Jumat, 22 Nov 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Banyuwangi

Penerbangan Internasional di Banyuwangi Dimulai 18 Desember

10 November 2018, 10: 15: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

SUVENIR: Suasana salah satu gerai oleh-oleh di desa Blimbingsari yang berada di sekitar Bandara Banyuwangi.

SUVENIR: Suasana salah satu gerai oleh-oleh di desa Blimbingsari yang berada di sekitar Bandara Banyuwangi. (Shulhan Hadi/RaBa)

Share this          

BLIMBINGSARI – Penerbangan perdana rute internasional dari Bandara Banyuwangi direncanakan pada 18 Desember 2018. Rute pertama adalah Banyuwangi-Kuala Lumpur, Malaysia.

Kepastian penerbangan internasional itu disampaikan Bupati Abdullah Azwar Anas saat bertemu pelaku UMKM dan pelaku wisata Kamis lalu (8/11) di Pendapa Shaba Swagata Blambangan.

Pada kesempatan itu, Anas belum menyebutkan maskapai apa yang akan melayani rute perdana internasional itu. Hanya saja, Anas meminta semua pelaku UMKM dan pelaku wisata Banyuwangi untuk menyambut penerbangan internasional itu secara baik.

Pembukaan rute internasional itu, kata Anas, akan mendatangkan peluang besar bagi warga Banyuwangi.

Karena itu, keberadaan UMKM terutama yang bergerak dalam produksi dan penjualan suvenir perlu diperkuat.

Saat ini, kualitas komunikasi para pramuniaga di pusat oleh-oleh belum semuanya mumpuni dalam melayani tamu asing. Selain itu, dari sisi produk makanan di sekitar Bandara Banyuwangi bisa dibilang belum tersedia. Pelaku UMKM pun harus menangkap peluang ini untuk mengupayakan jenis makanan yang bisa di makan di lokasi atau dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi M. Yanuarto Bramuda menyebutkan, pihaknya selalu mengevaluasi dan memantau perkembangan kunjungan wisatawan. Semua itu tidak lain untuk menyesuaikan SDM para pelaku pariwisata dengan tamu yang ada. ”Wisatawan yang datang akan selalu dibarengi dengan peningkatan kapasitas SDM,” ucapnya.

Mengenai bahasa, Bram menyebutkan hal ini tidak bisa dihitung ketika tamu asing datang para pelaku usaha harus sudah mumpuni. Dia mencontohkan Bali, masyarakat di sana mahir berbahasa Inggris karena berbaur dengan wisatawan asing setiap hari, sehingga memaksa warga untuk terbiasa dan bahkan bisa berkomunikasi dengan bahasa asing.

(bw/sli/ics/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia