Selasa, 20 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Kolom
Man Nahnu

Si Gandrung dan Si Kesumbo

Oleh: Samsudin Adlawi

Selasa, 06 Nov 2018 18:06 | editor : Ali Sodiqin

Si Gandrung dan Si Kesumbo

BU Susi kesengsem. Terpikat legitnya durian Banyuwangi. Susi Pudjiastuti. Wanita hebat. Bukan sarjana. Tapi bisa jadi menteri. Bukan sembarangan menteri lagi. Menteri Kelautan dan Perikanan. Siapa pun tahu. Laut dunianya laki-laki. Tapi sekali lagi. Bu Susi memang wanita luar biasa. Rapornya bagus. Mengalahkan menteri-menteri laki-laki. Setidaknya begitu laporan lembaga survei. Yang memantau kinerja para pembantu presiden.

Susi penggemar buah. Khususnya durian. Ketika disodori durian oleh Bupati Abdullah Azwar Anas Sabtu lalu (3/11), dia langsung menikmatinya. ”Duriannya enak sekali. Saya bisa ketagihan ke Banyuwangi. Gara-gara durian. Enak benar duriannya,” puji Susi.

Tentu saja, Susi tidak sedang ngegombal. Durian pelangi yang dicicipnya termasuk durian super. Asli varian durian Bumi Blambangan. Kelegitannya sudah diakui. Wisatawan agro selalu menanyakannya. ”Wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara biasanya tanya dua varian durian. Kalau tidak durian pelangi ya durian merah,” kata Solihin, petani durian dari Songgon.

Solihin menjadi jujugan para penikmat durian. Dia sering menerima rombongan tamu dari luar kota. Tamunya bukan sembarangan. Rombongan  dari berbagai kementerian. Juga kantor lembaga/organisasi dari pusat. ”Maaf, Mas. Saya lagi mendampingi tamu dari Hongkong,” tulis Likin –panggilan karib Solihin, ke WA saya. Disusul foto wisatawan dari Hongkong. Sedang memegang durian merah. Sambil menikmatinya.

Likin juga menjadi langganan pemkab. Khusus tamu yang suka durian, pemkab langsung mengontak Likin. Dia bawa durian sekarung. Naik motor. Dari Songgon. Jangan-jangan durian pelangi yang disantap Bu Susi kemarin juga dari Likin ya. Hahaha....

Yang pasti, durian Likin dijamin legit. Juga pilihan. Saat menjamu 150 direktur dan manajer Jawa Pos Radar se-DIY, Jateng, Jatim, dan Bali pertengahan Oktober lalu, saya juga mborong durian Likin. Sambil menikmati Kopai Osing. Di sanggar Genjah Arum, Kemiren. Likin tidak lepas tangan. Dia menjadi volunteer. Membukakan durian. Sambil memberi edukasi. Jenis apa saja durian yang dibukanya. Alhamdulillah, semua tamu saya puas. Mereka menikmati durian sambil geleng-geleng: ”Ini durian luar biasa. Dagingnya kecil, tapi legitnya bukan main. Ditambah penjelasan dari Pak Likin. Kami mendapat ilmu tentang durian. Khususnya durian Banyuwangi,” kata Sholihudin, Direktur Jawa Pos Radar Bromo.

Pengetahuan Likin soal durian tak diragukan. Lahir dan besar di Desa Pakis, Kecamatan Songgon, Likin hidup dalam keluarga durian. Usianya masih relatif muda. 46 tahun. Tapi pengetahuannya tentang durian jangan ditanya. Sama seperti Susi, Likin juga bukan sarjana. Pernah sekolah di SD. Hanya dia mau belajar. Kota-kota penghasil durian dua datangi. Sebut saja Ranca Maya Bogor, Banjarnegara, Wonosobo, Magelang, Rawapening, Trenggalek. Bahkan, dia juga berkelana sampai pedalaman Kalimantan dan Medan. Itu dia lakukan dengan satu tujuan: mempelajari durian!

Bagi Likin durian adalah bagian hidupnya. Saban hari hidupnya dihabiskan bersama pohon durian. Di kebun durian miliknya. Warisan para sesepuhnya. Dia bercakap-cakap dengan pohon durian. Dia pun tahu karakter pohon-pohon duriannya. Jika duriannya telat berbuah, dia ajak bicara. Kenapa? Minta apa? ”Alhamdulillah, pohon durian saya setahun ini buah terus,” katanya.

Metode mengakrabi pohon durian itu Likin tularkan kepada para petani durian lainnya. Dia terus kampanye. Mengajak para pemilik pohon di durian di desanya untuk merawatnya. Tidak hanya mengeksploitasi. Hasilnya kini mulai bisa dirasakan. Pamor Songgon sebagai kota durian mulai kembali bersinar. Banyak orang saban hari datang ke Songgon. Mencari durian. Bahkan, mulai tahun ini pemkab Banyuwangi membuat Festival Durian di Songgon. ”Alhamdulillah, perjuangan kami membuahkan hasil,” tutur Likin.

Tapi Likin tetaplah Likin. Pemuda desa yang bersahaja. Dia memilih di belakang layar saja. Sambil terus membimbing dan membina petani duriannya lainnya. Dia selalu mengajak tamunya dari berbagai kota keliling. Melihat pohon-pohon durian. Yang ada di hampir setiap rumah dan pekarangan warga Songgon. Saya beberapa kali ke Songgon. Tidak hanya melihat pohon durian. Ternyata juga ada pohon manggisnya.

Likin kini merawat 37 pohon durian. Semua ditanam kakeknya. Rata-rata berusia 75 tahun. Pohonnya besar. Dahan dan rantingnya lebat sangat. Sekali buah minimal 500 biji. Sebagai perawat pohon durian, Likin merasakan penyesalan berkepanjangan. Dia rasakan hingga kini. Dua pohon durian milik nenek buyutnya telah ditebang. Beberapa tahun silam. Saat dia belum begitu jatuh cinta sama durian. Pohon durian itu berusia 400-an tahun.  Yang satu bernama si Gandrung. Satunya si Kesumbo dibayangkan tinggi dan lebar diameternya. Sekali berbuah 350 sampai 500 biji lebih. ”Sayang keduanya sudah ditebang. Si Gandrung ditebang 2008. Si Kesumbo 1998,” sesal Likin.

Disebut si Gandrung karena warna dagingnya merah. Hampir sama dengan Si Kesumbo. Cuma Si Kesumbo agak warna-warni. Mungkin cikal bakal durian merah dan durian pelangi ya si Gandrung dan si Kesumbo itu. Perkiraan Likin. Selain si Gandrung dan si Kesumbo, varian asli Songgon juga ada si Selpi (warna daging keoranye-oranyean). Ada juga si Panggung (warna daging putih susu). Lalu si Keranjang yang dagingnya tipis.
   
Kehilangan si Gandrung dan si Kesumbo, kini Likin mewanti tetangganya agar tidak menebang pohon duriannya. Sebab, usianya lumayan tua: 250 tahun. Likin selalu membawa para tamunya ke pohon durian uzur itu. Sebagai bukti bahwa Songgon memang layak disebut kota durian. Di Banyuwangi. Melihat usia beberapa pohon durian yang disebut Likin, berarti durian Songgon sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Kata Mbah-Mbahnya Likin, dulu di Songgon ada durian bernama si Jenewer. Aromanya sangat kuat dan bisa membuat mabuk. Kalau kebanyakan. Hahaha....

Wa ba’du. Songgon kini sudah sah menjadi Kota Durian. Basis durian. Sudah masuk agenda Banyuwangi Festival. Likin ikut bangga. Tentu saja. Tapi dia tetap seperti dulu. Bercengkerama dengan pohon-pohon durian. Merayu mereka agar tidak ngambek. (@AdlawiSamsudin)

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia