Senin, 24 Sep 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Banyuwangi

25 Ribu Benur Lolos di Tiga Pelabuhan

Selundupan dari NTB, Tertangkap di Ketapang

Rabu, 09 May 2018 21:45 | editor : Ali Sodiqin

SENILAI RP 1,2 M:  Barang bukti ribuan benih baby lobster  yang dikemas dalam kantong plastik diamankan di Mapolres Banyuwangi

SENILAI RP 1,2 M: Barang bukti ribuan benih baby lobster yang dikemas dalam kantong plastik diamankan di Mapolres Banyuwangi (Dedy Jumhardiyanto/RaBa)

KALIPURO  –  Meski dilarang pemerintah, jual-beli benur (anak lobster) masih tetap marak. Praktik penyelundupan benur pun masih terjadi di berbagai daerah, termasuk di Banyuwangi.

Yang terbaru adalah terbongkarnya penyelundupan benur dari NTB senilai Rp 1,2 miliar. Tak tanggung-tanggung, sebanyak 25 ribu benur diamankan dari seorang sopir truk boks di pintu keluar ASDP Ketapang, kemarin.

Sebelum tertangkap di Ketapang, kendaraan pengangkut benur tersebut lolos setelah melewati tiga pelabuhan. Yakni, Pelabuhan Lembar, Padangbai, dan Gilimanuk.     

Ribuan baby lobster tersebut dikemas dalam dua kardus masing-masing berisi 50 plastik. Tiap kantong plastik yang diisi air dan oksigen tersebut berjumlah 250 ekor benur. Barang itu diangkut boks tertutup kendaraan Mitsubishi Volt FE 748 dengan nomor polisi B 9175 PCC dari Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) menuju Banyuwangi.

Sopir boks ekspedisi yang mengangkut bayi lobster, Dartomo, 52, warga Desa Gumayun, Kecamatan Dukuh Waru, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, diamankan dan ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut.

Kapolres Banyuwangi AKBP Donny Adityawarman mengatakan, pengungkapan kasus tersebut terjadi pada Minggu (6/5), pukul 17.15. Boks yang hendak pulang menuju Jawa Tengah dihentikan petugas dan dilakukan penggeledahan saat hendak melintasi pintu keluar Pelabuhan ASDP Ketapang.

”Saat digeledah petugas, isi dalam kardus rokok berukuran besar itu ternyata kantong plastik yang berisi air dan bayi lobster,” ungkap Kapolres Donny.

Mendapati peristiwa itu, anggota Polsek Kawasan Pelabuhan Tanjungwangi (KPT) langsung mengamankan sopir dan mobil boks tersebut. Dari hasil interogasi petugas, Dartomo selaku sopir angkutan mengaku tidak tahu menahu. Dia hanya dijanjikan bakal ditemui seseorang setelah keluar dari Pelabuhan Ketapang.

”Komunikasi dilakukan melalui telepon. Selepas keluar dari pelabuhan yang menghubungkan Selat Bali, janjinya tersangka bakal dihubungi oleh pemilik bayi lobster tersebut. Ternyata  selang sehari pasca-penangkapan orang yang dimaksud tidak  menghubungi,” beber mantan Kasat Narkoba Polresta Surabaya itu.

Benur lobster yang diangkut sopir ekspedisi ini sempat lolos dari pemeriksaan petugas di Pelabuhan Lembar, Lombok, NTB dan Pelabuhan Padangbai, Karangasem, Bali. Bahkan ketika memasuki Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali, nasib Dartomo masih aman.     Namun, ketika hendak keluar pelabuhan ASDP Ketapang, nasibnya kurang beruntung karena kedapatan aksi razia petugas. ”Sopir ini tahu jika yang diangkut adalah bayi lobster. Karena saat berada di Bali sempat mengisi oksigen ke dalam kantong plastik yang di dalamnya berisi bayi lobster tersebut. Jadi sopirnya kita tahan dan kami tetapkan sebagai tersangka,” kata Kapolres.

Sebagai jasa angkut, sedianya sang sopir akan mendapatkan imbalan sebesar Rp 1,5 juta. Rencananya bayi lobster campuran jenis pasir dan mutiara ini akan diturunkan di dekat SPBU di utara Pelabuhan ASDP Ketapang.

Lokasi itu disebut oleh tersangka menjadi titik transaksi bongkar muat. ”Mengenai siapa pemesan dan pemilik lobster tersebut, hingga kini masih misterius dan dalam penyelidikan petugas,” tandas Donny.

(bw/ddy/als/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia