Selasa, 12 Nov 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Refleksi

Menyongsong Indonesia Emas 2045

Oleh: Yogi Pratama*

12 Mei 2018, 06: 10: 59 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

Menyongsong Indonesia Emas 2045

Share this          

DISKURSUS mengenai Indonesia Emas muncul di ruang publik ketika M. Nuh selaku Mendikbud kala itu, memberikan sambutan di peringatan Hardiknas tahun 2012 tentang ’bangkitnya generasi emas’. Indonesia Emas 2045 berkaitan dengan kondisi Indonesia pada saat usia 100 tahun. Di mana banyak pengamat memprediksi bahwa pada tahun 2045 Indonesia akan menjadi negara maju, mampu bersaing dengan negara-negara lain, serta terlepas dari persoalan-persoalan klasik, seperti kemiskinan, pengangguran, kesenjangan ekonomi, korupsi, dan intoleransi. 

Indonesia Emas 2045 beririsan dengan bonus demografi pada tahun 2020-2035. Pada periode ini, jumlah usia produktif (usia 15-64) mencapai 70 persen dan usia nonproduktif (usia 0-14 tahun dan usia 65 tahun ke atas) mencapai 30 persen. Artinya, ketergantungan penduduk (dependency ratio) cenderung lebih rendah dan akan terjadi kenaikan jumlah angkatan kerja potensial yang tinggi. Hal ini mencerminkan struktur demografi bangunan bangsa yang kukuh. Bahkan laporan World Bank (2012) memprediksi dengan keuntungan bonus demografi, pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih baik daripada China pada tahun 2045.

Tetapi di sisi lain, bonus demografi juga bisa menjadi ancaman bagi Indonesia jika tidak dipersiapkan dengan baik. Jati mengatakan (2015 : 35) bahwa bonus demografi tidak akan memberikan dampak yang signifikan ketika negara tidak melakukan investasi sumber daya manusia bahkan bisa berubah menjadi gelombang pengangguran masal yang akan menambah beban anggaran negara.

Fenomena yang terjadi saat ini, jumlah lapangan kerja yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah angkatan kerja yang sedang mencari kerja. Jika fenomena tersebut dibiarkan dan tidak segera dicarikan solusinya, maka bonus demografi bisa dipastikan menjadi bencana dan bukan tidak mungkin cita-cita atau narasi tentang Indonesia Emas 2045 akan menjadi sebuah ilusi saja.

Defisit Wirausaha

Indonesia sejauh ini berusaha melakukan pembangunan ekonomi untuk meningkatkan taraf hidup masyarakatnya. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa tingkat kehidupan sebagian besar masyarakat Indonesia masih tertinggal jauh dari negara-negara maju. Hal ini karena ada berbagai permasalahan yang dihadapi oleh negara kita. Selain menghadapi permasalahan modal, salah satu permasalahan mendasar yang dihadapi adalah ketersediaan manusia-manusia unggul yang memiliki semangat dan mental kewirausahaan/entrepreneur.

Menurut David McClelland (dalam Frinces, 2011 : 4) bahwa salah satu syarat suatu negara untuk menjadi negara maju diperlukan minimal 2 persen dari jumlah penduduknya adalah entrepreneur (wirausaha). Saat ini, jumlah wirausaha di Indonesia mengalami peningkatan dari 1,6 persen menjadi 3,1 persen. Meskipun mengalami peningkatan, akan tetapi masih tertinggal jauh dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Jepang, Singapura, Jerman, Swiss, dan Amerika.

Berdasar survei yang dilakukan Global Entrepreneurship Monitor (GEM) menunjukkan bahwa keinginan berwirausaha masyarakat Indonesia sebenarnya tertinggi kedua di ASEAN setelah Filipina. Selain itu, menurut Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI (2017) bahwa pada tahun 2030, jumlah penduduk usia produktif diperkirakan di atas 60 persen dan 27 persen di antaranya adalah penduduk muda yang berpotensi menjadi wirausaha.

Indonesia harus bercermin pada pertumbuhan ekonomi Filipina. Mengapa ekonomi Filipina stuck di middle income trap? Jawabannya adalah karena jumlah entrepreneur-nya tidak berkembang. Selain itu, negara-negara yang terjebak dalam low level equilibrium trap disebabkan oleh tidak dimilikinya program untuk mengembangkan sumber daya manusia khususnya pengembangan wirausaha. Pengembangan wirausaha terutama wirausaha-wirausaha baru masih terjebak oleh masalah budaya dan birokrasi pemerintah, seperti perizinan usaha, perkreditan, dan infrastruktur.

Menurut Yusuf dkk (2005), ada empat alasan mengapa wirausaha penting dalam masyarakat. Pertama, untuk mendayagunakan faktor-faktor memproduksi seperti tanah, modal, teknologi, informasi, dan berbagai sumber daya manusia (SDM) di dalam memproduksi tugas-tugas yang efektif (producing effective tasks).

Kedua, mengidentifikasi berbagai peluang di dalam lingkungan dengan meningkatkan aktivitas yang akan memberikan manfaat kepada setiap orang (beneficial to everyone).

Ketiga, untuk memilih pendekatan yang terbaik dalam mendayagunakan semua faktor produksi agar meminimalkan pemborosan dalam berbagai kegiatan kewirausahaan (minimize wastage in entrepreneurial activities).

Keempat, untuk kemanfaatan generasi mendatang (benefit of the future generation). Pentingnya wirausaha di dalam masyarakat tersebut tidak sekadar menjadi ’alat’ untuk melakukan perbaikan dan perubahan di dalam kualitas hidup.

Karena itu, atas beberapa peluang yang ada dan bercermin pada ekonomi negara lain yang stuck di middle income trap maka, salah satu langkah yang harus dilakukan pemerintah adalah mendorong terciptanya wirausaha sebanyak mungkin supaya pemuda-pemuda yang saat ini digadang-gadang menjadi generasi emas 2045 dapat terwujud dan terhindar dari bencana pengangguran masal yang menyebabkan kemiskinan.

Ekonomi Digital

Saat ini, keberadaan internet tidak lagi menjadi pilihan tetapi menjadi keharusan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Survei We Are Social (2017) pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta atau 51 persen dari total populasi. Angka itu mengalami pertumbuhan 51persen atau 45 juta pengguna dalam kurun waktu setahun. Indonesia berada di posisi teratas diikuti Filipina dan Mexico yang tumbuh sebesar 27 persen. Dari jumlah itu, sebanyak 106 juta (40 persen) orang aktif di media sosial.

Meluasnya pengguna internet ini telah memunculkan peluang bisnis model baru yang disebut ekonomi digital. Secara sederhana ekonomi digital adalah aktivitas ekonomi yang memanfaatkan teknologi digital. Menurut Alaerds (2017) the term digital economy refers to an economic model and society that is driven by computer technology. Perdagangan online (e-commerce), layanan keuangan digital atau (Fintech), dan bisnis rintisan berbasis teknologi (startup) merupakan buah dari era digital.

Menariknya, yang memelopori perusahaan berbasis digital ini para pemuda yang memiliki semangat sociopreneurship. Mereka termotivasi untuk menyelesaikan berbagai masalah yang ada di masyarakat serta memberikan dampak yang signifikan lewat teknologi. Misalnya, Nadiem Makarim mendirikan Go-Jek untuk mempermudah masyarakat dalam mendapatkan moda transportasi ojek yang cepat dengan biaya murah. Berkat Nadiem Makarim, ribuan orang mempunyai pekerjaan dengan menjadi mitranya.

Contoh lain adalah William Tanuwijaya, CEO Tokopedia yang awalnya punya visi untuk mempermudah orang agar dapat memulai bisnis mereka sendiri lewat medium internet. Berkat William Tanuwijaya, orang-orang di pelosok desa bisa menjual barangnya sendiri kepada konsumen tanpa melalui perantara pihak ketiga.

Di era disruption, dalih Darwin kiranya perlu didengungkan kembali bahwa yang mampu bertahan bukan yang besar, akan tetapi yang mampu beradaptasi dengan zaman. Artinya, untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 pemerintah perlu mendorong generasi muda menjadi entrepreneur. Apalagi di era digital, peluang menjadi wirausaha terbuka lebar bagi pemuda dengan bekal kreativitas dan inovasi yang dimilikinya. Menjadi wirausaha berarti berpeluang untuk menciptakan lapangan kerja, meningkatkan daya beli masyarakat, mengurangi jumlah pengangguran, dan menurunkan angka kemiskinan. (*)

*) Peneliti di Pusat Studi Kemiskinan Daerah (Pustakada)

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia