Jumat, 22 Nov 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Refleksi

Teroris, Media Massa, dan Persepsi Masyarakat

Oleh: Muhammad Rifqi Nurdiansyah*

24 Mei 2018, 06: 50: 59 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

Teroris, Media Massa, dan Persepsi Masyarakat

Share this          

BEBERAPA hari terakhir ini kita sering mengonsumsi pemberitaan kasus ledakan bom di berbagai media massa baik cetak maupun elektronik. Hal ini menjelaskan bahwa luasnya pengaruh berita bagi masyarakat (magnitude) menjadi penentu dalam memberikan nafsu pembaca. Kejadian tersebut selalu ada ruang untuk memberitakan, bahkan sekecil apa pun insidennya, pewarta selalu memiliki bumbu lezat dalam memasak, sehingga media massa sekarang menjadi salah satu menu kesukaan sehari-hari masyarakat.

Media massa memiliki peran yang sangat besar dan memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam memusatkan perhatian publik untuk mengetahui berbagai informasi, menyebarkan informasi, dan menambah pengetahuan. Media massa menurut Denis Mc Quail (1992) berperan sebagai alat perubahan dan pembaruan kehidupan sosial bermasyarakat karena memiliki karakteristik yang menjangkau seluruh lapisan massa dengan wilayah yang luas, serta mampu memberikan popularitas kepada siapa saja yang muncul di media massa tersebut. Hadirnya kasus teror menjadi salah satu pusat perhatian publik yang sangat besar pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat.

Begitu banyak media memberitakan kejadian ledakan bom yang sangat meresahkan masyarakat. Sehingga tidak salah dalam teori stimulus respons, media merupakan komunikator yang memberikan stimulus kepada komunikan, dalam hal ini adalah masyarakat luas atau publik. Artinya media memegang peran krusial dalam menciptakan respons positif dan negatif di masyarakat.

Pesan-pesan yang disampaikan oleh media massa akan mudah diterima oleh masing-masing individu menurut porsi mereka sendiri. Mulai dari memilih dan memilah, interpretasi, bahkan sampai dalam hal mengingatnya.

Masing-masing individu mempunyai sifat dan karakteristik tertentu yang berbeda satu sama lainnya dan hal ini yang menyebabkan terjadinya kontras perbedaan tanggapan atau respons dari tiap-tiap individu itu yang juga akan menanam sikap dan perilaku yang berbeda-beda pula.

Respons dalam hal ini dapat diasumsikan merupakan perubahan sikap yang terjadi pada komunikan berdasar stimulus atau rangsangan yang diterima. Proses perubahan sikap ini dapat terjadi atau dapat berubah hanya jika stimulus yang diberikan benar-benar baik. Dalam hal ini berita yang tersebar di berbagai media, sebagian ada yang telah berhasil menyuntik persepsi mereka dalam membentuk perubahan nilai dan sikap.

Persepsi itu merupakan sesuatu yang relatif dan bisa berubah arah tergantung bagaimana kondisi yang terjadi. Persepsi publik dapat di-scan dan diformat sesuai dengan fenomena sosial yang terjadi serta berita yang berkembang.

Salah satu faktor utama pembentuk persepsi publik tentu saja adalah media massa. Media massa mempunyai gaya dan karakteristiknya masing-masing dalam menentukan redaksional kata untuk penulisan sebuah artikel berita. Dan terkadang interpretasi setiap media massa terhadap sebuah konten berita tertentu cenderung berbeda. Contohnya terhadap kasus teror di Indonesia.

Masyarakat tidak akan luput dengan fenomena bermedia yang sampai saat ini persepsi terhadap pesan di media massa, menjadi hal penting untuk dikaji lebih jauh.

Alport (dalam Mar’at, 1991) menyebut, proses persepsi merupakan suatu proses kognitif yang dipengaruhi oleh eksperiensi, cakrawala, dan pengetahuan individu. Persepsi merupakan pengalaman yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi atau pesan. Ia terjadi setelah tahap sensasi berlangsung dan bersifat subjektif-individual.

Pandangan seseorang terhadap sesuatu yang akan membuat respons bagaimana dan dengan apa orang tersebut akan bertindak melakukan sesuatu. Dengan demikian persepsi yang dimunculkan melalui pemberitaan mengenai aksi teror sangat memungkinkan untuk mengubah persepsi masyarakat pada ikhwal intimidasi dan lain sebagainya. Artinya, bahwa dalam gambar-gambar yang muncul di televisi atau pun di foto media cetak akan melahirkan citra atau bayangan yang membentuk perubahan warna persepsi masyarakat, khususnya dalam tekanan atau ancaman pada kehidupan bermasyarakat.

Isu yang terjadi itu lebih menggiurkan dan merangsang daripada berita-berita seperti sepak bola atau kecelakaan yang sepertinya setiap hari diberitakan. Hal ini apabila menjadi menu santapan yang paling lezat dalam memberitakan pada media massa dan sajian dalam pemberitaan terlalu berlebihan tentu akan sangat berdampak terhadap masyarakat, yaitu salah satunya membentuk suasana horor dalam pikiran dan membuat masyarakat trauma.

Dewasa ini, kebebasan pers yang tidak terkendali dikhawatirkan semakin menjadi ancaman serius bagi masyarakat. Dengan dalih kebebasan pers, semakin banyak penampilan media yang cenderung merusak moral dan membentuk persepsi buruk. Publikasi foto-foto vulgar dan mengerikan di media massa misalnya kini sudah dianggap lumrah, karena itu dianggap bagian dari kebebasan pers. Namun persoalan berikutnya dari efek kebebasan pers ini muncul krisis moral dan kegersangan spiritual serta lunturnya keberanian yang semakin memprihatinkan di masyarakat.

Masyarakat dan Kepercayaan

Secara universal, dapat dipastikan bahwa tidak ada masyarakat yang tidak terjamah oleh media massa. Karena itu menjadi lumrah apabila stimulus media massa pada masyarakat terasa. Media massa dengan segala kelengkapannya bukan lagi merupakan kebutuhan masyarakat modern. Ia adalah detak jantung kesadaran manusia dalam kehidupannya.

Masyarakat yang setiap harinya dijejali oleh berita aksi teror di media massa, tentu hal ini akan membentuk kepercayaan pada setiap individu atau masyarakat. Kepercayaan merupakan kondisi mental yang didasarkan oleh situasi seseorang dan konteks sosialnya. Ketika seseorang mengambil suatu keputusan, ia akan lebih memilih keputusan berdasar pilihan dari orang-orang yang lebih dapat ia percaya daripada yang kurang dipercayai (Moorman, 1993).

Dalam munculnya berita-berita yang sangat mempengaruhi masyarakat, tentu setiap orang akan membentuk suatu kepercayaan dari rekam jejak pemberitaan tersebut.

Pengaruh pemberitaan tersebut apabila berlebihan akan sangat berbahaya pada masyarakat dan kepercayaan mereka terhadap dampak berita tersebut membuat munculnya suatu tata nilai dalam hidupnya. Nilai merupakan anasir evaluatif dari suatu kepercayaan. Kemudian nilai melembaga pada tradisi-tradisi tertentu membentuk suatu sikap. Sehingga nilai bersifat stabil dan sulit berubah.

Situasi di Bulan Ramadan

Bulan Ramadan telah tiba. Bulan yang penuh berkah, namun kekhawatiran akan terus terbentuk apabila media masih secara jelas melanggar pedoman peliputan terorisme melalui Peraturan Dewan Pers Nomor 01/Peraturan–DP/IV/2015. Sehingga mereka yang melakukan ibadah puasa terbatas dan terpenjara oleh ketakutan yang diketahuinya dari media. Seperti halnya informasi tentang waspada mengunjungi tempat-tempat tertentu. Ini akan sangat memengaruhi masyarakat dalam menjalani kehidupannya di bulan puasa.

Mereka yang seharusnya mencari ketenangan justru merasa bahwa mereka tidak akan aman dan jauh dari ketenteraman dalam menikmati bulan suci ini. Stimulus yang membentuk persepsi demikian tentu bukan harapan untuk lebih mendekatkan diri atau takut pada Tuhan. Justru itu bisa jadi pengganggu dalam al-imsak saat-saat bulan Ramadan dan muncul sifat keraguan dalam dirinya.

Situasi ini juga menjadi tidak nyaman didengar dan dilihat, ketika pengaruh itu sampai merangsang anak-anak kecil. Sebab bermain kembang api di saat bulan puasa menjadi kebanggaan tersendiri bagi anak-anak. Sehingga apabila media tidak menyaring berita dengan baik, maka akan ada sesuatu yang tidak diinginkan.

Maka media massa harus berhati-hati dalam mengunggah sebuah informasi, karena apa yang dianggap prioritas oleh media menjadi prioritas juga bagi publik atau masyarakat. Media seyogianya bukan memengaruhi pikiran masyarakat dengan menginformasikan apa yang mereka pikirkan dan apa saja ide atau nilai yang mereka miliki. Namun memberi tahu ikhwal dan isu yang harus dipikirkan bersama. Masyarakat luas masih bertendensi menilai bahwa yang disampaikan melalui media massa adalah hal yang memang layak untuk dijadikan isu bersama dan menjadi cakupan ranah publik. Sehingga muncul stereotip yang membuat kekacauan dalam memahami sesuatu akibat information overload. Semoga berita yang terpublikasi dapat menyadarkan masyarakat akan bahaya terorisme. Semoga.(*)

*) Mahasiswa FISIP Universitas Muhammadiyah Malang.

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia