Sabtu, 17 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Kolom
Man Nahnu

Dhuyuf Al-Rahman

Oleh: Samsudin Adlawi

Selasa, 17 Jul 2018 18:36 | editor : Ali Sodiqin

Dhuyuf Al-Rahman

ROMBONGAN jamaah calon haji (JCH) bertolak ke suci. Tadi malam dan pagi ini. Tapi mampir di Asrama Haji Sukolilo dulu. Untuk beres-beres berkas. Juga pemeriksaan kesehatan. Dan lain sebagainya.

Berangkat ke Tanah Suci selalu menghadirkan pengalaman batin yang luar biasa: gembira bercampur haru. Tanpa sadar air mata akan meleleh. Begitu rombongan bus tinggalkan Banyuwangi. Siapa pun akan merasakan pengalaman seperti itu. Tak peduli baru kali pertama berhaji atau sudah berkali-kali.

Haji memang unik. Pengalaman spiritualnya tak tertandingi. Oleh pengalaman apa pun. Keliling luar negeri atau keliling dunia sekalipun tak bisa mengalahkan pengalaman ketika berhaji. Padahal, haji adalah ibadah fisik. Butuh kondisi prima. Sebab harus tinggal lama di Makkah dan Madinah. Haji reguler 40 hari dan haji khusus (plus) sekitar 18 hari. Sudah begitu matahari terasa sangat terik. Bisa tembus 50 derajat Celsius. Seperti saat ini. Konon, suhu di haramain (dua kota suci: Makkah dan Madinah) di kisaran 40-50 derajat Celsius. Tapi tetap saja. Saat berhaji hati diliputi rasa senang yang luar biasa. Berhaji tetap ngangeni. Meski secara kewajiban, menjalankan Rukun Islam kelima itu hanya sekali.

Sayang sekali, menurut banyak cerita, ada jamaah haji yang tidak bahagia. Bahkan, merasa tertekan. Selama di Madinah dan Makkah. Perasaan bawaannya ingin cepat pulang. Kangen hebat sama keluarga di rumah. Juga pada pekerjaan dan harta bendanya. Cerita-cerita seperti itu selalu muncul ketika kita ziarah haji. Berkunjung kepada orang yang baru datang dari Tanah Suci. Saya tidak hanya mendengar. Tapi melihat sendiri. jamaah seperti itu. Saat berhaji tahun 2014 lalu.

Jamaah haji seperti itu, menurut kiai, kurang bisa menata hati. Baik ketika hendak berangkat. Ataupun saat berada di Tanah Suci. Selain istatha’ah (kemampuan fisik dan biaya), orang yang berhaji harus bisa menata hati. Niatnya harus benar. Harus lillahi ta’ala. Ikhlas. Tidak boleh ada niat-niat lainnya. Misal, untuk menaikkan status sosial. Biar dipanggil Pak Haji. Biar dipuji orang. Biar disegani. Dan biar-biar yang lainnya.

Sebaliknya, ketika niatnya benar dan ikhlas orang yang berhaji akan menikmati suasana batin yang luar biasa. Banyak yang sulit menggambarkannya dengan kata-kata. Saking menyenangkannya. Siraman sinar matahari yang menyengat tidak terasa. Jepitan jutaan jamaah haji lainnya saat tawaf sama sekali tak mengganggu jalannya. Kenapa bisa seperti itu? Karena para jamaah haji adalah dhuyuf al-rahman. Tamu-tamu Allah Yang Maha Pengasih. Para tamu terkasih. Bak orang yang sedang jatuh cinta. Bawaannya hanya perasaan senang. Kata-kata dhuyuf al-rahman akan akrab di telinga jamaah haji. Sapaan itu terus terdengar ketika sedang bertemu orang. Ketika mengikuti program ziarah, maka muthawif akan membuka sapaannya dengan menyebut dhuyuf al-rahman. Ketika khatib sedang berkhutbah, ia juga akan menyebut sapaan khusus itu. Dan, orang yang berhaji memang layak mendapatkan sapaan itu. Sebab, ia sedang memenuhi undangan/panggilan Allah SWT: Labbaik Allahumma Labbaik...

Tidak semua orang dimudahkan untuk memenuhi undangan spesial itu. Undangan dari Allah SWT. Ada rumus paten dalam berhaji atau umrah: Allah SWT akan memudahkan hamba-hamba-Nya yang Ia panggil/undang. Sebaliknya, Allah SWT tidak memanggil/undang hamba-Nya yang mempunyai kemudahan. Bagi yang dipanggil/diundang langsung oleh Allah SWT maka ia akan mendapatkan kemudahan-kemudahan. Sekali pun tidak punya uang yang cukup untuk berangkat. Banyak sekali cerita tentang bagaimana yang secara kasat mata tidak mungkin bisa membayar ongkos haji, eh ternyata malah bisa berangkat. Seperti tukang becak, bakul sayur di pasar, dlsb. Cerita-cerita inspiratif seperti itu akan muncul di musim haji seperti sekarang. Baik lewat media mainstream. Maupun lewat medsos yang penuh dengan bumbu-bumbu cerita.

Kisah bertolak belakang juga sering kita dengar. Di tengah masyarakat. Betapa banyak orang yang secara materi mampu berhaji. Bahkan, mereka bisa berhaji berkali-kali. Bukan saja haji reguler. Tapi haji plus-plus-plus sangat mampu. Tapi, ternyata mereka tidak kunjung berangkat ke Tanah Suci. Padahal, secara materi sangat istitha’ah. Allah SWT ternyata tidak memanggilnya. Tidak mengundangnya. Kenapa? Mestinya mereka tahu diri. Tanpa diundang pun semestinya memantapkan niat untuk berhaji. Sebagai rasa syukur. Tanda terima kasih kepada Allah SWT atas limpahan rezeki yang diterimanya. Jangankan kepada Allah SWT, ketika diberi sesuatu orang akan mengucapkan terima kasih. Tak cukup di situ. Biasanya ia akan balik memberi sebagai ucapan terima kasih. Lebih dari itu. Ia akan terus mengingat orang yang telah memberinya. Bahkan, disuruh apa pun oleh orang yang memberinya akan ia lakukan. Nah, kenapa hal seperti itu tidak dilakukan kepada Allah SWT. Padahal, dibanding pemberian Allah SWT pemberian orang tidak ada apa-apanya.

Tapi, ya sudah. Kita doakan semoga saudara-saudara kita yang berlimang rezeki segera sadar. Dan segera mendaftar haji sebagai rasa syukur atas kemudahan-kemudahan (materi) yang telah diberikan Allah SWT. Dan, bagi jamaah calon haji yang sedang menuju Tanah Suci kita doakan diberi kemudahan dalam beribadah. Menunaikan syarat dan rukun haji. Selalu digembirakan hatinya. Keluarga yang ditinggalkan di rumah selalu dijaga oleh Allah SWT. Aamiiin. (@AdlawiSamsudin)

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia