Sabtu, 17 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Kesehatan
Dinas Kesehatan Banyuwangi

Kontrol Tumbuh Kembang Anak via Lomba Anak Tokcer

Jumat, 27 Jul 2018 09:45 | editor : Bayu Saksono

GEMBIRA: Unjuk kebolehan bernyanyi Lomba Anak Tokcer.

GEMBIRA: Unjuk kebolehan bernyanyi Lomba Anak Tokcer. (FACHRI/RABA)

SEBAGAI salah satu bentuk komitmen Pemkab Banyuwangi dalam upaya mewujudkan generasi penerus bangsa yang berkualitas, Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyuwangi kembali menggelar Anak Tokcer (Anak Tumbuh Optimal, Berkualitas, dan Cerdas) di Aula Dinkes Banyuwangi. Acara yang digelar Kamis (26/7) tersebut sekaligus untuk memperingati Hari Anak Nasional dan menyongsong kemerdekaan Republik Indonesia.

Kepala Dinas Kesehatan dr Widji Lestariono, MMKes mengatakan, lomba Anak Tokcer merupakan wadah para orang tua. Terutama para ibu-ibu di seluruh wilayah Banyuwangi agar menyadari betapa pentingnya me­ngawal kehidupan anak-anak mulai dari kandungan sampai balita. Karena, masa balita adalah masa emas anak yang merupakan masa pen­ting untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangannya.

SAMBUTAN: Kepala Dinas Kesehatan Dr Widji Lestariono membuka acara Lomba Anak Tokcer.

SAMBUTAN: Kepala Dinas Kesehatan Dr Widji Lestariono membuka acara Lomba Anak Tokcer. (FACHRI/RABA)

”Pada masa golden age ini, pemben­tukan sistem saraf secara mendasar sudah terjadi. Pada masa ini, terjadi hubungan antara sel-sel saraf. Kuantitas dan kualitas sambungan ini menentukan kecerdasan balita,” katanya.

Kecerdasan balita merupakan ke­suk­sesan ibu saat masa-masa kehamilan. Nutrisi yang dibutuhkan pada masa-masa kehamilan sangat erat hubu­ngannya dengan masa-masa balita. Sehingga dengan adanya lomba Anak Tokcer, masa depan dan nutrisi balita Banyuwangi dapat dikontrol. ”Masa-masa balita merupakan masa-masa terpenting bagi kehidupan manusia,” imbuh dokter yang akrab dipanggil dokter Rio ini.

DITIMBANG: Kepala Dinas Kesehatan Dr Widji Lestariono dan Kabid kesehatan masyarakat dr Juwana mengontrol jalannya acara.

DITIMBANG: Kepala Dinas Kesehatan Dr Widji Lestariono dan Kabid kesehatan masyarakat dr Juwana mengontrol jalannya acara. (FACHRI/RABA)

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Banyuwangi dr Juwana men­jelaskan, dalam pelaksanaannya, lomba balita sehat ini dibagi dalam 3 kategori kelompok umur. Yaitu kelompok umur 6 hingga 18 bulan 15 hari, 18 bulan 16 hari sampai dengan 3 tahun 15 hari. Sedangkan kategori yang ketiga, umur 3 tahun 16 hari hingga 6 tahun.

Dalam penilaiannya, balita peserta lomba akan diukur dalam segi pertum­buhan dan perkembangan. Sedangkan pertumbuhannya, dinilai dari berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala. Sementara dalam penilaian perkem­bangan anak, indikator utamanya adalah gerak motorik halus dan kasar. Indikator itu sendiri terlihat dari kecer­dasan serta kesehatan secara umum. Meliputi gigi, fisik umum seperti badan, lihat, dengar, ditambah pengamatan gangguan kesehatan mental emosional.

”Nanti diajak bermain per kelompok umur dan akan diketahui hasilnya. Apakah ada autis atau tidak,” tutur dr Juwana.

BUKA MULUT: Para penyuluh mengontrol kesehatan gigi anak.

BUKA MULUT: Para penyuluh mengontrol kesehatan gigi anak. (FACHRI/RABA)

Perlombaan yang sangat meriah ini diikuti oleh 45 puskesmas yang masing-masing mengirim 3 balita kelompok umur yang sebelumnya telah diseleksi. Para peserta yang hadir merupakan pe­menang di puskesmas masing-masing, dan dilombakan kembali antar­puskesmas se-Banyuwangi.

Lomba Anak Tokcer merupakan pe­mantauan dari Dinas Kesehatan Banyuwangi dari tingkat penyuluh ke tingkat kabupaten. Sehingga merangsang peningkatan kinerja dari bawah hingga ke atas. Lomba ini juga sebagai upaya pemantauan pertumbuhan dan perkembangan pemenuhan gizi 1.000 hari pertama mulai dari anak dalam kan­dungan hingga anak berusia 2 tahun.

GAMBAR APA?: Para penyuluh menilai motorik peserta lomba.

GAMBAR APA?: Para penyuluh menilai motorik peserta lomba. (FACHRI/RABA)

”Bukan maksudnya untuk menang-menangan tapi untuk tahu kualitas anak semakin baik. Sehingga perhatian orang tua, keluarga, lingkungan bisa fokus dalam pemenuhan gizinya,” ungkap dr Juwana.

(bw/jpr/rbs/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia