Minggu, 17 Nov 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Refleksi

Sepak Bola, Kegilaan, dan Histeria Massa

Oleh: Muh. Adam

16 Juli 2018, 16: 15: 59 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

Sepak Bola, Kegilaan, dan Histeria Massa

Share this          

SEPAK bola itu semacam candu, sejenis ganja sosial - psikologis yang bisa membuat penikmatnya merasa senang, bahagia, maupun panik.

Kepanikan menonton bola sejenis kepanikan yang menggairahkan, kepanikan yang membuat pelakunya ketagihan menikmati. Kalah dan menang menimbulkan kegairahan, sebagaimana orang ketakutan dengan ekspresi menjerit-jerit ketika menaiki roller coaster, namun di kesempatan lain akan menikmati lagi ketakutan di wahana tersebut. Rasa berdebar yang membuat ketagihan.

Sepanjang kurang lebih sebulan mulai tanggal 14 Juni, mata masyarakat dunia tertuju ke Rusia, tempat diselenggarakannya Piala Dunia.  Aktivitas untuk menyambut hajatan empat tahunan tersebut menggeliat dan menjadi euphoria di mana-mana, tidak terkecuali di wilayah Banyuwangi yang jaraknya dari Rusia sekitar 7.790 km. Fenomena histeria massa akibat sepak bola adalah peristiwa psikologi yang unik.

Unik, karena aktivitas menonton sepak bola bisa dikategorikan sebagai hipnotis masal. Kenapa banyak manusia dari berbagai kalangan suka menonton sepak bola? Padahal sebelum Piala Dunia, individu tersebut tidak terlalu peduli dengan sepak bola. Jawabannya relatif homogen. Karena suka. Itu saja.  Suka tidak suka adalah masalah rasa bukan masalah rasionalitas. Kecintaan pada sepak bola adalah kecintaan irasional.

Ada banyak ketidakwajaran di dalam aktivitas manusia. Sesuatu yang kalau dilogikakan tidak umum, atau janggal. Misalnya tahun 2013 silam, ada pelelangan lukisan yang dibanderol dengan harga yang sangat mencengangkan USD 43,8 juta atau setara dengan Rp 575,6 miliar.

Hanya butuh waktu singkat lukisan tersebut laku. Apa lukisannya? Dua buah persegi panjang warna biru tidak ada ornamen apa pun. Pelukisnya bernama Barnett Newman warga New York.

Bagaimana menjelaskan sesuatu yang tidak bisa dilogika semacam ini. Manusia dari spesies apa yang menghamburkan uangnya begitu banyak, hanya untuk membeli lukisan dengan ketidakjelasan akut semacam itu. Jika kita mencermati fenomena ini pasti akan mengernyitkan dahi dan berpikir bahwa dua orang tersebut penjual dan pembeli sama-sama tidak rasional.

Pemain sepak bola dan penonton adalah sejenis dengan spesies manusia sebagaimana gambaran di atas. Sama-sama tidak rasional.  Ketidakwarasan yang mengasyikkan mungkin. Sebagaimana fenomena ketidakwajaran gaji Ronaldo di klub Juventus yang mencapai 60 juta Euro, setaraf Rp 1 triliun atau Rp 1 juta per menit.

Seorang yang disuruh berlari-lari kerjanya sambil menggiring bola dan memasukkan ke gawang lawan, mendapatkan bayaran yang begitu fantastis. Sangat tidak rasional, sama uniknya dengan penjualan lukisan abstrak karya Barnett. Mungkin bisa disimpulkan lukisan abstrak dan pemain sepak bola adalah sejenis.

Kembali ke permasalahan awal tadi, kenapa sepak bola mampu menghipnotis orang untuk suka dan membicarakannya seolah-olah sebagai kejadian yang sangat penting? Manusia punya identitas pribadi dan identitas sosial. Ketika lingkungan sosial lagi terfokus kepada sepak bola, maka manusia akan merasa nyaman jika ikut bergabung dengan identitas sosial tersebut. Ketika individu menolak arus identitas sosial yang berkembang maka dirinya seperti berada dalam out group atau identitas yang disematkan untuk mengidentifikasi kelompok lain yang bukan bagian dari in group.

Tekanan psikologis seperti inilah yang menjadikan wabah sepak bola membesar seperti bola salju. Sehingga individu akan merasa keren kalau dalam jagat dunia maya atau ketika nongkrong di warung kopi pinggir jalan mampu mengomentari atau mencerca pemain yang terkenal semisal Neymar raja lebay, atau Messi yang harus angkat koper duluan. Merasa keren ketika membahas bola juga bisa di jelaskan secara psikologi. Pola pikir dan persepsi masyarakat tidak pernah independen, selalu dipengaruhi persepsi massa. Massa dipengaruhi media. Media mengabstraksi, bahwa Messi dan Ronaldo orang hebat, karena dia mampu menggiring bola dengan indah serta menjebol gawang lawan.

Menggiring bola dikonstruksi sebagai sebuah kehebatan. Konstruksi media yang begitu hebatnya menjadikan sosok Ronaldo sebagai sosok yang sangat diidolakan akhirnya, karena kemampuan menendang bola. Maka dalam benak individu, dirinya akan merasa hebat ketika membicarakan orang hebat. Perasaan merasa selevel dengan objek obrolan inilah yang menjadikan diskusi semakin menarik.

Coba bandingkan dengan prestasi mahasiswa UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) yang mampu melesatkan mobil karyanya dalam kompetisi dunia Lomba Balap Mobil Hemat Energi yang bertajuk Shell Eco Marathon Drivers World Championship di London dan menjadi juara.

Karena media tidak pernah membahas seheboh sepak bola, maka diskusi akan sebentar dan tidak akan menarik didiskusikan di warung pinggir jalan. Padahal upaya menjadi juara tersebut ditempuh dengan riset yang dilakukan bertahun-tahun dengan mencurahkan dana dan upaya yang tidak sedikit

 Perkawinan Industrialisasi dan Sepak bola

Industrialisasi membutuhkan mesin pengumpul massa. Massa inilah yang akan dipengaruhi untuk menyerap produk dari hasil industri. Salah satu mesin pengumpul massa adalah olah raga sepak bola. Sepak bola digemari banyak pihak karena sepak bola dengan penontonnya satu paket. Sepak bola akan kehilangan rohnya tanpa adanya penonton. Maka stadion sepak bola pastinya besar dan megah karena akan menampung banyak orang untuk menonton. Misalnya tim yang diperkuat Cristiano Ronaldo bertanding dengan tim yang dibintangi Lionel Messi. Pertandingan tersebut ditayangkan di televisi dan hanya di hadiri ofisial yang jumlahnya katakan 56 orang. Apa yang bisa kita rasakan sebagai penonton di TV melihat hal tersebut, garing pastinya. Pertandingan tersebut tidak akan seru, malah menjengkelkan meskipun yang bermain adalah pemain bintang. Jadi konstruksi media yang menjadikan pertandingan bola menarik. Di luar itu, korporasi internasional bisa leluasa melekatkan produknya untuk diminati dan dicintai oleh pasar. Begitulah jalannya sepak bola. Dana yang besar untuk menggaji manusia yang berlari-lari mengejar bundaran kosong berisi udara didapat dari sponsor yang turut menjual produknya. Produk tersebut akan dijual di pasaran dengan menghitung juga biaya untuk iklan. Lalu produk tersebut dibeli oleh banyak orang, termasuk penonton sepak bola sendiri. Begitulah cerita tentang sepak bola dan apa yang terjadi di belakangnya.

Namun karena sudah menjadi sesuatu yang lumrah dan digemari banyak orang, maka olah raga sepak bola adalah olahraga rasa dan raga, di sukai banyak orang karena banyak yang menyukai. Inilah yang dinamakan logika melingkar circular logic yang terjadi pada olahraga sejuta umat, sepak bola.

 Sepak Bola dan Misi Perdamaian

Pertandingan sepak bola bisa juga sebagai media pelepas ketegangan. Manusia punya kecenderungan destruktif, kalau tidak tersalurkan pelampiasannya, bisa menggunakan medan perang. Dengan adanya Piala Dunia yang diadakan setiap empat tahun sekali, sebenarnya juga berperan untuk mengurai atau mereduksi ketegangan sosial politik antar negara. Sepak bola yang di dalamnya ada nilai-nilai fair play menghindari intervensi politik, rasis, maupun kecenderungan negatif lainnya. Dengan nilai-nilai semacam itulah, sepak bola bisa menjadi alat diplomasi damai antarnegara di dunia. Mempererat hubungan antar negara walaupun pertandingannya akan membuat senewen pendukung yang kalah serta memberi hiburan kesenangan bagi pendukung yang timnya menang.

Sebentar lagi final Piala Dunia, yang akan mempertemukan raksasa baru sepak bola. Di luar itu juga ada pertandingan U-19 AFF. Setelah itu pencinta bola akan dimanjakan lagi dengan perhelatan Asian Games di Jakarta. Tentunya pertandingan bola akan menarik massa baik lokal dan dunia. Meski tidak semasif pemberitaan Piala Dunia, namun event sekaliber Asian Games akan mengundang banyak perhatian khususnya Asia. Penggemar bola Indonesia juga akan dibuat senang karena akan melihat tim kebanggaannya bertanding untuk meladeni permainan negara lain. Jika permainan Kesebelasan Indonesia baik dan heroik maka kita akan sangat bangga dan gembira, namun jika sebaliknya maka kita sepanjang 90 menit akan dibuat ketar-ketir.  Sebuah ikatan emosional yang tidak ditautkan oleh darah namun satu kesatuan identitas dan entitas bernama Indonesia. Itulah uniknya sepak bola dan kegilaan yang ada di dalamnya. Semoga suatu saat entah kapan bendera merah putih berada dalam jajaran kontestan piala dunia. Sehingga euphoria dan kegilaan piala dunia yang terjadi di pelosok tanah air menemukan alasannya. karena Indonesia ikut bertanding. Amin.(*)

*) Penggila bola tinggal di Kampung Ujung, Banyuwangi.

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia