Minggu, 16 Dec 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Kesehatan

RSAH Gelar Pelatihan Disaster Plan Bersama BPBD

14 November 2018, 19: 10: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

BIAR TANGGAP: Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Banyuwangi Eka Muharram memberikan penjelasan tentang tanggap bencana di RS Al Huda Gambiran.

BIAR TANGGAP: Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Banyuwangi Eka Muharram memberikan penjelasan tentang tanggap bencana di RS Al Huda Gambiran. (RS Al Huda For RaBa)

GENTENG – Banyuwangi merupakan kota dengan indeks bencana urutan ke-11 skala nasional. Ini karena Bumi Blambangan mempunyai 175,5 km panjang pantai membujur dari Samudera Hindia sampai Laut Jawa. Selain itu, Banyuwangi mempunyai dua gunung berapi aktif yang bila terjadi bencana alam akan berpotensi menimbulkan banyak korban.

Posisi indeks bencana Banyuwangi itu dipaparkan Kepala Bidang Kedaruratan & Logistik BPBD Banyuwangi Eka Muharram Suryadi di Rumah Sakit Al Huda (RSAH) Sabtu lalu (10/11). Paparan tersebut dalam rangka in house training Penanganan Bencana Alam alias disaster plan.

Menurut Eka, Banyuwangi berada di antara lempeng Indo Australia di Samudera Indonesia dan Gunung Ijen serta Gunung Raung yang aktif. Karena itu, apabila terjadi aktivitas vulkanik atau aktivitas tektonik, bisa menyebabkan gempa bumi serta tsunami yang dahsyat. Sehingga bisa dibayangkan, kata dia, Banyuwangi merupakan daerah rawan bencana.

Oleh karena itu, kata Eka, kesiap-siagaan kita dalam menghadapi bencana sangat krusial. Tujuannya agar bisa meminimalkan jumlah korban jika terjadi bencana. Apalagi, rumah sakit akan menjadi institusi paling sibuk saat terjadi bencana alam. ”Karena fungsi RS sebagai pelayanan kesehatan harus siap dalam melakukan pelayanan dalam keadaan apa pun,” imbuhnya.

Eka menjelaskan, sumber dari banyaknya korban adalah kepanikan. Oleh karena itu, masyarakat perlu memahami cara-cara apa yang harus dilakukan saat terjadi bencana alam. Misalnya bila terjadi gempa, pertama jangan panik. Bila berada di dalam ruangan, jangan langsung keluar dulu. Disarankan mencari tempat berlindung yang aman. ”Kemudian setelah gempa pertama selesai, segera keluar ruangan menuju ruangan terbuka. Karena dimungkinkan gempa susulan bisa jadi lebih hebat,” urainya.

Apresiasi juga diberikan kepada RSAH atas tampilan program rumah sakit terkait kewaspadaan bencana. ”Prosedur kesiap-siagaan bencana harus tersosialisasi kepada seluruh karyawan dan tersimulasi secara rutin minimal tiga bulan sekali agar kita terbiasa dan tidak panik saat menghadapi bencana,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua K3 RSAH dr Soegeng HP (SHP), MMRS mengatakan, pelatihan penanggulangan bencana kali ini diikuti oleh perwakilan setiap ruangan. Peserta pelatihan merupakan tenaga medis maupun tenaga nonmedis. ”Termasuk jajaran manajerial yang merupakan program dari K3RS dalam upaya penanganan bencana, ” ujarnya.

Pelatihan kali ini merupakan antisipasi atau melatih insting karyawan agar siap dan mampu bereaksi. ”Baik saat menghadapi atau terjadi bencana karena tugas selanjutnya, yaitu memberikan pertolongan pertama dan kelanjutannya pada korban bencana,” pungkas Soegeng.

(bw/rbs/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia