Selasa, 20 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Lifestyle

Zaman Kian Modern, Anak Muda Ini Tetap Lestarikan Tradisi Rebo Wekasan

Selasa, 06 Nov 2018 18:43 | editor : Ali Sodiqin

Warga Desa kelir menikmati sego golongan di pinggir jalan desa setempat kemarin (6/11)

Warga Desa kelir menikmati sego golongan di pinggir jalan desa setempat kemarin (6/11) (Kroirul Umam For RaBa)

KALIPURO – Tradisi Rebo Wekasan masih tetap dilestarikan oleh sebagian masyarakat Banyuwangi hingga saat ini. Salah satunya adalah warga Dusun Krajan, Desa Kelir, Kecamatan  Kalipuro. Selasa sore kemarin (6/11), sekitar pukul 16.30 warga desa ini menggelar selamatan sego golong di pinggir jalan desa setempat.

Menariknya, peserta selamata Rebo Wekasan yang dipusatkan di pinggir jalan desa ini didominasi anak-anak muda. Mereka berusia sekitar 17 hingga 30 tahun. Dalam budaya Jawa, tradisi ini rutin digelar tiap Rabu terakhir di Bulan Safar atau bulan ke-2  dari 12 bulan penanggalan Hijriyah. “Tujuan selamatan sego golong ini untuk menolak bencana atau tolak balak. Juga agar rezeki kita makin ditambah dan barakah,” ujar Khairul Umam, 25, warga setempat.

Menurut Umam, masyarakat Desa Kelir sebetulnya tidak terlalu mengenal istilah Rebo Wekasan yang lebih umum dikenal sebagai budaya Jawa. “Namun, mereka lebih mengenalnya dengan istilah sego golong atau sego golongan,” ungkap Umam.

Muhlis, warga lainnya mengatakan, hidangan yang disajikan  dalam tradisi ini berupa nasi putih yang dibentuk bulatan  sebesar kepalan tangan orang dewasa. Untuk lauknya biasanya didominasi telur bulat. Bisa yang  sudah diberi ragi, atau dibiarkan utuh.

“Yang unik dari tradisi ini,  hidangan semuanya berasal dari  warga. Biasanya satu keluarga membawa dua atau tiga sego golong,” katanya. Pada sore hari menjelang Maghrib, sego golong ini lantas dikumpulkan di pinggir jalan secara berkelompok. Satu  kelompok berisi 15-20 keluarga.  Selanjutnya, mereka melantunkan  dzikir dan doa-doa.

“Setelah selesai, mereka lantas makan  secara bersama-sama. Sego golong miliknya tidak boleh dinikmatinya sendiri. Melainkan harus memakan milik orang lain. Artinya saling tukar-menukar makanan,” pungkas Muhlis.

(bw/rri/als/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia