Rabu, 22 May 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Situbondo
D3 Kebidanan Universitas Ibrahimy

Kader Komo Tanggulangi Anemia Ibu Hamil

30 Juli 2018, 10: 43: 45 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

BERNILAI EKONOMIS: Pendampingan secara langsung pembuatan komo oleh dosen dan mahasiswa D3 Kebidanan Unib, Sukorejo

BERNILAI EKONOMIS: Pendampingan secara langsung pembuatan komo oleh dosen dan mahasiswa D3 Kebidanan Unib, Sukorejo (JAWAPOS.COM)

BANYUPUTIH – Dosen program studi (prodi) D3 Kebidanan Universitas Ibrahimy (Unib) Sukorejo berhasil menghasilkan produk alami untuk mengurangi anemia pada ibu hamil. Produk berbahan baku daun kelor itu diberi nama kokoa-moringa oleifera (komo).

Sudah terbentuk kader Komo di dua desa di Kecamatan Banyuputih. Yaitu di Dusun Mellek, Desa Sumberejo dan Dusun Mimbo, Desa Sumberanyar. Pendampingan kepada kader dilakukan melalui kegiatan pengabdian masyarakat, program kemitraan masyarakat (PKM) Kemenristekdikti.

Azizatul Hamidiyah, dosen D3 Kebidinan mengatakan, ada dua dosen pendamping PKM. Selain dirinya, ada satu dosen lain, yaitu dr.Raudatul Hikmah. “Kami juga dibantu oleh sebelas mahasiswa,” ujarnya.

CAMILAN: Dosen dan mahasiswa D3 Kebidanan Unib, Sukorejo menunjukkan kemasan komo yang sudah jadi

CAMILAN: Dosen dan mahasiswa D3 Kebidanan Unib, Sukorejo menunjukkan kemasan komo yang sudah jadi

Kata dia, di dua desa ini, pembinaan diberikan kepada kader Posyandu Kenanga di Dusun Mellek, Desa Sumberejo; dan kader Posyandu Asoka, Dusun Mimbo, Desa Sumberanyar.

Azizatul mengatakan, produk komo ini berbahan baku daun kelor yang dicampur dengan cokelat. Setelah melalui proses panjang, produk ini terbukti mampu menanggulangi anemia kepada ibu hamil. “Memang tujuan awalnya, menurunkan kejadian anemia pada ibu hamil,” imbuhnya.

Tujuan lainnya, untuk meningkatkan pengatahuan kader tentang pencegahan anemia melalui camilan sehat kader komo. “Adanya produk ini, mampu meningkatkan perekonomian kader posyandu melalui pemberdayaan masyarakat dalam pembuatan camilan sehat  komo,” jelasnya.

Pendampingan dilakukan sejak tanggal 5 Mei 2018 lalu. Saat itu, kegiatan fokus pada pelatihan dan pembinaan kepada kader, kepala desa, ketua PKK, dan bidan desa di kedua desa binaan. Isi kegiatan, pemaparan tentang kasus anemia pada ibu hamil, penjelasan penyakit anemia, bahaya, pencegahan dan penanganan bagi ibu hamil anemia dengan kecukupan kadar Fe.

Setelah itu, langsung praktik pembuatan komo, yang dimulai  dengan cara membuat serbuk kelor dan adonan komo. Setelah dibina secara intens, kader bisa membuat komo secara langsung. “Kami sudah menentukan rumah kader yang dijadikan rumah industri komo,” ujar Azizah.

Setelah penyerahan bantuan peralatan komo, dilakukan pendampingan teknis secara intens. Di awal-awal, pendampingan dilakukan setiap hari. Berikutnya, pendampingan satu kali dalam seminggu. “Kami masih melkaukan pendampingan sampai saat ini,” kata Aizah.

Ada juga monitoring dan evaluasi (monev) dua minggu sekali dan masih berjalan hingga hari ini. Hasil yang didapat monev, terjadi peningkatan kadar HB (hemoglobin) ibu hamil dari yang sebelumnya anemia menjadi tidak anemia. “Dari sepuluh ibu hamil anemia, sembilan orang menjadi normal, setelah satu kali mengkonsumsi komo,” tambah Azizah.

Penjualan komo juga semakin meluas. Baik offline maupun online. Ini berdampak terhadap peningkatan ekonomi kader. “Dengan adanya program kemitraan ini, omset kader kurang lebih Rp.4 juta-Rp. 5 juta setiap bulannya, dengan keuntungan bersih Rp.1 juta sampai Rp.2 juta,” pungkasnya. (bib/pri)

(bw/bib/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia