Selasa, 20 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Kolom
Opini

Tantangan dan Prospek Pendidikan Diploma di Era New Economy

Oleh: Afen Sena

Selasa, 06 Nov 2018 18:16 | editor : Ali Sodiqin

Tantangan dan Prospek Pendidikan Diploma di Era New Economy

SEKTOR Pendidikan Nasional memasuki perkembangan baru. Dalam perkembangannya, sektor ini telah mendapat sorotan dari masyarakat dan para pelaku pendidikan. Perkembangan makro ekonomi nasional maupun dunia memperlihatkan tanda-tanda yang sangat dinamis. Walaupun sebagian pengamat berpendapat bahwa perbaikan ekonomi kita seharusnya masih bisa lebih baik lagi.

Masih diperlukan berbagai usaha dan kerja keras untuk meningkatkan kualitas SDM. Khususnya, tenaga kerja yang mampu bersaing secara regional maupun internasional. Angka pengangguran secara perlahan terus merayap naik, termasuk yang berstatus setengah penganggur. Dalam kondisi seperti ini, sudah seharusnya pelaku pendidikan terus melanjutkan pengembangan SDM nasional secara terpadu dan terarah.

Program Pendidikan Diploma menjadi semakin penting. Mengingat kebutuhan tenaga kerja di masa mendatang semakin ditentukan oleh beberapa faktor. Terutama yang bertumpu kepada kemampuan atau berbasis kompetensi dalam menjawab berbagai tantangan dalam tatanan ekonomi baru.

Tatanan ekonomi baru ditandai dengan terjadinya transformasi ekonomi industri yang didukung oleh telekomunikasi, teknologi informasi (IT), dan jaringan multimedia. Tentu semakin terasa penting keahlian yang dimiliki SDM serta peran mereka dalam memanfaatkan berbagai momentum ekonomi yang bisa datang secara mendadak dan tidak sempat diprediksi jauh-jauh hari sebelumnya.

Beberapa negara yang juga tergolong developing countries seperti India, Tiongkok, dan Filipina telah memetik hasil dan lebih inovatif memanfaatkan fenomena new economy untuk kemajuan bangsanya.

Sementara itu, sektor pendidikan tinggi di Indonesia telah mengalami banyak kemajuan. Hampir setiap ibu kota provinsi mempunyai perguruan tinggi swasta maupun negeri. Mulai dari Program Diploma hingga Program Doktoral.

Selanjutnya, guna memenuhi permintaan pasar tenaga kerja, dikembangkan jalur pendidikan Diploma. Sistem sekolah akademi dan politeknik dibangun untuk menampung mahasiswa di berbagai bidang studi vokasi.

Sementara itu, banyak sekali jargon yang dilekatkan kepada new economy. New economy dikenal dengan banyak istilah seperti digital economy, information economy, knowledge economy, cyber economy, internet economy, network economy, dan lain sebagainya. Information and Communication Technology (ICT) telah menjadi faktor pemicu utama timbulnya fenomena new economy. ICT dalam bahasa Indonesia dikenal juga dengan istilah telematika.

Berbagai kemajuan bidang telematika memberikan manfaat besar bagi kemajuan ekonomi suatu bangsa, selanjutnya kualitas hidup manusia. Ternyata, telematika telah menciptakan berbagai peluang dalam pembangunan ekonomi sekaligus tantangan.

Jika ditinjau dari sisi ilmu ekonomi, maka perbedaan mendasar antara new economy atau lebih dikenal dengan economics of information dengan ”old” economy atau economics of things terletak pada lima prinsip. Perbedaan tersebut adalah :

Pertama, jika mereplikasi sesuatu produk dalam ekonomi konvensional memerlukan ongkos cukup besar, maka informasi dapat direplikasi dengan ongkos mendekati nihil.

Kedua, sesuatu itu akan cepat aus, sementara informasi tidak.

Ketiga, sesuatu harus eksis atau ada di suatu tempat tertentu untuk dilihat dan diperdagangkan, tetapi informasi bisa datang dari mana saja.

Keempat, ekonomi konvensional memiliki sifat diminishing return, tetapi ekonomi di era informasi tidak memilikinya.

Kelima, sesuatu produk akan konsisten untuk pasar yang sempurna, sementara ekonomi informasi tidak memerlukan pasar yang sempurna (perfect market).

Dengan demikian kehadiran new economy di era globalisasi dan kompetisi ini pada gilirannya juga akan mengubah struktur berbagai industri. Struktur ekspor Indonesia masih mengandalkan produk bernilai tambah rendah dari industri padat karya. Sedangkan pada saat yang sama Tiongkok, India, Filipina, bahkan Vietnam, telah beranjak kepada produk IT dan produk lain yang bernilai tambah tinggi. Negara-negara tersebut telah menyiapkan langkah-langkah yang telah disesuaikan dengan paradigma ekonomi baru.

Akibatnya, tenaga kerja Indonesia menjadi tidak murah lagi dibandingkan dengan tenaga kerja yang dimiliki negara lain. Hal ini menjadi tantangan utama di era ekonomi baru.

Tantangan berikutnya adalah berlakunya AFTA maupun WTO pada saat kita masih belum pulih dari krisis ekonomi. Hal ini diperkirakan menjadi tantangan yang tidak mudah karena produsen tidak harus berlokasi di Indonesia. Untuk jenis produk dan proses pemasaran yang telah mampu memanfaatkan telematika, maka mereka akan mencari negara dengan tingkat keamanan yang lebih baik dan risiko yang lebih rendah.

Industri tidak lagi bertumpu kepada murahnya tenaga kerja. Sementara kita masih cenderung hanya menjadi pasar. Dalam 20 tahun ke depan diperkirakan struktur perekonomian Indonesia akan didominasi oleh sektor jasa. Sementara itu, pengelolaan suatu jenis jasa dan industri sudah tidak lagi bertumpu kepada satu mata rantai produksi. Maka menjadi tantangan pula untuk mengisi lapangan kerja di sektor industri yang mengutamakan berbagai kegiatan outsourcing yang semakin banyak.

Tidak pelak, semakin membuka akses partisipasi ekonomi ke daerah. Kekurangan SDM di daerah, pada umumnya akan dapat diisi oleh SDM yang sudah berpengalaman dan mempunyai kompetensi. Penetrasi tenaga kerja dari satu wilayah ke wilayah lain akan sangat ditentukan oleh skill yang sudah dimiliki. Hal ini hanya bisa dikerjakan oleh mereka yang sudah terasah pengalaman praktiknya.

Dengan kata lain, peluang SDM berkeahlian yang bisa disediakan oleh pendidikan program diploma semakin besar. Tenaga kerja yang dibutuhkan nanti akan bertambah secara lebih signifikan dari kelompok program diploma. Dengan mempertimbangkan berbagai tantangan di atas, serta memperhatikan pula keseimbangan pasokan tenaga kerja, maka prospek SDM program Diploma memasuki pasar kerja cukup besar.

Hal ini didukung oleh berbagai fakta dan kenyataan yang ada selama ini yang telah diberikan oleh program Diploma, meliputi: (1) waktu studi yang relatif lebih pendek; (2) fleksibilitas lamanya studi yang dipilih bisa disesuaikan dengan preference mahasiswa masing-masing; (3) Gaji awal yang tidak terlalu besar sehingga memudahkan untuk masuk pasar kerja (kompetitif); dan (4) Mutu lulusan selama ini tidak kalah bersaing karena kebanyakan mahasiswa program diploma memang terlatih, terampil, dan banyak dari lulusan SMU yang memang relatif lebih baik dibanding yang dari kejuruan.

Memperhatikan kondisi pendidikan diploma yang ada selama ini, peluang yang dijanjikan di era new economy, serta tantangan dan prospek yang ada di berbagai sektor industri dan jasa, dapat dikatakan bahwa pendidikan program diploma telah menjadi pengisi gap tenaga kerja terampil dan berkompeten di bursa tenaga kerja.

Namun demikian untuk lebih meningkatkan partisipasi lulusan program diploma dalam pasar dan bursa kerja nasional, regional, maupun internasional ada beberapa langkah yang sebaiknya diperhatikan oleh perguruan tinggi penyelenggara maupun oleh pemerintah. Hal itu adalah: (1) perlunya didirikan lembaga pemerintah sebagai pusat pengembangan industri terkait, lembaga regional sebagai pusat pengembangan industri di daerah, dan lembaga pemeriksa dan testing; (2) perlu pula didorong pendirian beberapa instansi yang menjadi inisiatif swasta tetapi didukung pemerintah seperti pusat promosi small medium industry, dan pusat teknologi informasi industri; serta (3) pendirian berbagai asosiasi terkait dengan kompetensi lulusan program diploma, pusat R/D untuk industri spesifik, pusat analisis produktivitas; (4) perlu terus dicarikan cara untuk mendudukkan pendidikan program diploma ke tempat yang lebih tepat dan benar dalam kerangka SPN.

Kerja sama antara komponen pemerintah, masyarakat pelaku industri, serta masyarakat pengguna jasa, maka diharapkan kontribusi lulusan program diploma yang dapat masuk pasar tenaga kerja di era new economy akan menjadi lebih besar serta semakin bermutu.(*)

*) Kepala Akademi Penerbang Indonesia (API) Banyuwangi.

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia