Rabu, 21 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Features
Pegiat Sejarah Menelusuri Situbondo Timur

Kunjungi Tempat Laskar Agresi Militer Belanda Tahun 1947

Selasa, 31 Jul 2018 15:35 | editor : AF. Ichsan Rasyid

BANGUNAN TUA: Pegiat sejarah berada di salah satu bangunan masa kolonial belanda di Kecamatan Asembagus.

BANGUNAN TUA: Pegiat sejarah berada di salah satu bangunan masa kolonial belanda di Kecamatan Asembagus. (JAWAPOS.COM)

Sejumlah pegiat sejarah, hari Minggu (29/07) menelusuri sejumlah tempat-tempat bersejarah di wilayah timur Situbondo. Sudah bertahun-tahun mereka melakukan aktivitas blusukan itu.

HABIBUL ADNAN, Asembagus

Rumah berbilik bambu siang itu terlihat ramai pengunjung. Ada yang terlihat sibuk mendokumentasi isi bangunan  tua tersebut. Ada juga yang terlihat menganalisa sesuatu. Mereka itu adalah pegiat sejarah yang datang dari daerah tapal kuda.

Iya, siang itu, mereka berkunjung di

Rumah Sejarah Balumbung yang ada di Kecamatan Asembagus. Rumah ini merupakan tempat penyimpanan benda-benda purbakala

Hari Mulyoto,  salah satu pegiat sejarah dari Relawan Budaya Balumbung mengatakan, aktivis sejarah ini memang akan mengunjungi sejumlah lokasi bersejarah di wilayah timur Situbondo. “Di rumah sejarah balumbung ini banyak koleksi langka,” katanya.

Seperti fragmen keramik dan terakota, umpak, bata merah, tempayan, pipisan, bakalan arca, dan lain sebagainya. Benda-benda kuno itu berjejer rapi di atas sebuah rak kayu sederhana. “Benda-benda ini ditemukan dari sejumlah titik situs. 80 persen adalah artefak temuan dari situs Melek,” katanya.

Beberapa menit kemudian, mereka meninggalkan Rumah Sejarah Balumbung. Mereka bergeser menuju rumah Pesindo. Itu adalah bangunan bekas rumah dinas pejabat teras Pabrik Gula Asembagus di masa kolonial Hindia Belanda.

Irwan Rakhday, pegiat sejarah dari LSM Wirabhumi, mengatakan, rumah Pesindo pernah ditempat laskar saat  menghadapi agresi militer Belanda tahun 1947. “Saat itu, di rumah pesindo diinisiasi pertemuan sejumlah laskar untuk mengatur strategi melawan tentara Belanda,” jelasnya.

Kata dia, dari hasil pertemuan tersebut, para pejuang berhasil membuat strategi jitu. Irwan mengatakan, cerita ini didapat langsung dari saksi hidup yang bernama Balok Imam Subakti, seorang veteran asal Asembagus.

Irwan menerangkan, pada tahun 2017 , Balai  Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim pernah meregistrasi rumah Pesindo sebagai bangunan cagar budaya. Saat ini, masih proses pengkajian. “Diharapkan hasil kajian nantinya dapat merekomendasikan penetapan status cagar budaya,” katanya.

Sementara itu, pegiat sejarah ini akan melanjutkan penjelajahan ke Kecamatan Banyuputih. Di antara tempat-tempat yang akan dikunjungi, Kadipaten Balumbung. “Saat di Banyuputih, tim melakukan observasi ke Situs Banyuputih yang terdapat prasasti Widoropasar. Prasasti yang berangka tahun 1377 caka atau 1455 Masehi,” kata Irwan.

Dari sini, tim bergerak ke Situs Melek, Dusun Krajan, Desa Sumberejo, Kecamatan Banyuputih. Di Situs Melek, tim melakukan pendokumentasian serta menganalisa sejumlah artefak dan struktur bata. (pri)

(bw/bib/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia