Senin, 14 Oct 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Features

Terinspirasi Go-Jek, Mahasiswa Ciptakan Aplikasi Guide Pariwisata

11 Juli 2018, 18: 20: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

INOVATIF:  (dari kiri) Arina Manasika, Cici Farista, dan Rita Sulistyowati. Para mahasiswa PSDKU Akuntansi Unair Banyuwnagi ini menciptakan aplikasi untuk pramuwisata di Bumi Blambangan.

INOVATIF: (dari kiri) Arina Manasika, Cici Farista, dan Rita Sulistyowati. Para mahasiswa PSDKU Akuntansi Unair Banyuwnagi ini menciptakan aplikasi untuk pramuwisata di Bumi Blambangan. (TIM PKM Unair for RaBa)

Share this          

Lima mahasiswa Program Studi Luar Kampus Utama (PSDKU) Akuntansi Universitas Airlangga Banyuwangi tengah mengembangkan aplikasi guide (pramuwisata) online. Aplikasi bernama Travelmate itu kini tengah dikembangkan untuk bisa digunakan seluruh pramuwisata yang ada di Bumi Blambangan.

FREDY RIZKI, Giri

IDE kelima mahasiswa dari PSDKU Akuntansi Universitas Airlangga Banyuwangi ini boleh dibilang cukup visioner. Terinspirasi dari suksesnya Go-Jek dengan segala fiturnya, Cici Farista, Rita Sulistyowati, Arina Manasika, Mesti Retnowati, dan Alvin Ridho Izzudin mencoba membuat aplikasi serupa bernama Travelmate. Aplikasi ini untuk menunjang aktivitas pariwisata di Banyuwangi, yaitu untuk para travel guide.

Cici, ketua tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Dikti yang menggagas inovasi Travelmate mengatakan, potensi Banyuwangi di bidang pariwisata cukup besar. Dari analisisnya, ada sekitar 80-an destinasi yang kerap menjadi opsi para wisatawan baik domestik maupun luar negeri. Ditambah juga ada 77 festival yang berlangsung selama setahun.

Hal itu cukup menarik minat wisatawan. Sayangnya, ketersediaan jasa guide masih cukup terbatas. Belum lagi, jika wisatawan tersebut belum pernah sekalipun ke Banyuwangi. ”Masih banyak wisatawan yang bingung mencari guide saat ingin berwisata ke Banyuwangi. Karena itu kita membuat aplikasi ini untuk mempermudah wisatawan mencari guide lokal. Termasuk memudahkan masyarakat lokal yang memiliki kualifikasi sebagai guide untuk bekerja,” beber alumnus SMA 1 Genteng itu.

Untuk melakukan order di aplikasi Travelmate cukup mudah. Setelah men-download aplikasi tersebut di Google Play, calon pemesan bisa memasukkan data diri. Setelah itu mereka juga bisa memasukkan perkiraan tanggal berwisata dan lama waktunya. Setelah itu, pemesan juga bisa memasukkan berapa orang yang ada di dalam rombongan.

Terakhir, pemesan bisa mengisi calon destinasi wisata yang akan dikunjungi. Setelah itu barulah di baris akhir akan muncul jumlah biaya yang harus dibayarkan. ”Tarif range yang ditawarkan oleh para tour guide per hari sekitar Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu untuk maksimal 10 orang wisatawan. Setelah membayar, nanti pemesan bisa mengunggah bukti transfernya. Setelah itu kita (admin) atau guide sendiri yang akan menerima pesanan tersebut,” terang Cici.

Arina Manasika, anggota tim lainnya menambahkan, sementara ini aplikasi tersebut masih diujicobakan di area Desa Kemiren. Jadi dari SDM guide maupun sirkulasi pemesanan sebagian besar di-handle oleh Pokdarwis Desa Kemiren. ”Kemiren ini selain memang desa wisata, kita lihat Pokdarwis dan masyarakatnya sangat aktif, jadi kita cobakan di sana. Sementara ini rekrutmen untuk guide juga masih di-handle Pokdarwis, masih manual,” kata Arina.

Meski saat ini jangkauan dari aplikasi tersebut masih terbilang kecil, Arina bersama timnya memiliki proyeksi untuk bisa mengembangkan aplikasi tersebut lebih luas. Bahkan timnya sudah pernah menyosialisasikan aplikasi tersebut di hadapan perwakilan Pokdarwis  di Banyuwangi. ”Responsnya positif dari para Pokdarwis,” imbuhnya.

Apalagi saat ini tingkat kecanduan masyarakat terhadap aplikasi semacam ini cukup tinggi. Karena itu, dia pun semakin optimistis aplikasi ini akan berkembang. ”Harapan kita nanti bisa menjangkau seluruh guide di Banyuwangi,” kata Arina.

Saat ini timnya masih mengurus hak kekayaan intelektualnya. Ke depan, timnya  akan bekerja sama dengan asosiasi pramuwisata. ”Jadi seperti SIM di Go-Jek, para guide ini juga punya lisensi,” ungkapnya sambil tersenyum.

Dosen pembimbing para mahasiswa tersebut, Riski Isminar Ardiyanti menambahkan, proyeksi aplikasi ini ke depan cukup menjanjikan. Tak hanya di Banyuwangi, aplikasi ini juga bisa dimanfaatkan secara nasional seperti layaknya Go-Jek atau Grab. ”Nanti kita berencana memasukkannya ke inkubasi bisnis Unair. Jadi tidak hanya mengembangkan aplikasi, kita juga membuka peluang lapangan kerja baru untuk para guide lokal,” tandas Riski. (aif/c1)

(bw/fre/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia