Sabtu, 17 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Kolom

Keluarga Sejahtera dalam Bahasa Agama (Islam)

Oleh : Jakfari

Jumat, 20 Jul 2018 06:30 | editor : AF. Ichsan Rasyid

Keluarga Sejahtera dalam Bahasa Agama (Islam)

ADA beberapa istilah ”Keluarga Sejahtera” dalam bahasa agama yang telah lama dikenal di masyarakat. Kita sering mendengar dan menyaksikan para kiai dan mubalig memberikan wejangan dalam acara-acara sosial keagamaan di masyarakat seperti acara pernikahan, misalnya, kita sering mendengar kata-kata ”Keluarga Sakinah”.

Begitu pun kalangan Kementerian Agama menyebutnya sebagai cita ideal dalam suatu keluarga. Bahkan, sudah menjadi tren bagi masyarakat muslim pada setiap undangan walimatul ‘ursy atau pernikahan selalu melantunkan ayat-ayat Alquran tentang istilah Keluarga Sakinah tersebut, sebagaimana disebutkan dalam surat Ar-Rum ayat 21, yang artinya :

”Dan sebagian dari tanda-tanda  Kekuasaan Allah adalah Dia menjadikan zawaj atau pasangan istrimu untuk kamu agar kamu mendapat ketenangan bersamanya dan Allah mencurahkan mawaddah, warahmah di antara kamu sekalian.’’
Keluarga Sakinah

Dengan membaca ayat yang tertera di atas, bahwa dalam batin keluarga yang terdiri dari pria dan wanita dalam satu ikatan zawaj /pernikahan adalah merupakan tanda-tanda dari kekuasaan-Nya. Antara pria dan wanita diciptakan oleh ALLAH untuk saling berpasang-pasangan melalui ikatan pernikahan.

Sebagai suami-istri yang terikat dalam satu pernikahan akan mencapai suatu kebahagiaan, apabila kebutuhan kejiwaannya (afeksional) menjadi kebutuhan utamanya yaitu kuatnya rasa saling mencintai, saling menyayangi, menghormati, dan saling menghargai, antara satu dengan yang lainnya secara langgeng dan istiqomah.

Untuk mewujudkan hal tersebut, suatu perkawinan tidak hanya didasarkan atas ikatan fisik dan pemenuhan biologis semata. Sebab jika demikian, lama kelamaan dengan bertambahnya usia, ikatan pernikahan itu akan rapuh.

Demikian bila ikatan pernikahan didasari materi saja. Maka dengan menurunnya status ekonomi, ikatan perkawinan dapat terancam kestabilannya. Namun, bila ikatan perkawinan itu menjadi nilai utamanya adalah nilai afeksional maka keutuhannya, kesejahteraan, dan kebahagiaan hidup akan lestari.

Dengan akumulasi berbagai rasa yang menjadi idealisme dari satu keluarga itulah, dalam bahasa agama disebut ”keluarga sakinah”.

Kata ”sakinah” dalam rumusan di atas dengan kata litaskunuu ( terjemahannya: ’agar kalian memperoleh ketenangan’), berfungsi sebagai sarana untuk memperoleh ketenteraman hidup.

Kata ”sakinah “ mempunyai arti :

1) Diam, dalam arti bahwa suami setelah seharian penuh bekerja mencari nafkah, dengan mengerahkan segenap kemampuan perlu mendapat kesempatan untuk beristirahat, diam bersama istri dan anaknya agar jiwa dan raganya tidak tegang. Jelaslah bahwa suami istri sebagai penyejuk jiwa dan raganya bagi pasangannya.

2) Tempat kembali, dalam artian bahwa baik suami maupun istri, juga anaknya setelah bekerja penuh kelelahan dan ketegangan untuk mencari nafkah kemudian perlu kembali ke rumah untuk menemukan ketenangan, beristirahat bersama keluarganya.

Kemudian di tempat ”diam” atau ”tempat kembali” sebagai tempat tinggal keluarga untuk menemukan ketenangan itu, maka Allah menumbuhkan di antara suami-istri itu rasa mawaddah dan warahmah.

Kata ”mawaddah “ mempunyai arti saling berkehendak dan saling berkeinginan untuk saling memiliki, maksudnya suami berkehendak kepada istrinya untuk memilikinya, begitupun sebaliknya. Karenanya, Allah tidak menyebutnya dengan kata ”hubb”, yang memang berbeda dengan kata mawaddah.  Kata ”Hubb” bermakna cinta dalam arti sekadar untuk menikmatinya, akan tetapi ”mawaddah “ adalah cinta untuk memiliki, dengan segenap kelebihan dan kekurangannya.

Suami-istri merupakan gabungan dua makhluk manusia berlainan jenis untuk saling melengkapi, memiliki, dan saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya, demi terwujudnya keluarga sakinah.

Selain rasa ”mawaddah “, Allah juga menumbuhkan rasa ”rahmah”, yang memiliki arti cinta dan kasih sayang yang membuahkan pengabdian. Karena dengan rasa rahmah itu  suami-istri dalam keluarga tersebut dapat mewarnai cinta dan kasih sayang dan disertai sikap pengabdian yang tiada batas, sehingga menjadi pendukung bagi terwujudnya keluarga sakinah tadi.

Keluarga Sejahtera

Keluarga Sakinah merupakan konsep dari suasana keluarga yang diidam-idamkan. Konsep tersebut tidak secara rinci bagaimana suatu keluarga menjadi bahagia sejahtera. Konsep tersebut dapat terlihat dari kriteria seseorang untuk menentukan calon pasangannya, seperti halnya  keagamaannya yang kuat, rupa yang menawan, dan mempunyai kekayaan yang memadai.

Begitu juga konsep tersebut dapat terlihat dari pembagian tugas dan fungsi suami-istri dalam keluarga. Dengan konsep tersebut, suatu keluarga mampu menghadirkan suasana bahagia dan sejahtera, atau dalam istilah lain disebut sakinah.

Sedangkan ”Keluarga Sejahtera (KS)” lebih merupakan hasil terapan yang sudah menjadi realita, yang kemudian dari rumusan-rumusan tertentu akan melahirkan upaya-upaya nyata dan terencana, yang kemudian menjadi program Gerakan Pembangunan Keluarga Sejahtera.

Sebagaimana yang kita maklumi, bahwa secara implisit sebenarnya BKKBN telah melaksanakan program KS sejak tahun 1970-an, yaitu dengan dimulainya program KB itu sendiri, yaitu dengan pengaturan anak yang dilahirkannya.

Dikatakan secara implisit, selain waktu itu, masih baru saja meninggalkan kebijakan Orde Lama dengan membiarkan penduduk dengan jumlah besar. Namun, dengan adanya peralihan pada Orde Baru, dengan kuantitas penduduk, dan segala kompleksitas permasalahan yang timbul, maka kebijakan kuantitas penduduk diganti dengan Program Pengendalian penduduk, dengan kualitas penduduk serta kualitas keluarga.

Selama lebih dari dua dasawarsa, Program BKKBN telah tampak keberhasilannya dengan menyosialisasikan Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS ) dan TFR mampu ditekan sampai di bawah 2,5. Dengan keberhasilannya itu, maka sejak tahun 1996/1997 dikembangkan menjadi GRKS, GKKS, dan GEKS. Dengan kriteria-kriteria tertentu dalam tahapan Keluarga Sejahtera hasil pendataan KS, dapat diketahui indikator apa yang menjadi sebab suatu keluarga termasuk pada tahap tertentu. Dari indikator itu pula, bisa diintervensi upaya apa saja yang harus dilakukan agar keluarga tersebut lebih meningkat tahap keluarganya.
Penyatuan Visi, Persepsi, dan Langkah

Namun, apalah artinya sebuah nama. Arti sebuah kata jika sepadan maksudnya, namun jika padanan katanya di masyarakat mempunyai arti dan persepsi yang berbeda sebagaimana Keluarga Sakinah dan Keluarga Sejahtera.

Dan dari persepsi yang berbeda itu, melahirkan rumusan atau langkah-langkah yang berbeda pula cara menanganinya dan tidak mempunyai titik singgung sama sekali keterkaitannya. Maka program tersebut berjalan sendiri dan tidak mempunyai hubungan apa pun.

Andai kata dilakukan pengkajian atau pengenalan program dengan kesamaan visi dan persepsi, kemudian menghasilkan rumusan atau langkah-langkah yang padu untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai, dan dengan saling mengoptimalkan potensi yang ada serta saling melengkapi, insya Allah akan memperoleh hasil yang lebih optimal.

Idealisme ”Keluarga Sakinah”  yang diperjuangkan oleh kelompok organisasi keagamaan di masyarakat mempunyai banyak tokoh agama, sekaligus tokoh panutan, tokoh kharismatik, adalah merupakan potensi tersendiri. Sementara lembaga BKKBN dengan legalitas formal, tenaga profesional, dukungan fasilitas, bahkan dana jika memungkinkan. Di sinilah, perlunya penyatuan visi dan persepsi kemudian menyatukan langkah (misi) dengan segenap potensi yang ada untuk mencapai tujuan yang sama yaitu terciptanya keluarga sejahtera atau istilah bahasa agama  dengan keluarga sakinah. Terlebih lagi masyarakat sekarang yang masih dilanda krisis, sungguh memerlukan uluran tangan dalam mengatasi masalah kehidupan mereka dengan usaha ekonomi kerakyatan. Misalnya, usaha pemberdayaan ekonomi keluarga melalui ibu-ibu rumah tangga, yang dikenal dengan Usaha Peningkatan Pembangunan Keluarga Sejahtera (UPPKS).

Satu hal yang perlu ditekankan adalah bahwa yang ditawarkan dari program BKKBN ini sesungguhnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam konteks upaya menerjemahkan nilai-nilai keagamaan (Islam), dalam kerangka mewujudkan realitas kholihah fil ardhi, li’ilaa kalimaatillah. Dalam konteks kebangsaan dan kenegaraan disebut dengan upaya baldatun thayyibatun warabbun ghafuur.

Kalau pada dekade 1970-an dan di awal 1980-an, program BKKBN, dengan menekan pertumbuhan penduduk melalui pengaturan kelahiran yang dulu menjadi pro-kontra. Nyatanya, program ini berhasil dengan gemilang, dan sekarang BKKBN menawarkan program ”Keluarga Sejahtera”, yang sesungguhnya  merupakan kebutuhan dasar dan harapan masyarakat. Kenapa tidak? (*)

*) Koordinator Penyuluh KB Kecamatan Banyuglugur.

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia