Terakota, Jiwa Jawa Resort Sigit Purnomo menjelaskan, kolaborasi ini bukan yang pertama dan terakhir. Pihaknya berupaya akan selalu menghadirkan kolaborasi seni setiap bulan. ”Ini setiap bulan, akan kita gelar,” ujarnya.

(bw/sli/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia