Selasa, 20 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Features
Geliat Pendampingan Sekolah PKH di Banyuwangi

Angkat Ekonomi Warga, Bentuk Kelompok Usaha Bersama

Senin, 22 Oct 2018 20:00 | editor : Ali Sodiqin

TERJUN LANGSUNG: Pendamping Program Keluarga Harapan Kecamatan Banyuwangi menggelar sekolah PKH di lingkungan pesisir Kampung Mandar, Minggu (21/10).

TERJUN LANGSUNG: Pendamping Program Keluarga Harapan Kecamatan Banyuwangi menggelar sekolah PKH di lingkungan pesisir Kampung Mandar, Minggu (21/10). (Dedy Jumhardiyanto/RaBa)

Kegigihan pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Kecamatan Banyuwangi patut diapresiasi. Delapan anak muda yang menjadi pendamping PKH mampu merintis dan membina Kelompok Usaha Bersama (Kube) dan menciptakan produk untuk menunjang perekonomian warga.

DEDY JUMHARDIYANTO, Banyuwangi

Suasana kampung nelayan di Lingkungan/Kelurahan Mandar mendadak ramai. Sebulan sekali dipastikan perkampungan nelayan tersebut selalu rutin dilakukan pertemuan. Pertemuan tersebut bukanlah arisan melainkan pertemuan ibu-ibu para Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dari PKH.

Pertemuan itu digelar rutin dengan sangat sederhana dengan beralaskan tikar dan peralatan seadanya. Di tengah keterbatasan peralatan dan alat peraga tidak menyurutkan semangat para KPM PKH dalam menyimak serta mengikuti setiap  kegiatan pembelajaran program Familiy Development Session (FDS).

Mereka tampak khidmat mendengarkan arahan para pendamping. Sesekali para pendamping PKH juga mengajak warga yang sebagian besar adalah ibu-ibu untuk bermain game bersama-sama. Seru-seruan itu dilakukan untuk memecah suasana agar tidak monoton dan membosankan di tengah acara sesi sekolah PKH.

Secara kebetulan, sore itu warga yang berkumpul jumlahnya cukup banyak. Sebagaian besar  ibu-ibu menggendong putra-putrinya. Terkadang pertemuan juga digelar di sebuah gang sempit yang terjangkau untuk warga. Yang terpenting, sekolah PKH tersebut bisa dilaksanakan rutin setiap minggunya.

Sri Puji Rahayu, 29, salah seorang pendamping PKH mengatakan, sekolah tersebut merupakan salah satu cara untuk memberikan pemahaman sekaligus pendampingan kepada KPM untuk merubah sistem pola pikir dan pola asuh warga dalam upaya peningkatan kehidupan keluarga yang lebih baik.

“Jadi selama ini, kami turun langsung kepada para keluarga penerima manfaat ini kami berikan wawasan dan pengetahuan layaknya sekolah, ada absennya. Dalam pertemuan kita berikan modul pengasuhan anak, peningkatan ekonomi keluarga dan kesehatan serta gizi keluarga,” ungkapnya.

Kegiatan pendampingan dalam bentuk sekolah PKH, kata Rahayu, dicanangkan oleh Kementerian Sosial dan merupakan kebijakan yang belum lama berjalan di semua kecamatan di Banyuwangi. Namun dalam praktiknya di lapangan bisa berbeda-beda antar pendamping kecamatan satu dengan kecamatan lainnya.

Sejauh ini, bentuk pemberdayaan yang telah dilakukan oleh tim pendamping Kecamatan Banyuwangi adalah merintis berdirinya Kelompok Usaha Bersama (Kube Mandiri PKH yang telah dibentuk di 14 kelurahan dari 18 kelurahan di Kecamatan Banyuwangi. “Jadi Kube Mandiri ini didirikan dan dikelola langsung oleh anggota KPM dengan jumlah 10 anggota pengurus,” jelas Rahayu.

Indah Kurniawati, 28, pendamping PKH lainnya mengatakan, para pengurus Kube dipilih dari hasil seleksi para anggota KPM yang di dalamnya terdiri dari ketua pengadaan barang hingga bendahara yang mengelola keuangan setiap bulannya. Para pengurus ini juga wajib memberikan laporan dan pertanggungjawaban dalam menyusun laporan keuangan Kube.

Pembentukan Kube mandiri ini tidak hanya sebatas tempat untuk menjual sembako murah, namun juga sebagai ruang untuk memasarkan produk hasil kerajinan tangan dan hasil olahan pangan serta jamu tradisional yang diramu sendiri oleh KPM. “Salah satu Kube yang kami bina dan damping ada yang sudah mulai memproduk black garlic atau bawang putih hitam,” terang Indah.

Black garlic adalah hasil fermentasi bawang putih dengan suhu yang tinggi dan menghasilkan isi bawang putih berubah menjadi hitam. Rasanya sedikit manis, bertekstur lembut, gurih dan terasa kenyal. Black garlic merupakan produk herbal hasil pengolahan KPM Kelurahan Kampung Melayu, Kecamatan Banyuwangi.

“Saat kami turun melakukan sekolah PKH, salah satu warga KPM mengeluhkan dalam pemasaran hasil olahan black garlic ini. Akhirnya kami damping mulai dari pengolahan, pengemasan, dan pemasaran yang baik, hingga kini mampu menghasilkan tingkat penjualan yang luar biasa,” jelasnya.

Bahkan, lanjut Indah, penjual yang semula hanya pakai sistem seadanya, kini barang dagangnya diminta untuk memasok sejumlah supermarket, apotek, dan toko jamu di Banyuwangi. Selain black garlic, hasil olahan KPM Kecamatan Banyuwangi lainya yang telah dipasarkan di antaranya hasil olahan roti Maryam dari Kelurahan Lateng.

Tidak hanya itu, juga masih KUB lainnya yang mulai menggeliat dengan memproduk sejumlah bahan hasil olahan laut seperti petis dan ikan asin balado dari Kelurahan Mandar. Sementara dari Kelurahan Kepatihan juga memproduksi makanan olahan susu jagung dan baby crap atau kepiting crispy. “Kami merasa bangga jika apa yang kami lakukan bisa di implementasikan oleh warga dan berdampak terhadap kesejahteraan kehidupan warga KPM,” terang Indah.

Salah satu ketua kelompok KUBE Mandiri Kelurahan Mandar Yuliyana Andriyani, 39,  mengaku jika kegiatan pendampingan yang dilakukan oleh pendamping PKH sangat diperlukan.  Efeknya langsung dirasakan oleh KPM.

“Saya sangat terbantu dengan adanya gagasan pelatihan dalam sekolah PKH yang diadakan oleh tim PKH Kecamatan Banyuwangi, selain bisa mengerti dan menggali ide usaha, juga dibantu dalam hal pemasaran,” cetusnya.    

Melalui sekolah PKH inilah diharapkan keluarga penerima manfaat bisa lebih berdaya, sejahtera, terampil dan berpendidikan. Sehingga mampu mengangkat dan meningkatkan kesejahteraan perekonomian, kesehatan, dan pendidikan keluarga. (ddy/aif)

(bw/ddy/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia