Minggu, 16 Dec 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Features

Untag se-Indonesia dan PTS Nasionalis Rumuskan Kurikulum Pancasila

11 November 2018, 12: 15: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

BUKA RAKER: Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah menabuh gong didampingi Rektor Untag Banyuwangi Andang Subaharianto dan Rektor Universitas Pancasakti Tegal Burhan Eko Purwanto di auditorium Untag, Jumat malam (9/11) .

BUKA RAKER: Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah menabuh gong didampingi Rektor Untag Banyuwangi Andang Subaharianto dan Rektor Universitas Pancasakti Tegal Burhan Eko Purwanto di auditorium Untag, Jumat malam (9/11) . (Humas Untag Banyuwangi For RaBa)

Selama tiga hari, sejak Jumat (9/11) hingga Minggu (11/11), Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi kedatangan banyak tamu istimewa. Mereka adalah Konsorsium Untag se-Indonesia dan para pimpinan Perguruan Tinggi Swasta Nasionalis (PTSN) Indonesia. Pertemuan para pimpinan perguruan tinggi itu mendapatkan apresiasi positif dari Dr Ahmad Basarah MH, Wakil Ketua MPR RI.

Pada Jumat malam (9/11), secara khusus Ahmad Basarah kembali hadir di Untag Banyuwangi. Kehadirannya kali ini dalam rangka memberikan apresiasi terhadap dilaksanakannya Rapat Kerja (Raker) dan Rekonstruksi Kurikulum Pendidikan Pancasila. Politisi Senayan itu juga membuka agenda besar tersebut.

Acara tersebut dilaksanakan sebagai tindak lanjut dari pertemuan Konsorsium Untag se-Indonesia di Untag Surabaya, pada awal Agustus 2018. Saat itu dihadiri 16 pimpinan perguruan tinggi. Mereka berasal dari Untag Banyuwangi, Untag Surabaya, Untag Semarang, Untag Cirebon, Untag Samarinda, dan Untag Jakarta. Selain itu, para pimpinan PTSN Indonesia yang berasal UNITRI Malang, ITN Malang, Universitas Kanjuruhan Malang, Stikes Kendedes Malang, Universitas Wisnuwardhana Malang, STIA Pembangunan Jember, STIPER Jember, STIE Dharma Nasional Jember, Universitas Narotama Surabaya, dan Universitas Adibuwana Surabaya.

Acara pembukaan diawali lagu kebangsaan Indonesia Raya, yang dinyanyikan 3 stanza, untuk mengobarkan semangat peserta Raker dari PTSN  di auditorium Untag Banyuwangi. Kehadiran Wakil Ketua MPR RI beserta Pimpinan PTSN disambut dengan penari gandrung dari UKM Tari Untag Banyuwangi. Tak kalah menarik, UKM Musik Untag Banyuwangi pun turut tampil. Lagu-lagu pilihan dilantunkan sembari menanti hadirnya tamu-tamu istimewa dalam acara pembukaan.

UKM Paduan Suara Untag Banyuwangi juga membawakan lagu Umbul-Umbul Blambangan. Iramanya yang rancak mampu menghadirkan suasana lokal Banyuwangi yang heroik lewat lagu ciptaan Andang CY itu.

Rektor Untag Banyuwangi Drs Andang Subaharianto, MHum menyampaikan laporan kegiatan selaku tuan rumah dan penyelenggara. Dalam sambutannya, Andang menyampaikan keprihatinan karena beberapa waktu belakangan ini kampus disorot oleh banyak kalangan. Kampus sempat dituding sebagai penyemai ideologi anti-Pancasila, penyemai paham radikal atau fundamentalisme. ”Kampus dianggap berkontribusi terhadap semakin banyaknya generasi muda Indonesia yang terpikat oleh ideologi  radikal yang anti-Pancasila, intoleransi,” katanya.

Kampus dinilai telah abai terhadap persoalan mendasar kebangsaan yakni nation and character building. Kampus dianggap tidak memiliki strategi dan program yang sistematis dan visioner dalam kerangka nation and character building. ”Secara pribadi saya mengamini tengarai tersebut. Kampus nyatanya telah abai atau tidak serius terhadap isu kebangsaan yang sangat mendasar bagi eksistensi NKRI. Padahal dari kampuslah generasi terdidik calon pemimpin bangsa ini dilahirkan,” paparnya.

Ditegaskan, pertemuan di Untag Banyuwangi itu dalam rangka untuk menjawabnya. Sebagai kampus yang dibidani oleh kaum nasionalis, kata dia, menjadi tantangan tersendiri. ”Kita tidak boleh berdiam diri. Kita harus berikhtiar semampu-mampunya, dengan cara masyarakat kampus,” tegasnya.

Pertemuan itu nanti diharapkan akan menghasilkan konsep kurikulum Pendidikan Pancasila di perguruan tinggi dan rekomendasi pemikiran tentang pembinaan ideologi bangsa di perguruan tinggi. Nah, Pimpinan Untag Indonesia dan PTSN bertemu di Banyuwangi juga didorong oleh kepentingan pengembangan institusi ke depan. ”Kami mengklaim PTSNI karena pijakan dasar, visi dan misi yang kurang lebih sama,” ujarnya.

Selanjutnya, selama hampir satu jam Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah memberikan sambutan pengarahan dan paparan gagasan. Politisi PDI Perjuangan itu membuka kegiatan dengan memukul gong sebanyak lima kali. Basarah didampingi Rektor Untag Banyuwangi selaku tuan rumah dan mewakili Untag se-Indonesia, serta Rektor Universitas Pancasakti Tegal Dr Burhan Eko Purwanto MHum selaku perwakilan PTSNI.

Basarah mengatakan, Pancasila harus diketahui asal-usulnya oleh generasi bangsa. Oleh karena itu, Pancasila yang tidak diketahui asal-usulnya itu harus segera diluruskan. ”Masak sih sebagai bangsa yang besar baru tahun 2016 tahu kapan Pancasila lahir?” tukasnya.

Ditambahkan, perguruan tinggi sebagai agen perubahan sosial harus dapat mengikuti keputusan negara yang telah bersepakat tentang penetapan hari lahirnya Pancasila. ”Melalui apa? Tentunya melalui kurikulum,” tuturnya.

Nah, karena melalui kurikulum membutuhkan keputusan politik dari DPR, maka perguruan tinggi swasta melakukan pembahasan sembari menunggu keputusan DPR. ”Melakukan rapat kerja dan workshop untuk memulai bagaimana merekonstruksi mata kuliah Pancasila yang selama ini merujuk kepada paradigma Orde Baru yang penuh dengan manipulatif dan distorsi, diluruskan sesuai dengan kesepakatan MPR RI dan pemerintah,” jelasnya. 

Urgensinya sangat penting. Bagaimana mungkin bangsa Indonesia bisa memahami Pancasila dengan baik kalau asal-usulnya tidak diketahui. Kalau apa yang terkandung dalam Pancasila tidak diketahui. ”Berarti Pancasila kan cuma judul-judulan saja,” sergahnya.

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia