Minggu, 21 Oct 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Features
Erna Tri Puji L., Wisudawan Terbaik Poliwangi

Segera Daftar Hak Paten Tepung Labu untuk Kefir

Minggu, 07 Oct 2018 16:49 | editor : Ali Sodiqin

THE BEST: Erna Tri Puji Lestari.

THE BEST: Erna Tri Puji Lestari. (Arnindhita/RaBa)

Dari 249 mahasiswa Ahli Madya dan Sarjana Terapan Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi), nama Erna Tri Puji Lestari muncul sebagai yang terbaik. Dia memungkasi kegiatan belajar di kampus dengan mengangkat penelitian tentang pemanfaatan labu untuk tambahan susu fermentasi. 

SHULHAN HADI, Kabat

ADA yang berbeda dengan suasana Hotel eL Royale siang itu. Deretan kendaraan berbagai jenis memadati double way di sisi selatan Hotel eL Royale. Hari itu menjadi hari berbahagia bagi seluruh civitas academica Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi).

Rasa gembira disertai di tengah suasana khidmat itu sangat tampak di ballroom eL Royale. Terutama bagi para pemakai toga, baik jajaran direktur yang dipimpin H Son Kuswadi  Dr Eng, maupun 249 mahasiswa yang duduk rapi berdasarkan program studi masing-masing.

Suka cita juga tampak di wajah para keluarga dan kerabat yang antusias menyimak setiap proses. Disaksikan lebih dari seribuan orang, Erna Tri Puji Lestari, 22, mahasiswi program Studi Teknologi Pengolahan Hasil Ternak dinyatakan sebagai lulusan dengan IPK tertinggi. Indeks Prestasi Komulatif (IPK) mencapai 3,95, mendekati nilai sempurna. Menariknya, tugas akhir yang dikerjakan gadis asal Desa Randuwatang, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang, Jawa Timur ini berkaitan dengan labu. Buah labu sendiri memang banyak tersedia di Banyuwangi.

Awal ide tersebut muncul ketika dia sedang dalam perjalanan ke Banyuwangi. Saat itu anak ketiga dari pasangan suami istri Munasir, 58, dan Ni'ayah, 52, ini mendapati banyak labu yang dijual eceran di pinggir jalan Kabat. Dari situ, rasa ingin tahu pun bermunculan. 

Ketersediaan buah yang melimpah di Bumi Blambangan ini, ternyata kurang disertai pemanfaatan yang beragam. Dari pengamatannya, pemanfaatan buah labu di masyarakat selama terkesan hanya itu-itu saja. Di tangan warga, labu biasanya diolah dengan cara direbus dan atau dibuat penganan seperti jenang atau dodol.

Melihat peluang ini, Erna pun berpikir membuat rencana agar pemanfaatan yang lebih bernilai. ”Pemanfaatan labu yang ditambahkan ke dalam susu fermentasi, kefir,” ucapnya menyebut judul tugas akhir yang dia kerjakan.

Secara sederhana, Erna terlebih dahulu mengubah buah labu menjadi tepung. Setelah tepung labu itu terbentuk, dia mencampurkannya ke dalam kefir.

Dalam prosesnya, Erna mengakui jika tahap demi tahap bisa dibilang gampang-gampang susah. Seperti kandungan labu yang lebih banyak mengandung air. Sehingga dari satu buah labu hasil tepung yang didapat tidak banyak. Selain itu, selama proses juga dilakukan dengan cermat. Lantaran jika proses tersebut tercampuri bakteri jahat akan memakan waktu lebih lama. ”Seumpama tidak ada kontaminasi patogen, hanya perlu dua bulan,” ucapnya.

Menyadari temuan yang dihasilkan ini memiliki nilai komersial, dalam waktu dekat dia mengupayakan akan mendaftarkan penelitiannya tersebut ke dalam Hak Kekayaan Atas Intelektual (HAKI). ”Nanti ada, saya daftarkan ke HAKI,” ujarnya.

Sementara itu, menyelesaikan masa pendidikan bukan berarti dia akan langsung melupakan Banyuwangi. Menurutnya, Banyuwangi menjadi sulit dilupakan karena beragam potensi wisatanya. Baik wisata alam maupun wisata budaya. Tidak hanya itu, keramahan warga Bumi Blambangan juga menjadi salah satu alasan, dia akan terus mengingat kota tempatnya belajar ini. ”Pariwisata Banyuwangi ini bagus,” pungkasnya. (bay/c1)

(bw/sli/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia