Selasa, 20 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Kolom
Man Nahnu

Arboretum Bambu

Oleh: Samsudin Adlawi

Rabu, 24 Oct 2018 16:34 | editor : Ali Sodiqin

Arboretum Bambu

PEMBANGUNAN itu berkah. Bisa membuat rakyat sejahtera. Meski begitu tidak boleh membabi buta. Asal membangun. Tanpa memikirkan dampaknya. Baik jangka pendek, menengah, maupun panjang. Jadi pembangunan harus dikendalikan. Apa pun bentuknya. Termasuk pembangunan pariwisata. Yang lagi ngetren sekarang.

Dalam waktu singkat, imbas pembangunan (mungkin) sulit dilihat. Apalagi dirasakan. Karenanya mari kita pikirkan jangka panjangnya. Minimal jangka menengah. Pasti kita akan merasakan impact-nya.

Saat ini mulai banyak investor berinvansi ke Banyuwangi. Banyak mobil bernopol DK seliweran. Kebanyakan mengarah ke Glagah dan Licin. Mereka dan juga warga lokal membangun homestay, vila, rumah makan, sampai hotel. Itu bagus. Naluri bisnis mereka jalan. Penciumannya tajam. Mencium bau uang. Mereka tahu, belum banyak rumah makan, vila, homestay, bahkan hotel di jalur menuju destinasi Gunung Ijen. Dan, pemerintah tak punya hak melarang mereka. Asal prosedurnya dipenuhi.

Tapi, pemerintah punya kewajiban. Terkait tanggung jawabnya kepada rakyat. Salah besar jika ada pemimpin yang membebaskan investor jor-joran membangun apa saja. Tapi 10 tahun atau 20 tahun mendatang terjadi bencana di Banyuwangi. Bencana itu macam-macam. Mulai bencana alam sampai bencana sosial. Untuk bencana alam saya kesampingkan. Bukan berarti tidak penting. Tapi, saya bahas secara khusus di tulisan-tulisan berikutnya.

Saya fokus ke bencana lainnya. Terkait dengan krisis air. Saat ini, air di Bumi Blambangan masih melimpah ruah. Selain segar, debitnya juga besar. Orang luar Banyuwangi sampai berkata: sangat beruntung bisa hidup di Kota Gandrung. Saban hari menikmati air yang jernih. Beda dengan di daerah lain. Seperti Surabaya, Gresik, Sidarjo, dan sekitarnya. Di sana sebagian besar warganya minum air hasil sulingan.

Nah, mata air-mata air di Banyuwangi itu harus dilindungi. Jadikan kekayaan konservasi. Dan, mayoritas mata air yang dimanfaatkan warga Kota Banyuwangi berada di atas: di wilayah Kecamatan Glagah dan Licin. Sebut saja, sumber air Kalongan dan Gedor. Di lain pihak, saat ini di dua kecamatan di kaki Gunung Ijen itu sedang bergeliat investasi. Mumpung nasi belum menjadi bubur, mumpung kedelainya belum berubah menjadi tempe, pemkab Banyuwangi seyogianya mulai memikirkan ”pagar”. Agar pembangunan di Glagah dan Licin tidak ngawur.

Pagar itu berupa perbup (peraturan bupati), misalnya. Atau perda (peraturan daerah). Atau apalah. Yang penting isinya: kewajiban melakukan revitalisasi hutan bambu. Atau menghutankan kembali tanah negara yang tidak dikelola (untuk tidak menyebut terbengkelai) secara produktif. Caranya, sekali lagi, dengan menanam pohon bambu.

Kenapa harus bambu. Sangat sederhana. Alasan sejarahnya: nama Banyuwangi mengandung air. Frasa ”Banyu” dan ”Wangi”. Banyu artinya ’air’. Alasan geografis. Sekitar sumber mata air di wilayah Licin dan Glagah dulunya banyak sekali ditemukan bambu. Bahkan, menurut cerita para orang tua, ketika masih banyak rumpun-rumpun bambu di sekitar aliran Kali Lo –terutama di daerah hulu– debit air sungai yang membelah kota the Sunrise of Java itu besar sekali. Bisa dilalui perahu. Sampai di Jembatan Kontinental. Bahkan, sampai di jembatan selatan Masjid Jami’ Baiturahman.

Mengapa bambu. Bambu adalah tumbuhan terbaik di dunia. Sebagai tumbuhan penghasil mata air. Mengalahkan pohon beringin. Yang sudah lama menjadi tumbuhan penghasil mata air. Selain itu, akar bambu sangat kuat. Dalam menjaga tanah dari erosi. Bahkan, ketika bambu ditebang, akarnya masih dapat berfungsi. Sebagai pencegah pengikisan. Ini kelebihan bambu lainnya. Tanaman bambu menghasilkan 35% oksigen lebih banyak daripada tanaman lainnya. Satu hektare tanaman bambu mampu menyerap 12 ton karbondioksida dari udara. Empat kali lebih banyak daripada tanaman lainnya.

Tidak butuh waktu lama menjadikan bambu sebagai sumber mata air baru. Cukup menunggu 2–3 tahun. Bambu dikenal sebagai tanaman yang sangat irit terhadap air. Dalam penyerapannya, bambu hanya mengambil 10% untuk penguapan dan 90% untuk mata air. Sangat baik bagi kita dengan kondisi yang sangat kurang air. Hasil studi dari Akademi Beijing dan Xu Xiaoging, tanaman bambu yang ditanam di sepanjang DAS (Daerah Aliran Sungai) mampu menambah 240% air bawah tanah lebih besar dibandingkan tanaman pinus.

Tunggu apa lagi. Demi menjaga kelestarian sumber mata air. Demi menjaga lingkungan secara umum. Pemkab Banyuwangi harus progresif. Menerbitkan peraturan khusus: tentang perlindungan terhadap bambu di Banyuwangi. Kelak, ketika sudah ada gerakan penghutanan kembali tanaman bambu, Banyuwangi layak menjadi arboretum bambu. Semacam Taman Safari mini. Tempat berbagai jenis pohon bambu ditanam. Dan dikembangbiakkan. Untuk tujuan penelitian dan pendidikan. Pak Sigit Pramono sudah memulainya. Pemilik Taman Gandrung Terakota itu tergolong investor ”gila”. Dia bukan orang Banyuwangi. Tapi memikirkan Banyuwanginya dalam sekali. Melebihi orang yang lahir di Banyuwangi. Dia memikirkan konservasi mata air di Banyuwangi. Usaha yang tak pernah kita dengar selama ini. Dari warga Banyuwangi.

Di sekitar Taman Gandrung Terakota yang baru dibangunnya, banker itu sudah menanam 58 jenis bambu. Bibitnya dari Indonesia dan dari berbagai negara lain. Sekarang pohon-pohon bambu itu sudah tumbuh. Tapi masih pendek. Tinggi baru sekitar 20-100 cm. ”Tahun depan bambu-bambu itu sudah mulai terlihat,” kata Sigit.

Kelak, arboretum bambu di Desa Tamansari, Kecamatan Licin itu akan menjadi tempat belajar dan penelitian bambu. Kampus dalam dan luar negeri bisa mengirim mahasiswanya. Belajar dan menilit bambu. Insya Allah. (@AdlawiSamsudin)

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia