Kamis, 21 Nov 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Edukasi

Ini Inovasi Terbaru dari Poliwangi! Ciptakan Aplikasi Pemecah Kakao

15 November 2018, 09: 10: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

INOVASI: Sandryas (dua dari kanan) bersama petani kakao Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran berfoto di depan alat pemecah kakao.

INOVASI: Sandryas (dua dari kanan) bersama petani kakao Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran berfoto di depan alat pemecah kakao. (Poliwangi for RaBa)

Share this          

BANYUWANGI - Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran merupakan area dengan jumlah petani kakao rakyat lebih dari 25 orang dengan rata-rata luas lahan kakao mencapai 1 hektare. Para petani kakao rakyat itu membudidayakan tanaman kakao secara konvensional dengan cara-cara bertani yang sederhana. Mulai dari on farm sampai on table.

Penentu kualitas produk cokelat yang merupakan hasil olahan dari biji kakao adalah bagaimana perlakuan pascapanennya. Salah satu kegiatan pascapanen kakao adalah pemecahan buah kakao. Di Desa Sumberagung, pemecahan buah kakao masih dilakukan dengan menggunakan pisau. Dampaknya bisa meningkatkan risiko buah terluka yang dapat mengurangi kualitas biji kakao kering.

Tim Pengabdian kepada Masyarakat Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi) yang dipimpin oleh Sandryas Alief Kurniasanti SST MM dan anggota tim yang terdiri dari Shinta Setiadevi STP MM, dan Chairul Anam ST MT itu melakukan inovasi alat yang dapat mengefisiensikan kerja pascapanen pemecahan buah kakao. Alat pemecah buah kakao itu didesain dengan menggunakan motor listrik yang berbentuk rotari. Bagian dalam rotari terdapat gerigi besi yang tumpul dan berputar. Alat itu mampu memecah buah kakao, namun tidak memotong buah kakao. ”Dengan begitu risiko biji kakao yang terluka bisa dihindari,” kata Sandryas.

Kinerja alat itu mampu memecah buah kakao dengan kapasitas sampai 20 kg dalam waktu tidak lebih dari 10 menit. ”Buah kakao akan dipecah dan dipisahkan antara biji dan kulitnya,” tuturnya.

Sebelum masuk ke alat pemecah, buah kakao harus dipilah antara buah yang segar dan buah yang terserang oleh hama dan penyakit. Penanganan pascapanen yang tepat mampu menciptakan produk hasil olahan kakao dengan kualitas superior dan tercipta aroma khas cokelat. ”Hasilnya akan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, karena akan lebih efisien waktu,” pungkas Sandryas.

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia