Selasa, 15 Oct 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Refleksi

Istithaah Kesehatan Haji Indonesia

Oleh: Syafaat MHI*

23 Mei 2018, 20: 20: 08 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

Istithaah Kesehatan Haji Indonesia

Share this          

SEBAGAI Ketua kloter dengan jumlah kematian jamaah haji tertinggi se-Embarkasi Surabaya tahun 2017 (enam orang dalam satu kloter), saya merasakan benar, bagaimana beratnya harus mengawal jamaah haji dengan risiko tinggi tersebut. Sehingga diusahakan benar-benar sempurna dalam melaksanakan Rukun Islam kelima yang mungkin menjadi impian setiap muslim di dunia.

Kondisi Negara Saudi Arabia yang ekstrem dengan suhu yang cukup tinggi, mengakibatkan banyaknya jamaah haji yang mengalami sakit dan kelelahan. Hal ini diperparah dengan kondisi banyaknya jamaah yang uzur dan sakit sebelum berangkat ke Tanah Suci. Bahkan ada jamaah haji yang sakit parah dan saat berangkat juga mengalami sakit parah, sehingga setiba di Saudi Arabia harus langsung dimasukkan ke rumah sakit, pelaksanaan ibadah hajinya pun  harus dibadalkan.

Prosedur terhadap penanganan jenazah bagi jamaah haji yang meninggal dunia sangat berbeda dengan penanganan jenazah yang terjadi di kampung-kampung, di mana orang yang meninggal dunia dengan mudah dapat segera diurus oleh warga sekitar. Hal ini berkaitan dengan penanganan administrasi di mana Jamaah Haji Indonesia yang datang ke Saudi Arabia berstatus sebagai warga asing yang harus tunduk terhadap hukum yang berlaku di Saudi Arabia.

Begitu juga dengan penanganan pada Rumah Sakit Arab Saudi yang standar pelayanannya berbeda dengan standar pelayanan yang ada di Indonesia. Meskipun jamaah haji dan keluarga rela jika jamaah tersebut meninggal saat melaksanakan ibadah haji, bahkan tidak sedikit yang berdoa agar dapat wafat saat melaksanakan ibadah haji, namun hal ini dapat mengganggu kekhusyukan jamaah haji lainnya.

Hal ini karena dalam pelaksanaan ibadah haji tersebut, pemerintah Saudi Arabia sangat ketat dalam pengaturan jamaah. Sehingga pada musim haji diterapkan aturan bahwa hanya jamaah haji yang dapat berada di lokasi pelaksanaan ibadah Haji.

Dengan banyaknya jamaah yang uzur dan sakit pada suatu regu dan rombongan, akan menambah beban bagi jamaah lainnya. Karena ketika di penginapan dan tempat-tempat pelaksanaan ibadah haji, hanya sesama jamaah dan petugas yang dapat menolong.

Menunaikan ibadah haji merupakan salah satu impian setiap muslim, terutama muslim di Indonesia di mana bagi yang sudah mendaftar harus menunggu bertahun-tahun. Bahkan hingga antre lebih dari 20 tahun untuk bisa berangkat menunaikan ibadah haji sesuai dengan impiannya.

Tanpa terkecuali calon jamaah haji wilayah Provinsi Jawa Timur yang berangkat tahun ini rata-rata telah menunggu hampir delapan tahun untuk bisa berangkat. Hal ini disebabkan pada usia tersebut banyak jamaah haji yang mampu (istithaah) secara material untuk melaksanakan Ibadah haji. Meski secara materi mampu/ istithaah untuk berangkat haji, dengan bukti dapat melunasi BPIH sesuai dengan ketentuan, ketentuan istithaah juga sangat penting dari segi kesehatan.

Tidak sedikit calon jamaah haji yang berusia lanjut baru dapat berangkat haji. Hal ini karena Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) dari jamaah haji tersebut baru dapat terkumpul setelah yang bersangkutan sudah berusia tua. Beberapa di antaranya dapat berangkat haji dengan sokongan dana dari anak-anaknya. Hal ini mengakibatkan jamaah yang mendaftar di usia tua tersebut akan semakin tua saat yang bersangkutan berangkat haji.

Meskipun ada kebijakan dari pemerintah untuk memprioritaskan jamaah haji usia lanjut, namun kuotanya sangat terbatas.

Peraturan menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2016 tentang Istithaah Kesehatan Calon Jamaah Haji Indonesia yang secara tegas mengatur tentang kemampuan seseorang ditinjau dari segi kesehatan untuk melaksanakan ibadah haji, mulai diterapkan tahun ini. Sehingga diharapkan jamaah haji yang dinyatakan memenuhi persyaratan kesehatan tersebut dapat melaksanakan ibadah hajinya dengan sempurna. Hal ini dilakukan untuk mengurangi angka kematian dari pelaksanaan ibadah haji.

Ibadah haji sebagai rukun Islam yang kelima hanya dapat dilaksanakan di Makkah dan dalam waktu dan tempat tertentu. Pelaksanaan ibadah haji adalah ibadah yang dilakukan secara fisik, sehingga dibutuhkan tenaga yang cukup untuk dapatnya melaksanakan ritual tersebut. Terlebih dengan kondisi lingkungan yang berbeda, bahasa yang berbeda, serta cuaca yang sangat berbeda dengan Indonesia, yang mengakibatkan banyaknya jamaah haji (terutama yang kesehatannya kurang fit) mendapat serangan sakit dari akibat cuaca panas tersebut.

Orang yang sudah mampu/istithaah secara materi dan belum mampu dari segi kesehatan dapat ditunda keberangkatannya hingga mampu. Namun bagi yang tidak mampu selamanya dari segi kesehatan, secara syar’i telah gugur kewajibannya untuk melaksanakan ibadah haji, sehingga ibadah hajinya dapat dibadalkan kepada orang lain.(*)

*) Staf Kemenag Banyuwangi

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia