Minggu, 15 Dec 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Edukasi

Ke Pondokan Dijemput Babo-Umi Pakai Mobil Mewah

26 Juni 2018, 18: 45: 59 WIB | editor : Bayu Saksono

Ke Pondokan Dijemput Babo-Umi Pakai Mobil Mewah

Share this          

Usai menempuh perjalanan panjang Kuala Lumpur-Pattani selama 12 jam via jalur darat, mahasiswa KKN/PPL IAI Ibrahimy Genteng akhirnya dilepas menuju lokasi pondokan. Selama lima bulan mereka akan melaksanakan tugas kampus di sekolah tingkat dasar dan menengah pertama yang dikelola pesantren.

Hall Park View Resort Hotel di Pattani, Thailand, menjadi ruangan perpisahan bagi tujuh mahasiswa Institut Agama Islam (IAI) Ibrahimy Genteng dengan dosen pembim­bingnya. Selama lima bulan lamanya, mereka akan menjalani masa Kuliah Kerja Nyata dan Praktik Kerja Lapangan (KKN/PPL) di sejumlah tempat di Thailand Selatan.

Bersama puluhan mahasiswa lainnya, mereka dilepas dalam sebuah acara seremoni Minggu (24/6) kemarin. Tidak hanya peserta KKN/PPL dan pembimbing saja yang hadir, anggota dan pengurus yang tergabung dalam wadah alumni mahasiswa Thailand Selatan yang tergabung dalam Abroad Alumni Association of Southern Border Province juga datang dalam acara itu. Wadah ini men­jadi jembatan bagi pelaksanaan pertukaran mahasiswa Banyuwangi dan Indonesia lainnya untuk bisa mengenyam suasana serta pengalaman baru di Negeri Gajah Putih.

DUKUNGAN MORAL: Konsulat RI di Songkhla Mohamad Arifin Hidayatullah (kanan) mendukung mahasiswa KKN/PPL IAI Ibrahimy di Pattani.

DUKUNGAN MORAL: Konsulat RI di Songkhla Mohamad Arifin Hidayatullah (kanan) mendukung mahasiswa KKN/PPL IAI Ibrahimy di Pattani. (RAMADA KUSUMA/RABA)

Dalam kemeriahan tersebut juga dihadiri perwakilan pejabat dari Southern Border Provinces Administration Centre in Collabo­ration.

Di Indonesia, lembaga ini mirip dengan Kementerian Dalam Negeri yang khusus me­nangani provinsi yang ada di Thailand bagian selatan. Tidak ketinggalan Konsulat Republik Indonesia yang berkedudukan di Songkhla, Mohamad Arifin Hidayatullah, turut hadir memberikan support bagi ma­hasiswa asal Banyuwangi dan Indonesia.

Ruangan yang berukuran cukup luas ini juga penuh sesak dengan kehadiran beberapa perwakilan sekolah/pesantren yang menam­pung mahasiswa yang KKN/PPL. Tidak tang­gung- tanggung Babo dan Umi secara khusus ikut menjemput calon peserta. Di Indonesia. Babo dan Umi ini biasa disebut dengan Kiai dan Bu Nyai di pesantren.

Kehadiran ratusan orang ini tidak mengu­rangi kekhidmatan acara penyambutan mahasiswa itu sendiri. Lagu kebangsaan ke­dua negara, yakni Thailand dan Indonesia diperdengarkan bersama sebagai pembuka dalam kegiatan itu. Lantunan ayat suci Alquran juga dilan­tun­kan sebagai ritual wajib dalam kegiatan itu.

Banyaknya tamu yang hadir dengan latar belakang berbeda di hall Park View Resort Hotel ini membuat panitia harus mengambil terobosan. Terkait komunikasi, pembawa acara menggunakan tiga bahasa agar seluruh kegiatan bisa berjalan dengan lancar. Bahasa yang digunakan di antaranya Thailand, Inggris, dan Melayu.

”Bahasa Thailand wajib digunakan di semua sekolah di Thailand. Meski kebanyakan di Pattani merupakan orang Melayu semua, wajib pakai bahasa itu,” ujar Furqon, salah satu anggota Abroad Alumni Association of Southern Border Provinces.

Seusai acara, Konsulat Republik Indonesia Mohamad Arifin Hidayatullah menyempatkan diri menyapa perwakilan mahasiswa Indonesia. Tidak terkecuali mahasiswa asal IAI Ibrahimy Genteng. Arifin meminta agar mahasiswa mampu menjaga nama baik bangsa Indonesia. Di Thailand mereka bukan hanya mahasiswa KKN/PPL, tetapi juga duta bangsa.

Mahasiswa yang mengikuti KKN/PPL ini akan disebar di sejumlah wilayah di Thailand selatan seperti Yala, Songkhla, Pattani, dan Narathiwat. Jarak tempuh dari Pattani pun beragam. Paling jauh adalah Songkhla yang berjarak 300 km dari lokasi serah terima.

Dia juga meminta mahasiswa untuk memenuhi parameter yang dibebankan dalam kegiatan ini. Parameter pertama adalah me­menuhi tugas dari kampus asalnya. Parameter kedua yakni membimbing siswa dengan kurikulum yang sesuai dengan pesantren di Thailand. ”Kegiatan ini merupakan pilar ASEAN dalam bidang sosial budaya. Jadi laksanakan sebaik baiknya,” pesannya.

Usai menyapa mahasiswa KKN/PPL, peserta kegiatan ini kemudian dipertemukan dengan calon Babo dan Umi. Mereka diberi kartu identitas khusus yang berisi nama dan sekolah yang akan dituju. Satu per satu nama mereka dipanggil, kemudian Babo dan Umi mendatangi untuk menyambut mahasiswa magang ini.

Mereka kemudian dibawa dari hall hotel menuju ke pondokan yang telah ditentukan. Mahasiswa IAI Ibrahimy sendiri terpencar dalam beberapa sekolah. Enam mahasiswa akan melaksanakan KKN/PPL di Pattani. Sedangkan satu mahasiswa lainnya berada di Songhkla. ”Nggak apa-apa jauh, yang penting tetap semangat,” ujat Siti Nur Arika, mahasiswa jurusan PAI IAI Ibrahimy Genteng.

Terpencar dalam lokasi berbeda, mahasiswa IAI Ibrahimy Genteng ini pun langsung membuat grup WhatsApp. Ini dilakukan untuk mempermudah komunikasi sekaligus pertukaran informasi antarmahasiswa asal Banyuwangi selama KKN/PPL. Forum ini sekaligus bisa menjadi ajang pertukaran ide dan problem solving selama di negeri orang.

Kehadiran mahasiswa mendapat sambutan hangat dari pemilik pondokan. Kehadiran mereka seolah disejajarkan dengan tamu agung. Mahasiswa KKN/PPL ini pun dijemput langsung dengan kendaraan mewah milik Babo dan Umi. Deretan mobil seperti Mitsubishi Pajero, Toyota Fortuner, Honda Civic, hingga kendaraan dobel kabin menjadi tumpangan mahasiswa KKN/PPL menuju lokasi pondokan.

”Di sini mobil kiainya bagus-bagus, ya. Me­reka semua orang kaya. Makanya anak-anak dijemput pakai mobil bagus semua,” ujar Rektor IAI Ibrahimy Genteng Khalirur Rahman.

Penyambutan istimewa ini tentu saja membuat mahasiswa IAI Ibrahimy menjadi bersemangat. Samsul Arifin, mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam IAI Ibrahimy mengaku sudah mempersiapkan diri untuk KKN/PPL ini. Dia sudah membekali diri dengan kemampuan bahasa Arab, Inggris, dan Melayu khususnya Indonesia.

Samsul menilai KKN/PPL ini tidak hanya soal transfer ilmu pengetahuan di sekolah nanti. Kegiatan ini juga menjadi media pembelajaran baginya untuk bisa berinteraksi dan memahami budaya masyarakat di Pattani, Thailand. ”Harus yakin, pasti bisa,” katanya.

Ketua Abroad Alumni Association of Southern Border Provinces Sayuthi Hayeethay mengapresiasi program pertukaran pendidikan dan kebudayaan ini. Menurutnya, Thailand dan Indonesia merupakan kawan akrab. Ke depan kegiatan yang sudah memasuki agenda ke sepuluh tahun ini tetap bisa dipertahankan dan diteruskan.

(bw/nic/rbs/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia