Selasa, 20 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Banyuwangi

Ini Cara Petani Banyuwangi Menghasilkan Buah Naga Melimpah

Rabu, 07 Nov 2018 07:00 | editor : Ali Sodiqin

KONTROL MALAM HARI: Seorang petani buah naga di Desa Sambimulyo, Kecamatan Bangorejo memeriksa bunga naga yang ditanam di samping rumahnya.

KONTROL MALAM HARI: Seorang petani buah naga di Desa Sambimulyo, Kecamatan Bangorejo memeriksa bunga naga yang ditanam di samping rumahnya. (Shulhan Hadi/RaBa)

Panen melimpah menjadi dambaan semua petani buah naga. Di luar musim berbuah, petani terus ”memacu” tanamannya lewat teknologi sederhana bola lampu. Berkat inovasi ini panen pun melimpah. Kebun buah naga pun berubah menjadi ladang cahaya.   

Produksi pertanian hortikultura di Banyuwangi boleh dibilang cukup bagus untuk pasar Jawa. Selain jeruk, para petani khususnya di kawasan Banyuwangi Selatan memiliki produk unggulan yang kini menjadi primadona, buah naga. Kemudahan dalam perawatan membuat banyak petani mencoba menanamnya di sawah menggantikan tanaman padi. Di samping itu, harga jual buah yang masih berjenis kaktus ini juga cukup tinggi.

Persoalannya, buah naga tidak bisa berbuah setiap saat. Di bulan-bulan tertentu, biasanya mulai dari Februari hingga September, tanaman ini tidak berbuah. Kondisi ini membuat sebagian petani memutar otak agar produktivitas buah ini berlangsung terus-menerus. Ide cemerlang pun muncul. Perangsangan pembuahan dengan  menggunakan lampu menjadi tren di kalangan petani. Penggunaan lampu ini menjadi temuan berharga bagi petani.

Petani seolah berlomba memasang lampu di kebun buah naga yang mereka miliki. Untuk pembiayaan, modal yang mereka keluarkan mencapai puluhan juta. Mereka tertarik setelah melihat teman yang lain berhasil menggunakan metode ini. Kendati demikian, para petani mengaku tidak tahu menahu siapa yang pertama kali melakukan uji coba ini.

Dwi Nuryanto, 35, petani di Desa Sambimulyo Kecamatan Bangorejo menuturkan,  pemasangan lampu ini untuk menambah penyinaran matahari. Di kebun miliknya lampu-lampu ini dinyalakan selama enam jam selama 15 hari. ”Kita nyalakan mulai petang sampai tengah malam,” jelasnya.

Secara teknis, pilihan waktu menghidupkan lampu berbeda-beda di antara petani. Namun, pihaknya memilih menghidupkan lampu mulai petang dengan logika menyambung penyinaran matahari. Hal ini dilakukan di luar musim naga berbuah. ”Menurut saya ini untuk penambahan sinar matahari,” ucapnya.

Untuk memiliki lampu, biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Sebagai gambaran untuk biaya pemasangan lampu di lahan seluas seperempat bau petani harus merogoh kocek senilai Rp 20 juta hingga Rp 25 juta. Angka ini masih harus ditambah biaya rekening listrik setiap penggunaan. ”Biayanya macam-macam, bisa sampai Rp 25 juta,” terangnya.

Para petani rela mengeluarkan biaya dan tenaga ekstra untuk pemasangan lampu karena mengejar keuntungan yang lebih besar di luar musim.  Sebagai perbandingan, saat musim panen buah naga, rata-rata harga di bawah Rp 10 ribu. Sedangkan ketika tidak sedang musim buah harga bisa digenjot hingga Rp 25 ribu per kilogram. ”Kalau pas musim biasanya paling tinggi Rp 10 ribu. Lha kalau pas tidak musim kan bisa Rp 30 ribu,” jelasnya.

Joko Midianto, petani yang juga pedagang buah naga menyebutkan, meski sudah lama memiliki kebun buah naga, dia baru memasang lampu dua tahun ini. Untuk pemasangan, dia menghubungi petugas PLN. Prosesnya pun tidak ribet, asal ada uang ada barang. ”Ya asal bilang ke PLN beres, langsung dikerjakan,” ujarnya menceritakan pemasangan lampu di tempatnya.

Kala itu, dia merogoh kocek Rp 25 juta untuk dua lahan dengan luas keseluruhan tiga perempat bau. Sedangkan untuk biaya listrik dalam setiap penyinaran kurang lebih Rp 7 juta. Jika kondisi normal, biaya tersebut bisa ditutup dalam sekali panen. Sebagai perhitungan, di lahan tersebut terdapat kurang lebih 200 titik.

Jika setiap tiang saja bisa menghasilkan 25 butir buah –dengan berat setiap buah 2 ons–  maka didapati berat 5 kg. Jika dikalikan 200 titik tiang buah maka terdapat angka 1.000 kg. Jika harga mencapai Rp 25 ribu per kilogram, setidaknya didapatkan pendapatan Rp 25 juta.

Kendati demikian, tidak selamanya semua berjalan sesuai rencana. Terkadang tanpa sebab pasar juga memburuk. ”Seperti sekarang ini, barang tidak ada, tapi harga juga jelek. Katanya sekilo buah naga hanya Rp 4.000,” ujarnya.

(bw/sli/aif/als/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia