Rabu, 19 Dec 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Refleksi

Pembudayaan Paradigma

Oleh : Abd. Malik Effendi

24 Juli 2018, 16: 25: 59 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

Pembudayaan Paradigma

SEJARAH telah membuktikan bahwa suatu bangsa, betapa pun jujur alasannya yang berhasil mengusir penjajah yang serakah dengan menggunakan kekerasan kasar, kelak pada gilirannya akan mewarisi sifat keserakahan dari bangsa penjajah yang berhasil ditumpas.

Kita tidak perlu menggunakan penalaran yang berat untuk menyadarinya. Jika masyarakat yang belum siap menerima adanya suatu perubahan itu karena tidak yakin akan manfaat perubahan tersebut, pastilah akan memberontak bila perubahan itu tetap dipaksakan pada mereka. Dan sekarang, sepertinya keadaan telah memperhalus cara penumpasan.

Saat ini, media merupakan sosialisasi yang terkuat dalam membentuk paradigma-paradigma baru ataupun mempertahankan paradigma yang ada, baik media massa maupun media sosial. Berbagai iklan yang ditayangkan misalnya, diduga telah menyebabkan terjadinya perubahan pola pikir, konsumsi, hingga gaya hidup masyarakat.

Seharusnya yang dimaksud dengan sarana sosialisasi itu adalah pihak-pihak yang membantu seorang individu mengerti terhadap segala sesuatu yang kemudian menjadikannya dewasa dan memahami dirinya sendiri, secara rinci misalnya keluarga, kelompok bermain, sekolah, lingkungan, media massa, maupun sosial media.

Namun, karena adanya pembudayaan paradigma dari segala sisi rincian tersebut, seakan menyebabkan individu menjadi kehilangan pemahaman atas dirinya sendiri, misalnya kita telah dijebak dengan kebiasaan mendatangi dokter untuk penyakit-penyakit paling sepele. Bilamana tidak ada dokter yang tersedia, kita hanya mendengar nasihat-nasihat dari dukun. Kita telah menerima delusi fatal bahwa tidak ada penyakit yang dapat disembuhkan tanpa obat.

Hal ini menyebabkan kerusakan terhadap umat manusia melebihi kejahatan lainnya. Memang penting bahwa penyakit harus segera disembuhkan. Tetapi tidak menggunakan obat dianggap tidak begitu berkhasiat. Namun, kadang-kadang penggunaannya bahkan sangat berbahaya dan berisiko pada kematian atau kelumpuhan.

Seperti apa yang telah dikatakan Gandhi bahwa bagi penderita sakit yang minum bahan obat dan obat-obatan akan sama halnya dengan mencoba untuk menyembunyikan kotoran yang menumpuk di dalam rumah. Semakin banyak kita menutupi kotoran, semakin cepat pembusukan berlangsung.

Demikian pula dengan tubuh manusia. Kondisi sakit atau penyakit hanya peringatan alam bahwa kotoran telah menumpuk di satu atau beberapa bagian dari tubuh, dan pastilah menjadi bagian dari pikiran sehat untuk membiarkan alam menyingkirkan kotoran, alih-alih menutupinya dengan bantuan obat-obatan. Mereka yang minum obat-obatan sesungguhnya membuat tugas alam bertambah susah.

Di lain pihak, mudah sekali bagi kita untuk membantu alam dalam pekerjaannya dengan mengingat prinsip-prinsip dasar tertentu-dengan puasa, misalnya. Supaya kotoran tidak menumpuk semakin banyak, dan dengan giat berolahraga di tempat terbuka, sehingga sedikit kotoran dapat keluar dalam bentuk keringat.

Dan satu hal yang paling penting adalah menjaga pikiran kita secara ketat di bawah pengendalian, termasuk  pengendalian paradigma pengonsumsian obat.

Ada lagi tentang stigma bahwa penggunaan ganja adalah memabukkan, tentu itu adalah hal yang sangat buruk. Padahal banyak obat atau mungkin semua obat, bila dikonsumsi dengan dosis berlebih pasti akan menimbulkan efek samping, begitu juga dengan ganja. Ada sebuah pengungkapan dari seorang pekerja keras dan kasar, pulang kantor menggunakan ganja untuk penenangan diri dan saat memakai ia terciduk oleh polisi.

Padahal penggunaan itu karena mereka butuh. Dari pada yang datang ke psikiater dengan menggunakan obat-obatan untuk sebuah ketenangan yang diberikan terhadap tubuh dan efek sampingnya sangat banyak terhadap tubuh mereka, berbeda halnya dengan ganja yang bila dikonsumsi sesuai dengan kebutuhan dan fungsinya, hampir tidak ada efek samping. Selama ini kita mengakui dan bahkan meyakini bahwa efek high dalam penggunaan ganja adalah efek samping. Sementara hasil riset dalam sebuah literatur, efek high yang ditimbulkan oleh ganja justru menjadi efek utama, siapa lagi kalau bukan paradigma yang membuat ketidakcocokan antara hasil riset dan realita yang terjadi di dalam pendapat umum.

Dilansir dari Massroots, sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of American Medicine (JAMA) menunjukkan bahwa ”di negara-negara yang memiliki undang-undang ganja medis, tingkat kematian over-dosis opioid 24,8 persen lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara yang tidak memiliki undang-undang mengenai ganja medis”.

Bahkan, dalam sebuah studi terpisah menunjukkan adanya grafik penurunan yang tajam dari para pasien pengguna obat-obat opioid, setelah undang-undang mengesahkan konsepsi ganja medis. Hal itu belum termasuk berkurangnya jumlah pasien pengguna obat-obat antidepresan (semacam alprazolam, diazepam, dlsb), untuk kemudian mengganti resep obatnya dengan ganja medis demi menyembuhkan depresi, kegelisahan berlebih, dan gangguan tidur yang mereka alami.

Sementara propaganda yang dilakukan terus mencoba meyakinkan masyarakat kita bahwa ”setelah seseorang mengonsumsi ganja maka dia akan langsung ingin mencicipi narkotika lainnya”. Sebuah riset yang dirilis Universitas Montreal yang bekerja sama dengan University of British Columbia justru menjabarkan fakta sebaliknya. Dalam risetnya, mereka mengaku menyaksikan sendiri fakta di mana sejumlah koresponden pengguna kokain aktif, terbukti bisa membatasi penggunaan ’the crack’ yang dicandu saat mereka mendapatkan akses terhadap ganja.

Memberi pemahaman, menyodorkan akibat yang timbul, dan memberi tekanan serta hukuman, hingga menjatuhkan stigma separatis adalah beberapa cara yang digunakan untuk menciptakan kondisi yang membuat orang tidak punya pilihan, kecuali pasrah dan mengiyakan tentang adanya suatu paradigma.

Hal tersebut karena dogma dalam masyarakat yang menafsirkan bahwa, manusia itu pada dasarnya malas, pasif, dan bahwa mereka tidak suka kerja atau mengerjakan hal lain, kecuali mereka didorong oleh insentif akan memperoleh keuntungan material, atau jika mereka sedang kelaparan dan rasa takut akan hukuman. Dogma tersebut nyaris tidak diragukan lagi oleh siapa pun, dan hal itu menentukan metode pendidikan dan pekerjaan kita saat ini.

Keserakahan dan rasa keterasingan yang disebabkan oleh konsep produksi, konsumsi, teknologi hingga perusakan alam merupakan tindakan yang mengingkari kehadiran manusia sebagai makhluk berjiwa yang hidup.(*)

*) Mahasiswa FH Untag 1945 Banyuwangi.

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia