Senin, 24 Sep 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Refleksi

Meningkatkan Nilai Ekonomis Pisang dan Strategi Pemasarannya

Oleh : Raup Padillah dan Fitri Nurmasari

Senin, 30 Jul 2018 12:25 | editor : AF. Ichsan Rasyid

Meningkatkan Nilai Ekonomis Pisang dan Strategi Pemasarannya

BANYUWANGI merupakan salah satu sentra pertanian di Provinsi Jawa Timur dan nasional. Khusus untuk komoditas tanaman buah, beberapa produk telah mampu menjadi unggulan daerah dan mampu menembus pasar nasional seperti misalnya alpukat, buah naga, durian, jeruk siam, pepaya, pisang dan semangka. Bahkan Banyuwangi sempat dijuluki sebagai ”Kota Pisang” karena melimpahnya produksi pisang.

Tanah subur dan masih luasnya lahan pertanian di Banyuwangi membuat mayoritas masyarakat Banyuwangi bekerja sebagai petani. Banyaknya masyarakat yang bekerja sebagai petani menjadi faktor terbentuknya kelompok-kelompok tani. Kelompok tani merupakan perkumpulan petani/peternak/pekebun yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, sumber daya), dan keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota.

Kelompok tani pada dasarnya adalah organisasi nonformal di pedesaan yang ditumbuhkembangkan dari, oleh, dan untuk petani. Kelompok tani merupakan wadah belajar mengajar bagi anggotanya guna meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap serta tumbuh dan berkembangnya kemandirian dalam berusaha tani sehingga produktivitasnya meningkat, pendapatannya bertambah serta kehidupan yang lebih sejahtera.

Salah satu kelompok tani yang ada di kecamatan Srono kabupaten Banyuwangi adalah kelompok tani ”Tan Selo 1” yang berada di Desa Sukomaju dan kelompok tani ”Tan Selo 2” yang ada di Desa Sukonatar. Kelompok tani Tan Selo 1 beranggota 25 orang petani, sedangkan kelompok tani Tan Selo 2 beranggota 20 orang petani.

Dua kelompok tani ini berada di dua desa yang berseberangan, yang notabene Desa Sukomaju dulu merupakan bagian dari Desa Sukonatar, kini dipecah menjadi dua desa. Selama ini, yang menjadi komoditas tanaman kelompok tani Tan Selo 1 dan 2 adalah padi dan pisang. Hasil dari tanaman pisang selama ini digunakan petani sebagai alternatif ketika hasil panen padi kurang maksimal akibat berbagai faktor seperti faktor cuaca, hama, dan lain-lain. Tanaman pisang dijadikan alternatif karena dari segi biaya perawatannya relatif sangat murah. Serta ketahanan terhadap hama dan cuaca menjadikan pisang sebagai solusi ketika para petani mengalami gagal panen pada tanaman padi.

Hasil penjualan buah pisang diakui para petani sangat membantu sebagai pemasukan tambahan selain pemasukan yang didapat dari hasil panen padi.

Harga normal satu tandan pisang di Banyuwangi berkisar antara Rp 50ribu-Rp 60 ribu, tergantung jenis dan kualitas pisang.

Hal ini tentu saja menjadi pemasukan tambahan yang dapat membantu perekonomian para petani Tan Selo. Akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah ketika kuantitas pisang di pasaran sangat melimpah. Harga satu tandan pisang menurun drastis. Harga satu tandan yang biasanya dipatok 50-60 ribu turun drastis menjadi Rp 20 ribu-Rp 30 ribu.

Hal ini tentu menjadi permasalahan bagi para petani di kelompok Tan Selo. Murahnya harga pisang di pasaran secara otomatis mengurangi pendapatan para petani dari hasil penjualan pisang. Selama ini para petani menyiasati kejadian ini dengan cara mengolah pisang menjadi keripik pisang.

Akan tetapi hal ini dinilai kurang efektif karena para konsumen lebih tertarik membeli buah pisang dari pada keripik pisang. Cara memasarkan hasil produksi pisang selama ini juga terbilang masih tradisional. Petani hanya mengandalkan permintaan dari pengepul yang notabene harga yang ditawarkan lebih murah dari harga normal karena sistem pengepul yang membeli dalam jumlah yang banyak sehingga tidak berlaku harga per tandan.

Cara lain yang selama ini dilakukan petani ketika harga pisang di pasaran turun adalah dengan menawarkan pisang pada para penjual gorengan yang ada di sekitar rumahnya sebagai bahan baku pisang goreng.

Lagi-lagi, yang menjadi persoalan adalah murahnya harga yang dipatok para penjual gorengan. Minimnya pengetahuan petani Tan Selo tentang alternatif varian olahan berbahan dasar pisang, serta kurangnya pengetahuan akan strategi penjualan, menjadikan para petani Tan Selo kesulitan meningkatkan nilai ekonomis pisang.

Meski saat ini sudah banyak varian olahan pisang, akan tetapi, para petani masih belum paham betul bagaimana mengolah pisang selain menjadi keripik dan pisang goreng. Strategi penjualan yang dilakukan petani selama ini, bisa dikatakan masih tradisional. Terbukti, mereka hanya mengandalkan pengepul maupun para penjual gorengan sebagai pembeli tetap.

Mudahnya akses internet seiring perkembangan teknologi yang semakin pesat, tidak lantas membuat para petani Tan Selo memanfaatkan sebagai alternatif dalam memasarkan pisang. Seharusnya, seiring makin mudahnya akses informasi serta berkembangnya strategi pemasaran dapat membantu para petani yang tergabung dalam kelompok Tan Selo 1 dan Tan Selo 2 dalam meningkatkan nilai ekonomis pisang.

Bertambahnya nilai ekonomis pisang, otomatis akan berdampak pada pemasukan para petani khususnya ketika kuantitas pisang sedang melimpah di pasaran yang membuat harga pisang menurun drastis.

Berdasar uraian dan analisis permasalahan tersebut, alternatif solusi dari berbagai permasalahan yang dihadapi petani yang tergabung dalam kelompok tani Tan Selo 1 dan Tan Selo 2 antara lain:

Pertama, membekali dan meningkatkan pengetahuan petani tentang variasi hasil olahan makanan berbahan dasar pisang serta strategi pemasarannya. Bertambahnya pengetahuan petani tentang variasi olahan makanan berbahan dasar pisang akan membuat petani memiliki banyak alternatif dalam memasarkan dan menjualnya. Diharapkan petani tidak hanya menyiasati dengan hanya membuat keripik pisang maupun dijadikan pisang goreng, melainkan mengolah pisang menjadi varian makanan lain yang lebih memiliki nilai jual.

Kedua, melakukan pelatihan membuat variasi makanan berbahan dasar pisang. Kemampuan petani dalam mengolah makanan dari bahan dasar pisang menjadi alternatif solusi dalam meningkatkan harga jual pisang. Pelatihan yang diberikan dalam mengolah pisang agar memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi antara lain: pisang cokelat beku, es krim pisang lapis cokelat, pisang karamel keju, es pisang ijo, brownies pisang, dan bolu pisang.

Ketiga, melakukan pelatihan tentang strategi pemasaran yang efektif. Selain membekali petani dengan kemampuan mengolah makanan berbahan dasar pisang, kemampuan petani dalam memasarkan hasil olahan tersebut juga tidak kalah penting. Pelatihan yang dilakukan meliputi strategi penjualan berbasis online yang memanfaatkan beberapa media sosial yang paling umum digunakan antara lain: Facebook, Twitter, Instagram, serta dengan memanfaatkan beberapa situs jual beli terkemuka seperti Bukalapak, Lazada, Shopee, dan Tokopedia.

Salah satu upaya meningkatkan nilai ekonomis pisang adalah dengan memberikan pengetahuan dan keterampilan petani Tan Selo 1 dan Tan Selo 2 dalam mengolah pisang menjadi beberapa variasi olahan makanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi di pasaran. Varian olahan makanan berbahan dasar yang dilatih pada petani Tan Selo 1 dan Tan Selo 2 antara lain pisang cokelat beku, es krim pisang lapis cokelat, pisang karamel keju, es pisang ijo, brownies pisang, dan bolu pisang.

Dari 20 peserta yang membuat olahan makanan berbahan dasar pisang, hampir semua dapat membuat variasi makanan yang telah dilatih oleh instruktur. Untuk olahan makanan pisang cokelat beku dan es krim pisang lapis cokelat, seluruh peserta yang berjumlah 20 orang dapat mengolah sesuai dengan prosedur. Untuk pisang karamel keju, 17 peserta yang berhasil membuat sesuai prosedur. Es pisang ijo berhasil dibuat oleh 16 peserta, brownies pisang berhasil dibuat oleh 15 peserta, dan bolu pisang berhasil dibuat oleh 16 peserta. Dapat disimpulkan persentase dalam kegiatan pelatihan variasi olahan makanan berbahan dasar pisang ini adalah: pisang cokelat beku dan es krim pisang lapis cokelat 100%, pisang karamel keju 85%, es pisang ijo 80%, brownies pisang 75%, dan bolu pisang 80%.

Dari 20 peserta yang diberi pelatihan, 14 peserta berhasil mempraktikkan cara memasarkan produk pada situs jual beli online, dan sisanya 6 peserta tidak dapat melakukannya. Hal ini karena beberapa anggota dari kelompok tani Tan Selo tidak terlalu menguasai teknologi (gaptek), hal ini mempersulit instruktur dalam memberikan pengarahan bagaimana memasarkan produk yang akan dijual secara online.

Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa pisang merupakan salah satu hasil panen kelompok tani Tan Selo 1 dan Tan Selo 2 selain padi. Salah satu upaya untuk meningkatkan nilai ekonomis pisang adalah dengan melatih kelompok tani mengolah beberapa olahan makanan berbahan dasar pisang serta strategi pemasarannya yang tepat dan efektif. Dari hasil evaluasi yang dilakukan setelah serangkaian materi dan pelatihan dilakukan, hasil yang didapatkan sesuai harapan. Persentase pemahaman peserta dalam memilih pisang yang memiliki kualitas tinggi sebesar 85%, kemampuan peserta dalam mengolah makanan berbahan dasar pisang sebesar 86%, dan peserta yang berhasil memasarkan hasil olahan makanan dengan memanfaatkan situs jual beli online sebesar 70%.(*)

 *) Dosen Bimbingan dan Konseling, Universitas PGRI Banyuwangi.

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia