Senin, 24 Sep 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Features
Musala Tertua di Desa Kayuputih, Mangaran

Sempat Ditawar Kolektor Ditukar dengan Mobil panther

Minggu, 29 Jul 2018 10:15 | editor : AF. Ichsan Rasyid

TUA: Tim peninjau benda bersejarah memantau kondisi musala yang diduga pertama di Situbondo.

TUA: Tim peninjau benda bersejarah memantau kondisi musala yang diduga pertama di Situbondo. (IZZUL FOR JAWAPOS.COM)

Di Desa Kayuputih, Kecamatan Panji, ada Musala berumur ratusan tahun. Warga setempat meyakini, musala itu merupakan yang tertua di Situbondo.

IZZUL MUTTAQIN, Panji

Angin berhembus cukup kencang saat LSM Wirabhumi bersama Anggi serta Kurnaini dari Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud), Situbondo memasuki Desa Kayuputih, Kecamatan Panji. Tepat di kampung Kenanga, tampak sebuah musala dari susunan kayu. Melihat kondisi fisik bangunan,  usia musula tersebut sudah sangat lama.

Menurut Supriyanto, warga Desa Trebungan, Kecamatan Mangaran,  musala dengan panjang 7,5 meter dan lebar 5 meter tersebut adalah milik H. Ismail. Kata dia, musala tersebut termasuk yang tertua di Situbondo.

“Musala ini berbahan kayu jati dan kayu sukun. Dibuat pada tahun 1655 Masehi di Probolinggo. Lantas dibawa ke Situbondo oleh oleh Mbah Tahir sekitar tahun 1800-an. Artinya, lebih dari 150 tahun usia musala tersebut saat diangkut perahu dari Probolinggo ke desa ini," tuturnya.

Menurut Supriyanto, Mbah Tahir merupakan sahabat Kiai Syamsul Arifin Sukorejo. “Mbah Tahir adalah guru ngaji yang alim. Akrab sekali dengan Kiai Syamsul. Bahkan tak jarang keduanya berbeda pendapat. Selisih usianya pun tipis. Tapi tak tahu persisnya berapa,” ucap pria kelahiran 1963 itu.

Putera salah satu murid Mbah Tahir, Anwar Sanusi mengatakan, berdasarkan cerita ayahnya, Sahwa, selain guru ngaji Mbah Tahir juga guru ilmu kanuragan.  “Sebenarnya musala ini awalnya berada di Kampung Nangka. Kemudian tahun 1970, dibeli oleh H.Ismail Sobri pada keturunan Mbah Tahir. Kemudian dipindahkan ke sini. Dan hingga sekarang, musala ini tetap dimanfaatkan,” jelasnya.

Pemilik musala, Ustad Ahmad Fadlillah  menyampaikan, dulunya salah seorang kolektor  barang antik pernah merayu dirinya untuk membeli musala itu. Namun dengan tegas pria yang karib disapa ustad Ahmad itu menolak. Sebab merupakan warisan sejarah.

“Bahkan kolektor itu mau menukarnya dengan Mobil Panther seharga Rp 100 juta. Namun saat itu saya menolak. Alasannya ya karena eman terhadap sejarahnya,” terang putera H. Ismail itu.

Irwan Rakhday, pegiat sejarah LSM Wirabhumi yang ikut meninjau musala tesebut mengatakan, perwakilan Bidang Kebudayaan Dispendikbud mengamini klaim tesebut. “Saat itu, dari bidang kebudayaan mengamini sebagai musala tertua,” terangnya. (pri)

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia