Selasa, 20 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Features

Ini Terjadi di Pedalaman Banyuwangi, Satu Kampung Hanya Ada 13 Siswa

Senin, 05 Nov 2018 07:10 | editor : Ali Sodiqin

KECIL: Bangunan rumah belajar Tunas Harapan di Dusun Tlocor, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu yang dibuat belajar siswa SDN 7 Jambewangi.

KECIL: Bangunan rumah belajar Tunas Harapan di Dusun Tlocor, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu yang dibuat belajar siswa SDN 7 Jambewangi. (Sukamto For RaBa)

Rumah belajar Tunas Harapan itu berada di tengah perkebunan, masuk wilayah Dusun Tlocor, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu. Di kampung itu, hanya ada 20 kepala keluarga (KK). Sementara itu, sekolah terdekat yakni SDN 7 Jambewangi jaraknya sekitar tujuh kilometer dari dusun tersebut.

BAGUS RIO ROHMAN, Sempu

Bangunan yang ada di tengah perumahan warga di tengah kebun itu, seperti bukan sekolahan. Dengan ukuran enam meter kali lima meter yang semua bahannya dari kayu dengan atap dari asbes, bentuknya mirip gubuk atau tempat orang istirahat. 

Bangunan yang seperti gubuk itu, ternyata sangat bermakna bagi warga yang ada di tengah perkebunan itu. Itu adalah rumah belajar Tunas Harapan yang berlokasi di Dusun Tlocor, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu. ”Itu tempat belajar SDN 7 Jambewangi. Oleh warga disebut rumah Tunas Harapan,” ujar Kepala SDN 7 Jambewangi Sukamto.

Rumah Tunas Harapan itu dibangun secara gotong royong oleh warga di kampung itu. Bangunannya sederhana dengan penerangan yang sangat minim. ”Namun, semangat belajar para siswa sangat tinggi,” katanya.

Pembangunan rumah belajar Tunas Harapan sudah lama direncanakan. Itu karena jumlah siswa di Dusun Seling dan Dusun Tlocor membeludak. ”Dulu jumlah siswa di dua dusun itu ada 42 anak, lalu kita ingin membuat tempat belajar di kampung itu,” katanya.

Lokasi di dua dusun dengan SDN 7 Jambewangi, itu jaraknya sekitar tujuh kilometer. Dengan jarak itu, banyak siswa dari kedua dusun itu yang terlambat. ”Agar tidak terlambat ke sekolah, kita ingin membangun tempat belajar,” ujarnya seraya menyebut kalau para siswa itu tidak ada yang mengantar ke sekolah.

Untuk membangun rumah belajar, tentu tidak mudah. Apalagi, biaya yang dibutuhkan juga cukup tinggi. Sedang sekolah sendiri, juga tidak ada dana. ”Kita sosialisasikan dengan warga di kampung pedalaman, ternyata mendukung,” ungkapnya.

Hingga akhirnya dengan gotong royong dibuat rumah belajar Tunas Harapan itu. Untuk biaya dalam pembangunan, semuanya swadaya masyarakat. ”Akses jalan menuju ke dua dusun itu juga sangat jelek,” tuturnya.

Untuk proses belajar mengajar di rumah Tunas Harapan itu, ada dua relawan yang menjadi guru. Keduanya Ikul Prasetyo dan Andi Prasetyo. ”Untuk belajarnya itu seluruh siswa masuk dan kumpul jadi satu ruangan. Dua guru mengajar dengan bergantian setiap harinya. Untuk jadwal pelajaran disamakan dengan jadwal di SDN 7 Jambewangi,” ungkapnya.

Di rumah Tunas Harapan itu, siswanya hanya 13 anak. Jumlah itu mulai Taman Kanak-kanak (TK) hingga SD kelas I sampai IV saja. Sedangkan untuk siswa yang sudah menginjak kelas V dan VI, diwajibkan masuk di SDN 7 Jambewangi. ”Kelas V dan VI itu harus belajar lebih serius karena menghadapi Ujian Nasional (UN),” katanya.

Dua relawan yang mengajar di rumah Tunas Harapan Ikul Prasetyo dan Andi Prasetyo mengaku untuk mengabdi harus menempuh jarak enam kilometer dari SDN 7 Jambewangi dengan jalan yang rusak berat. ”Jaraknya memang lumayan, karena melihat anak-anak semangat belajar tinggi, membuat saya senang,” ujar Ikul Prasetyo.

Untuk menuju ke rumah Tunas Harapan, Ikul harus menempuh jalan bebatuan. Jalan yang rusak itu, harus ditempuh satu jam hingga lebih. Tidak jarang, jam masuk belajar dimulai pada pukul 09.00. ”Kadang saya sampai sana siang, para siswa menunggu kita untuk belajar,” katanya.

Untuk pengajaran, para siswa mulai TK sampai SD kelas I–IV diberi buku. Buku yang diberikan itu berbeda-beda sesuai tingkatannya. Sedang untuk menjelaskan, maka dilakukan dengan bergantian. ”Kadang kita tangani dulu yang TK, habis itu yang SD kelas I hingga kelas IV. Siswanya tidak banyak dan itu mudah dilakukan,” ujarnya.

Di Dusun Tlocor, Desa Jambewangi jumlah siswanya hanya sedikit. Bahkan di Dusun Seling, Desa Jambewangi, lebih sedikit lagi. ”Di Dusun Tlocor dan Seling hanya 13 anak yang sekolah. Warga di Dusun Tlocor itu hanya ada 20 KK, sedang di Dusun Seling ada 7 KK saja,” jelasnya.

Ikul tidak membayangkan bila 13 anak yang kini belajar itu telah lulus. Apakah rumah belajar Tunas Harapan yang dibangun warga itu tetap menjadi ruang belajar lagi atau tidak. ”Kalau bisa dibuat tempat membaca, agar masyarakat tidak buta huruf. Hanya saja kita kekurangan buku,” ungkapnya.

Untuk iuran membeli buku, itu tidak mungkin. Sebab, masyarakat yang ada di dua dusun itu sebagian besar ekonomi lemah. ”Masyarakat ingin jalan segera dibenahi, agar akses untuk mengantar anak sekolah bisa lebih cepat dan bisa menjual hasil panen ke kota,” pungkasnya. (abi)

(bw/rio/als/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia