Sabtu, 26 Sep 2020
radarbanyuwangi
Home > Ekonomi Bisnis
icon featured
Ekonomi Bisnis

Dinas Pertanian Edukasi Peternak dengan Metode Teknologi Silase

27 Mei 2018, 20: 25: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

TAMBAH GEMUK: Sapi yang diberi pakan silase/fermentasi Tebon Jagung ini terlihat lahap saat makan.

TAMBAH GEMUK: Sapi yang diberi pakan silase/fermentasi Tebon Jagung ini terlihat lahap saat makan. (Dinas Pertanian BWI For RaBa)

Share this          

BANYUWANGI - Pakan menjadi salah satu dari tiga faktor utama dalam keberhasilan usaha peternakan. Untuk pakan yang perlu diperhatikan dua hal selain jenis pakan  perlu juga mengetahui menejemen pakan, sehingga sapi mendapatkan pakan sesuai kebutuhan gizi ternak, sesuai dengan tujuan usaha. Banyak masalah dalam pakan dan menejemen pakan dilapangan ternak, seperti gizi dan ketersediaan.

Kepala Seksi (Kasi) Budidaya dan Tekhnologi Terapan Dinas Pertanian (Disperta) Moh Rustam Dwi Atmojo, S.Pt mengatakan, pembuatan pakan sapi dapat dilakukan secara mandiri, dengan bahan yang mudah ditemui, juga dengan harga terjangkau. “Oleh karena itu para peternak harus memaksimalkan pengawetan, untuk mendapat kandungan nutrisi yang tersedia dari bahan makanan hijauan. Agar bisa disimpan untuk jangka waktu yang lama sehingga aman untuk persediaan bahan pakan di musim kemarau untuk ternaknya,” ujarnya.

Rustam menuturkan, cara membuat pakan ternak sapi bisa dilakukan dengan cara pendekatan teknologi silase atau fermentasi. Cara ini memungkinkan untuk mengolah bahan pakan hijauan untuk meningkatkan kecernaan dari bahan pakan yang pada umumnya mengandung serat kasar yang tinggi.

Dikatakan, pakan fermentasi mempunyai keuntungan dapat tahan lebih lama, dan membantu perbaikan pencernaan ternak. Dengan fermentasi ini dapat mengoptimalkan bahan pakan seperti rumput gajah, tebon hingga batang bawah yang tua, keras dan tidak dimakan oleh ternak jika diberikan langsung. “Tebon jagung salah satu bahan yang baik disimpan dengan cara metode fermentasi.  Bagaimanapun kita tidak bisa mengandalkan sumber pakan hijauan yang tidak pasti dengan merumput setiap hari jika kita mau mengusahakan ternak sapi untuk skala besar. Agar beternak lebih mudah perlu cadangan pakan, Sumber pakan hijauan akan mudah didapat pada saat musim penghujan. Namun sebaliknya ketika musim kemarau pakan hijauan akan sulit diperoleh,” kata Rustam.

Dikatakan, dengan proses fermentasi tebon jagung dapat diolah menjadi silase/fermentasi. Pakan ternak ini mengandung nutrisi memadai sehingga bisa menjadi alternatif pakan saat musim paceklik. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait dengan fermentasi bahan pakan ini, yaitu fermentasi ini memiliki kualitas yang lebih baik dari bahan asal tetapi tidak selalu sesuai kebutuhan ternak, jika bahan asalnya memiliki kandungan nutrisi yang kurang untuk kecukupan ternak seharusnya diberi tambahan semisal dedak padi, ampas tahu, dedak jagung

Kita harus mengutamakan kualitas bahan yang akan diawetkan dan tidak terpukau pada kehebatan sarter/mikroba, mikroba yang hebat berpengaruh pada kecepatan dan jaminan proses fermentasi tetap berlangsung, jika bahan kualitas rendah diberi starter apapun juga tetap kurang kualitasnya untuk ternak.

Jika bahan yang diolah sudah disesuaikan dengan pakan yang biasa diberikan kepada ternak maka ternak tidak akan mengalami masalah dengan pakan yang difermentasi. “Tidaklah mudah mengintroduksi sesuatu kepada masyarakat, membumikan rakitan teknologi untuk masyarakat. Teknologi harus berbasis atau sesuai kebutuhan peternak, teknologi ini sudah familiar diterapkan di teman teman sapi penggemukan gambiran, sapi perah dan peternak-peternak dibawah bimbingan pak sukamdi” pungkas Rustam.

(bw/sgt/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia