Rabu, 24 Oct 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Kolom
Man Nahnu

Ceceran Kotoran

Oleh: Samsudin Adlawi

Rabu, 26 Sep 2018 10:00 | editor : Ali Sodiqin

Ceceran Kotoran

BERAPA jumlah orang kaya di Indonesia. Pusing menjawabnya ya. Oke. Saya persempit: berapa banyak orang kaya di Banyuwangi dan Situbondo. Masih sulit menghitungnyakah? Oke. Saya mampatkan lagi: orang kaya di Banyuwangi ada berapa. Masih susah menjawabnya? Jangan malu. Ada temannya. Saya juga kesulitan menghitungnya. Sampai sekarang. Belum pernah saya baca datanya. Sebenarnya berapa sih jumlah orang kaya di Bumi Blambangan.

Mungkin BPS (Badan Pusat Statistik) saja yang tahu. Ada baiknya datanya dibuka ke publik. Biar masyarakat tahu. Dan ikut bangga. Biar mereka bercerita. Ke mana-mana. Kepada semua orang yang dijumpainya. Terutama saat bepergian ke luar kota. Atau bahkan saat ke luar negeri.

Sudah menjadi hukum alam. Setiap orang (selalu) membanggakan daerahnya. Dalam posisi seperti sekarang, orang kota The Sunrise of Java punya hobi baru: menyebar cerita tentang kemajuan daerahnya. Ditanya atau pun tidak. Mereka dengan bangga mengabarkan kehebatan tanah kelahirannya. Berbeda jauh dengan belasan tahun silam. Ketika itu mereka sangat tertutup. Malu mengakui jati dirinya: sebagai orang Banyuwangi. Saat itu Kota Gandrung memang suram. Lekat dengan kesan menyeramkan daripada menyenangkan.

BPS, atau siapa pun yang punya, tolong buka data orang kaya di Banyuwangi. Agar masyarakat mafhum. Dan punya kebanggaan baru. Bangga sebagai warga kota yang banyak orang kayanya. Dengan catatan tebal: jangan asal cerita. Orang kaya seperti apa dulu. Jangan semua orang kaya diceritakan. Nanti malah malu-maluin. Orang kaya kan macam-macam. Ada yang bener-bener kaya. Ada yang tidak benar-benar kaya.

Yang bener-bener kaya tentu saja gayanya beda dengan yang tidak benar-benar kaya. Yang pertama hartanya benar-benar banyak. Baik uang maupun barang (bergerak dan tidak bergerak). Harta itu dari perahan keringatnya sendiri. Berkat kerja keras. Sementara golongan yang kedua menimbulkan tanda tanya. Dari mana asal hartanya.

Saat ini bermunculan orang kaya baru. Mengaku kaya tapi sebenarnya tidak benar-benar kaya. Secara kasat mata dan juga penampilannya sangat kelihatan. Sulit menyangsikannya. Rumahnya magrong-magrong. Tidak hanya besar dan luas. Tapi rumahnya juga tinggi. Berlantai-lantai. Pilar teras rumahnya segede dan setinggi tugu Monas! Mobilnya berganti-ganti. Bukan dari cethol ke cethol. Tapi mobil mewah semua. Pakaiannya apalagi. Tak ada yang tidak branded.  Pun parfumnya. Aromanya sudah tercium dari radius satu kilometer.

Tapi, meski secara fisik menunjukkan sangat kuaaaayaaa, sebenarnya ia tidak kaya-kaya amat. Di balik profil kekayaan yang dipertontonkan ada tumpukan utang. Buku rekeningnya banyak. Sebanyak utang yang disedotnya dari banyak bank. Setiap bulan ia pusing. Memutar uangnya. Menutup utang dari satu bank ke bank lainnya. Persis seperti lagu Bang Haji Rhoma Irama: gali lobang tutup lobang. Gali lobang tutup lobang//pinjam uang bayar utang.

Apa enaknya hidup seperti itu. Setiap hari dikejar-kejar tagihan. Ketika dalam mobil mewahnya teringat utang. Ketika istirahat di rumah mewahnya teringat utang. Anehnya, masih banyak orang yang justru menikmati hidup seperti itu. Meski ke sana kemari, menghadiri acara ini dan itu, naik mobil kreditan mereka tetap pede melenggang. Gayanya bahkan mengalahkan orang yang tak punya utang.

Saya jadi curiga. Jangan-jangan orang kaya yang jumlahnya banyak di daerah kita tidak benar-benar kaya. Mereka sebenarnya hanya mengaku kaya. Untuk mengangkat gengsinya semata. Makanya nekat. Kaya harta dari pinjaman pun dijalani. Sungguh menyedihkan. Padahal agama sudah mengajarkan: orang paling kaya itu yang paling nerimo. Qana’ah.

Nabi bersabda: ”Kekayaan tidaklah diukur dengan banyaknya harta, namun kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati”. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadis itu dari Abu Hurairah. Orang kaya hati nerimo. Berapa pun rezeki yang didapatkan ia tidak mengeluh. Sebab, mengeluh itu merusak hati. Orang yang hatinya rusak, ketika mendapat rezeki banyak tidak lupa bersyukur. Sebaliknya, ketika mendapat rezeki sedikit langsung emosi. Tidak sabar. Karena emosi dan malu sama orang lain (terutama tetangga dan teman) ia nekat cari utangan. Naudzubillah min dzalik.

Orang qana’ah cenderung tidak medit. Medit untuk orang lain ataupun medit terhadap diri sendiri. Kepada orang lain suka memberi. Kepada diri sendiri ia tunaikan kewajiban kepada Tuhan, Al-Razzaq. Ia yakin rezekinya tidak jatuh begitu saja dari langit. Atau tumbuh begitu saja dari perut bumi. Pasti itu semua dari Allah Swt. Maka ia keluarkan sebagian (kecil) rezekinya untuk orang yang berhak menerima (mustahik). Dalam bentuk zakat sebagai kewajiban. Juga berbentuk infak dan sedekah sebagai amal tambahan.

Melihat belum banyaknya muzakki (orang yang berzakat), munfiq (orang yang berinfak), dan mushaddiq (orang yang sedekah), saya jadi bertanya-tanya: jangan-jangan orang kaya yang banyak sekali di kota ini ternyata buka orang yang bener-bener kaya. Atau hanya macak kaya. Semoga salah. Saya tetap yakin mereka adalah orang yang benar-benar kaya. Hanya belum kebuka hatinya. Atau belum tahu kalau sesungguhnya di dalam setiap rezeki yang diterima ada sebagian kecil hak orang fakir dan miskin. Padahal, meski sangat kecil jatah orang duafa itu tetap harus dikeluarkan. Seperti tahi burung yang jatuh ke baju buru-buru kita mencari air untuk membersihkannya. Harusnya begitu pula terhadap hak duafa dalam harta kita. Secepatnya dibersih-sucikan. Agar tidak menjadi ceceran kotoran yang menghalangi jalan menuju surga. Wallahu a’lam. (@AdlawiSamsudin)

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia