Jumat, 22 Nov 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Refleksi

Menjadi Kaya

Oleh : Badruddin Kamal

12 Juni 2018, 06: 50: 59 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

Menjadi Kaya

Share this          

SEBAGAI seorang yang mendapatkan amanat mengurus zakat, hari-hari saya disibukkan dengan berkutat mencari muzaki, mencari mustahik, dan tentu mendistribusikan zakat.

Rutinitas ini semakin intens menjelang berakhirnya bulan suci Ramadan tahun ini. Saya dan teman-teman lain selalu berkomitmen untuk mengantar zakat kepada yang berhak menerimanya. Ini kami lakukan dengan tujuan memberikan pelayanan dan tidak merepotkan mustahik serta yang terpenting adalah agar kita mengetahui langsung kondisi mustahik zakat yang sebenarnya.

Sama juga dengan santunan yatim piatu. Bagi kami, tak perlu memanggil mereka di suatu acara untuk kemudian dipajang dan dipertontonkan kepada orang lain. Karena bagi kami mereka bukanlah tontonan. Mereka semua fakir miskin maupun anak yatim perlu perhatian dan bantuan tak hanya dalam momen tertentu, tapi butuh intensitas perhatian yang selalu kontinyu.

Dari hasil perjalanan distribusi zakat, secara pribadi saya bisa semakin menyadari bahwa sesungguhnya kita kadang terlalu manja dan sangat tak mau bersyukur kepada Allah. Keluh kesah kehidupan yang kita hadapi kadang menjadi segera sirna ketika blusukan zakat ini dilakukan.

Masih banyak saudara kita yang berada jauh dengan kondisi ekonomi kita, tetapi mereka tetap bisa bertahan. Ketika bantuan sekadarnya mereka terima, terkadang membuat hati kita tersentak dengan panjatan doa yang dengan khusyuk mereka bacakan, dan selalu kita amini.

”Terima kasih banyak Pak. Semoga dibalas dengan yang lebih besar. Terima kasih. Hanya Pengeran (Tuhan) yang bisa membalas kebaikan njenengan Pak. Terima kasih. Terima kasih. Alhamdulillah. Semoga Allah mengabulkan segala yang njenengan inginkan, Pak...”

Dan masih banyak lagi ucapan dan ungkapan doa dari mereka yang mendapat bantuan zakat. Semakin saya merasakan bahwa kita kurang bersyukur. Semakin kita dalami kehidupan mereka, semakin kita dituntut untuk bisa mengambil i'tibar, pelajaran, dari kehidupan mereka.

Saya kemudian teringat dengan sebuah cerita dari guru ngaji di kampung saya. Beliau berkisah, suatu ketika ada seorang datang sowan kepada salah satu kiai. Seperti biasa kedatangannya tentu ingin menyampaikan keluh kesah kehidupan yang dihadapi sembari meminta solusi melalui doa dan sebagainya. Terjadilah sebuah dialog kecil:
”Mohon maaf Kiai, saya ada kepentingan. Yang perlu kami sampaikan.”

”Iya monggo semoga atas izin Allah saya bisa membantu memberikan jalan keluar.”

”Begini Kiai, akhir-akhir ini saya ada masalah dengan keadaan ekonomi saya yang semakin menurun, jadi saya mohon doa agar diparingi lancar dan sukses…serta…”

”Kaya.”

”Hehehe...kira-kira begitu Kiai. Agar ibadah semakin khusyuk.”

”Oh...jadi sampeyan kepingin kaya?”
”Enggeh Kiai...”

”Baiklah, kalau sampeyan kepingin kaya, setelah ini sekitar jam sembilan malam, ikut saya.”
”Ke mana kiai?”

”Sudah ikut saya saja, saya jamin, setelah sampai di tempat itu, sampeyan akan menjadi orang paling kaya.”

”Oh, enggeh Kiai. Alhamdulillah...”

Setelah jam menunjukkan pukul 21.00, maka sang kiai segera keluar dari dalemnya untuk mengajak sang tamu ini.
Kemudian tibalah kedua orang ini di suatu tempat di emperan toko milik pengusaha yang di sana banyak orang-orang tidur yang kita kenal dengan orang mbambung. ”Sudah. Di sini.”
”Maksudnya pripun Kiai?”

”Iya. Diamlah kamu di sini.”
”Terus, gimana maksudnya Kiai?”

”Iya. Saya tadi sudah bilang, bahwa kalau kamu ada di tempat ini, maka kamu akan jadi orang paling kaya. Nah, sekarang diamlah kamu di sini. Di hadapan orang-orang mbambung ini, maka kau akan menjadi sangat kaya dibandingkan mereka. Bagaimana?”

”Enggeh, Kiai. Saya paham. Saya mengerti Kiai.”
”Baiklah. Alhamdulillah... Belajarlah bersyukur, menunduk ke bawah kalau untuk urusan dunia, dan tengadah ke atas kalau urusan akhirat. Begitu dawuh Kanjeng Nabi.”

Demikian kisah singkat di atas serta apa yang saya lihat beberapa hari ini bisa membuat hati semakin bisa mengambil pelajaran dari saudara kita. Dan semakin meyakini bahwa kaya dan miskin itu sangatlah relatif.

Tergantung apa yang menjadi tolok ukurnya. Jika ukurannya adalah hati, maka sedikit terasa cukup. Tapi jika nafsu yang di depan, maka emas segunung tak ’kan cukup memenuhinya. Marilah kita jadikan kaya itu menjadi kaya yang hakiki. Kaya yang menancap dalam hati dan mau berbagi dengan sesama.”Laisal ghina 'an katsrotil maal, walakinnal ghina, ghinanafsi. Kaya itu bukan karena banyaknya harta, tapi kaya yang hakiki adalah kaya hati.

Wallahu.(*)

*) Koordinator UPZ Kecamatan Kalibaru.

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia