Sabtu, 17 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Kolom

Menengok Haji Banyuwangi Era Kolonial

Oleh: Ayung Notonegoro

Kamis, 19 Jul 2018 13:50 | editor : AF. Ichsan Rasyid

Menengok Haji Banyuwangi Era Kolonial

JAMAAH haji Banyuwangi, mulai diberangkatkan pada Senin malam (16/7). Setidaknya ada 18 bus yang dipergunakan untuk mengangkut 1.080 jamaah dari bumi Blambangan. Mereka dibawa ke Asrama Haji Sukolilo di Surabaya sebelum diterbangkan menuju ke Saudi Arabia.

Perjalanan haji yang demikian merupakan proses pengantaran pada masa modern. Namun, pernahkah membayangkan bagaimana prosesi pemberangkatan haji di Banyuwangi pada era kolonial. Ketika masih menggunakan kapal laut yang memakan waktu berbulan-bulan lamanya.

Catatan haji orang-orang Banyuwangi tak banyak ditemukan dalam literatur yang membahas tentang sejarah pelaksanaan rukun Islam kelima tersebut. Tak hanya di Banyuwangi sebenarnya, daerah lain di Nusantara juga demikian. Pemerintah kolonial Belanda sendiri, baru memulai pendataan haji secara teratur pada 1861. Namun, catatan tentang jamaah haji dari Banyuwangi secara spesifik tak terungkap pasti. Jamaah haji asal Banyuwangi kala itu, masuk dalam hitungan Karesidenan Besuki dengan kategori Java en Madura.

Meski tak diketahui secara pasti akan jumlah jamaah haji dari Banyuwangi pada abad 19, akan tetapi pengaruh haji pada masa itu mulai mendapat tempat di tengah masyarakat. Orang kaya maupun orang biasa berusaha untuk bisa menunaikan ibadah haji. Hal ini sebagaimana ditulis oleh seorang controleur berkebangsaan Belanda, Dr. Y.W. De Stoppelaar dalam bukunya berjudul Hukum Adat Blambangan (PSBB, 2009).

Stoppelaar yang menulis laporan pada 1926 itu, mengungkapkan demikian:

”[di Banyuwangi] Melakukan fanatisme dalam agama tidak ada, namun orang sangat menghargai melakukan rukun naik haji. Oleh karena itu, para haji ditemukan, baik di antara orang-orang kaya dan orang-orang yang terpandang maupun di antara orang-orang jalan dan orang-orang pengemudi delman. Apakah para agen penghubung calon-calon haji yang banyak jumlahnya itu muncul berkat adanya minat yang besar atau karena sebaliknya, tidak diketahui...”

Dari pernyataan di atas, terungkap bahwa praktik haji telah ramai di Banyuwangi. Hal ini juga diperkuat oleh pemberitaan dalam surat kabar berbahasa Belanda, De Indische Courant tertanggal 5 Desember 1929 yang memuat tentang berita haji di Banyuwangi. Pelabuhan Boom di Banyuwangi menjadi salah satu pelabuhan transit bagi kapal-kapal haji sebelum menuju ke pelabuhan haji di Surabaya. Setidaknya, ada tiga kapal uap yang melayani. Yakni, Kapal Tosari, Rondo, dan Alcinous.

Bahkan, jika merujuk pada foto-foto koleksi Museum Maritim di Rotterdam, Belanda, telah ada Kapal SS Rotti yang berlabuh pada 24 Februari 1924 yang mengangkut jamaah haji di Pantai Boom. Saat itu, tidak hanya jamaah dari Banyuwangi yang berangkat. Tapi juga dari daerah di Keresidenan Besuki, seperti Jember, Situbondo, dan Bondowoso. Maklum, saat itu Pantai Boom merupakan pelabuhan yang luas dan bersih. Sehingga nyaman untuk manasik haji serta dapat menampung pengantar haji yang tak terbatas.

Ramainya jamaah haji di Banyuwangi ini, juga menumbuhkan bisnis agen haji sebagaimana diungkapkan oleh Stoppelaar di atas. Salah satu agen haji di Banyuwangi yang cukup sukses adalah KH Saleh Syamsudin dari Kelurahan Lateng, Banyuwangi.

Kiai Saleh merupakan seorang ulama ternama yang mendirikan pesantren di Lateng pada 1902. Ia berangkat menunaikan haji pada 1894 dan bermukim di sana selama tujuh tahun. Hal tersebut membuatnya memiliki jaringan yang cukup luas dengan para syaikh haji di Makkah. Jaringan tersebut pun ia manfaatkan untuk membuka biro perjalanan haji, umrah, maupun yang berkaitan dengannya.

Keterlibatan Kiai Saleh sebagai agen haji itu, terungkap dalam sebuah surat yang dikirim oleh seorang bernama Hasan bin Kholil dari Makkah. Dalam surat yang tidak ada titi mangsanya tersebut, ia meminta kepada Kiai Saleh untuk mengirimkan para jamaah haji, umrah, maupun badal haji kepadanya.

”Kulo nyo’ona kiriman kadiye se empon, yakni badal haji atau umrah atau laen-laenah,” tulis surat tersebut berbahasa Madura dengan aksara Arab Pegon. Kurang lebih artinya, ”saya memohon kiriman kepada engkau yang sudah, yakni badal haji atau umrah ataupun lain-lainnya”.

Dari praktik tersebut, Kiai Saleh mendapatkan keuntungan yang cukup besar. Sebagaimana terungkap dalam surat yang sama, ia mendapatkan imbalan berupa kiriman barang-barang dari Makkah. Selain itu, juga ia mendapatkan uang. Bahkan, uang yang terkumpul cukup untuk membeli rumah di Makkah. Sayangnya, saat itu, penguasa Hijaz tidak memperbolehkan orang luar membeli properti di Kota Suci itu.

Praktik yang dilakukan oleh Kiai Saleh ini, terkonfirmasi oleh Saleh Putuhena dalam bukunya Historiografi Haji Indonesia (LKiS: 2007).

”Di Indonesia juga beroperasi sejumlah syaikh yang kebanyakan terdiri dari atas mukimin yang membantu seorang syaikh di Makkah. Ia memberikan pertimbangan kepada calon haji untuk memilih syaikh Makkah yang bersangkutan. Selain itu, sering kali ada di antara mereka yang berlaku sebagai perantara antara agen kapal dengan jamaah haji. Untuk itu, ia mendapat sejumlah bayaran dari agen kapal bagi setiap jamaah yang menggunakan kapal,” tulis Putuhena pada halaman 328.

Haji Sebagai Pintu Intelektualitas

Haji di Banyuwangi pada masa kolonial, tidak hanya bermotif ibadah dan ekonomi sebagaimana diungkapkan di atas. Namun, masih merujuk ke surat Kiai Saleh, juga menjadi pintu peradaban dan intelektual di Banyuwangi. Dari praktik haji tersebut, Kiai Saleh mengakses kitab yang terbit di Timur Tengah.

”Kaule makerem kitab de’ jamaahna Syaikh Raddin... lamon kasokan kitab sampean mugi e sebut e delem surat”.

Artinya kurang lebih demikian: saya mengirimkan kitab lewat jamaahnya Syaikh Raddin... Jika engkau menghendaki kitab lain, maka sebutlah di dalam surat balasan.

Dari perjalanan haji tersebutlah, Kiai Saleh dapat mengakses berbagai kitab langka dan terbaru. Seperti kitab Mu’jamul Buldan karya Al-Halabi yang kemudian hari dibeli oleh Wahid Hasyim sebagai literatur kala membentuk Kementerian Agama. Ada juga Zaddul Ma’ad, Futuhatul Makkiyah, Qonun At-Tib, dan lain sebagainya. Sehingga, pada saat itu, ia menjadi rujukan para kiai dan umat di Banyuwangi dan sekitarnya.

Bahkan melalui jalur perjalanan haji ini, Kiai Saleh banyak berkorespondensi dengan ulama di Hijaz. Salah satunya adalah surat kepada Mahkamah Agung Hijaz (Mekkah dan Madinah), Syekh Abdullah bin Abdurrahman Siraj (w. 1949). Surat dari Kiai Saleh bersama beberapa kawannya tersebut, direspons dalam sebuah kitab berjudul Al-Ajwibah Al-Makkiyah terbit pada 1922. Kitab tersebut merekam dinamika intelektual keagamaan di ujung timur Jawa.

Dari sederet fakta tersebut, ada satu pelajaran penting dari aktivitas haji. Tidak hanya semata berdimensi ibadah, tapi juga bagaimana menggerakkan peradaban dan intelektual di Banyuwangi. Satu tradisi haji yang sudah sangat sulit kita temui dewasa ini, bukan?(*)

*) Founder Komunitas Pegon. Sebuah komunitas yang bergerak meneliti, mendokumentasi, dan mempublikasi sejarah pesantren dan NU di Banyuwangi.

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia