Sabtu, 22 Sep 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Features
Pasien Penderita Kangker Serviks

Tak Ada keluarga Sejak Balita, Sakit Pun Tak Ada Yang Mengurus

Senin, 30 Jul 2018 11:50 | editor : AF. Ichsan Rasyid

LEMAH: Eva dirawat di RSUD Asembagus Akibat Kangker Serviks.

LEMAH: Eva dirawat di RSUD Asembagus Akibat Kangker Serviks. (IZZUL FOR JAWAPOS.COM)

Sungguh mengenaskan perjalanan hidup Eva. Sejak kecil wanita itu sudah tidak mempunyai keluarga. Umur belasan, dia tinggal besama seorang laki-laki. Namun saat mengidap penyakit kangker serviks, pria itu tak mau mengurusnya.

IZZUL MUTTAQIN, Asembagus

Jam menunjukkan pukul tiga sore. Saat itu, Aryo, salah satu relawan kemanusiaan mendapat telepon dari RSUD Asembagus. Pihak Rumah sakit mengabarkan bahwa ada pasien mengidap penyakit kangker serviks. Namun sayang, tidak ada pihak keluarga yang mengurusnya.

Dengan tergesa-gesa, Aryo pun segera mendatangi rumah sakit Asembagus dan menemui wanita bernama Evatus Sa’diyah itu. Wanita kurus kering tersebut terlentang tak berdaya di rumah sakit.

“Saat saya mengetahui keadaan Eva, saya langsung mencari informasi tentangnya. Ternyata, berdasarkan cerita tetangganya, sejak kecil, Eva memang sudah tidak memiliki keluarga. Dia ditinggal mati oleh orang tuanya sejak Eva masih balita. Tinggalnya berpindah-pindah. Bukan hanya itu, KTP, Akte kelahiran hingga KK, dia tidak punya,” terangnya.

Menurut Aryo, sepeninggal ibunya,  Eva lantas diambil anak oleh Suryani, warga Desa/Kecamatan Jangkar. Keadaan ekonomi Suryani sebenarnya di bawah rata-rata. Namun, karena didorong rasa iba, Suryani nekat mengangkat Eva sebagai anak.

“Bu Suryani merawatnya hingga dia berusia belasan tahun. Setelah itu Eva diambil oleh seorang laki-laki. Katanya mau dinikahi. Namun hingga saat ini tak ada surat nikah. Mungkin nikah siri,” terangnya.

Bersama lelaki tersebut, kata Aryo, Eva dibawa hidup berpindah-pindah lokasi. Kemungkinan penyebabnya karena faktor ekonomi. “Awal bersama suaminya tinggal di Kecamatan Banyuputih. Kemudian hamil dan pindah ke Kecamatan Situbondo. Eva lantas melahirkan di sana,” jelas Aryo.

Setelah melahirkan, Eva tinggal di Desa Wringinanom, Asembagus. “Di sanalah, Eva sering sakit-sakitan. Pada awal Mei, dia harus dibawa ke rumah sakit karena mengalami pendaraham. Suryani sebagai orang tua angkat pun sampai menghabiskan Rp 3 juta untuk pengobatannya,” terang Aryo.

Satu bulan kemudian, tanggal 29 Juni 2018,  Eva kembali masuk rumah sakit dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. “Eva ke rumah sakit bersama saudara angkatnya. Bahkan, karena kasihan, tukang becak yang mengantar mereka memberi uang Rp. 50 ribu,” paparnya.

Sesampainya di RSUD Asembagus, kata Aryo, Eva langsung menjalani pemeriksaaan. Ternyata hasilnya cukup mengejutkan. Evi mengalami kangker serviks. “Dia di rumah sakit sebatang kara. Saudara angkatnya sudah pulang. Karena itu kemudian pihak rumah sakit menghubungi saya,” terang Aryo.

Karena itu, melalui Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial, Aryo mengupayakan PMKS (penyandang kesejahteraan masalah sosial). Dia tidak punya KK, KTP dan tidaku punya surat nikah. Tinggal sama suaminya.

“Evi dimasukkan dalam bantuan untuk orang terlantar atau pemulung. Biaya perawatan sekitar Rp. 6,8 juta ditanggung oleh PMKS. Ibu angkatnya sudah tidak bisa membiayai. Karena hutang yang tiga juta untuk pengobatan awalnya saja masih belum terbayar,” jelasnya.

Namun, karena terkendala alat di rumah sakit Asembagus yang kuang lengkap, Evi pun harus dirujuk ke RSUD Abdoer Rahem. “Di Abdoer Rahem bayarnya menggunakan BPJS. Sebab saat berada di RSUD Asembagus, bidan-bidan di rumah sakit berinisiatif untuk membuatkan Evi KTP. Dan langsung rekam KTP di sana. Sedangkan, Direktur RSUD menghendel BPJS untuknya,” ucapnya.

Menurut Aryo, hingga saat ini Evi masih mendapat perawatan di RSUD Abdoer Rahem. Namun bukannya membaik, tapi efek dr kanker serviks yang sudah akut dan menginveksi justru merambat ke ginjal. “Padahal di RSUD Abdoer Rahem langsung masuk ruang ICU. Mungkin karena HB nya tiga sementara lukoasit sampek 26000, menyebabkan gagal ginjal. Kesadarannya pun menuruun. Mungkin karena racun di dalam darah sehingga sering ngigau dan ngacok,” paparnya. (pri)

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
Artikel Lainya

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia