Sabtu, 22 Sep 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Events

Penonton Lebih Tertib, Tak Lagi Berdesakan

Senin, 30 Jul 2018 18:45 | editor : Bayu Saksono

Penonton Lebih Tertib, Tak Lagi Berdesakan

Sementara itu, animo penonton me­nyaksikan perhelatan BEC yang me­ngangkat tema ”Puter Kayun” kemarin (29/7) benar-benar luar biasa. Konsentrasi penonton tertuju pada sepuluh panggung. Tahun ini selain tampil di stage utama, peserta yang terbagi atas sepuluh defile akan bergerak menuju sepuluh panggung berbeda.

Selain panggung utama yang berlokasi kawasan Taman Blambangan, tepatnya di depan SDN Kepatihan, panitia me­nyi­apkan sepuluh panggung yang lain. Sepuluh panggung tersebut tersebar mulai kawasan Pasar Banyuwangi sampai depan Stadion Diponegoro.

Dari sepuluh panggung itu, ri­buan penonton bisa menikmati atraksi para talent sampai tuntas. Aksi dorong dan desak-desakan bisa dikurangi dengan pola baru yang ditetapkan panitia BEC. ”Nontonnya lebih enak. Tidak harus di panggung utama,’’ ujar Indra, penonton asal Rogojampi.

LEBIH FRESH: Salah seorang talent dengan sub tema dokar unjuk kebolehan di depan penonton. BEC tahun ini dikemas lebih lebih atraktif dibandingkan penyelanggaraan tahun-tahun sebelumnya.

LEBIH FRESH: Salah seorang talent dengan sub tema dokar unjuk kebolehan di depan penonton. BEC tahun ini dikemas lebih lebih atraktif dibandingkan penyelanggaraan tahun-tahun sebelumnya. (ARNINDHITA/RABA)

Praktis dengan pola baru itu, penonton lebih mudah diatur ka­rena tidak saling berdesakan. ”BEC tahun ke delapan ini kami kemas lebih atraktif dari tahun-tahun sebelumnya. Kemasannya lebih fresh,’’ ujar Kepala Disbudpar MY. Bramuda.

Sementara itu, BEC kali ini juga diikuti anggota Polres Banyuwangi. Korps baju cokelat Bumi Blam­bangan ini ikut serta meramaikan Banyuwangi Festival yang me­ngu­sung tema “Puter Kayun”.

Sedikitnya ada lima anggota Polres Banyuwangi yang ikut ter­libat langsung menjadi peserta BEC dari Polres Banyuwangi. Lima anggota yang ikut berdandan ala BEC itu yakni anggota Satlantas, Bripda Monica Justitia dan Bripda Ela Sukma Cahyani. Sementara laki-lakinya yakni Bripda Hilmi Wahyudin Wibowo dari Fungsi Satuan Sabhara, dan Eddy Su­ma­riyanto dari PHL Polres Ba­nyuwangi.

Kapolres AKBP Donny Aditya­warman mengatakan, keikut­ser­taan Polres Banyuwangi pada event BEC ini sebagai bentuk partisipasi warga Banyuwangi untuk memeriahkan pawai ber­gengsi bertaraf dunia tersebut. “Kegiatan pawai budaya ini sangat positif untuk kepentingan masya­rakat Banyuwangi, wajib hu­kum­nya kita dukung,” ungkapnya.

Selama perhelatan BEC, baru kali ini anggota Polres Banyuwangi terjun langsung dalam pawai akbar ini. Biasanya, partisipasi Polres Banyuwangi hanya sebatas me­lakukan pengamanan, dan pengalihan jalur arus lalu lintas. “Kita jua ingin menunjukkan, jika anggota polisi juga ternyata mam­pu dalam beradu kreativitas demi mensukseskan pelaksanaan Banyuwangi Festival,” jelasnya.

TERTIB: Peserta BEC lebih leluasa unjuk kebolehan di hadapan penonton. Dengan konsep baru sepuluh panggung, penonton tak lagi berdesakan.

TERTIB: Peserta BEC lebih leluasa unjuk kebolehan di hadapan penonton. Dengan konsep baru sepuluh panggung, penonton tak lagi berdesakan. (SIGIT HARIYADI/RABA)

Sementara itu, Bripda Monica Justitia mengaku bangga bisa menjadi salah satu bagian peserta BEC. Menjadi peserta BEC juga merupakan salah satu kebanggaan yang tak pernah terlupakan. Apalagi, juga sebagai anggota Polri.

Di tengah kesibukannya menjadi anggota Polri, dia tetap enjoy berlenggok lenggok menari sambil mengenakan kostum BEC bertema gedogan. “Sangat bangga bisa ikut BEC, apalagi saya juga bukan war­ga asli Banyuwangi,” cetus Polwan berusia 22 tahun asal Desa Ba­gorejo, Ke­camatan Gumuk Mas, Kabupaten Jember ini.

Pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi, tidak semua warga menonton BEC secara langsung ke lokasi acara di Taman Blam­bangan hingga Stadion Dipo­negoro. Fasilitas tayangan langsung melalui sejumlah platform medsos seperti live facebook banyak dimanfaatkan warga.

Seperti dilakukan Isfandari, 23. Meski rumahnya juga di sekitar kota Banyuwangi, dia dan bebe­rapa temannya memilih menonton melalui tayangan. Hal ini dilakukan karena beberapa alasan. Pertama, sore itu bersamaan dengan akti­vitasnya yang harus diselesaikan. dan juga karena enggan ber­desakan di lokasi. “Ini kita masih ada kerjaan Mas. Biar tidak ber­panas-panasan,” ucapnya.

Di samping itu, menonton me­lalui saluran ini dinilai lebih lengkap karena kamera diarahkan ke titik yang menarik. “Ini lebih lengkap, ya cuma tidak merasakan langsung itu saja,” pungkasnya.

(bw/jpr/rbs/JPR)

 TOP
Artikel Lainya

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia